News

/

Artikel, Latest News

Ketika Zat Pewarna-Batik Meninggalkan Jejak di DNA Sel Pipi

Sudah lebih dari lima tahun para pekerja itu berdiri di antara bak-bak celup yang mengepulkan uap berwarna pekat. Tangan mereka terlatih, napas mereka terbiasa. Tapi di lapisan terdalam rongga mulut mereka, sesuatu berubah — diam-diam, tanpa gejala yang kasat mata.

Itulah yang mendorong Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, peneliti dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, untuk mengarahkan perhatian ilmiahnya ke arah yang tidak biasa: sel epitel bukal — sel-sel tipis yang melapisi pipi bagian dalam — dari para pengrajin batik yang setiap harinya terpapar senyawa azo, bahan pewarna sintetis yang menjadi tulang punggung industri batik modern.

Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal internasional F1000Research pada Agustus 2020, dengan judul Characterization of buccal cell DNA after exposure to azo compounds: a cross-sectional study.

Zat Warna yang Tak Sekadar Memberi Warna

Senyawa azo bukan bahan asing di dunia tekstil. Ditandai oleh gugus fungsional -N=N- yang terikat pada cincin benzena, zat ini menghasilkan warna-warna cerah yang tahan lama. Namun justru struktur benzena itulah yang menjadi masalah: sulit terurai, mudah terakumulasi, dan dalam paparan jangka panjang bersifat karsinogenik serta mutagenik.

Penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa paparan azo selama lebih dari lima tahun meningkatkan frekuensi mikronukleus, karyolisis, dan piknosis pada sel epitel mukosa bukal — semua penanda kerusakan sel yang dikenal dalam sitologi eksfoliatif. Ekspresi sitokeratin 5 dan 19 juga terbukti meningkat. Namun satu pertanyaan belum terjawab: bagaimana profil DNA-nya sendiri?

Di sinilah penelitian Handajani dan tim mengisi celah itu.

Dari Bak Celup ke Tabung Sentrifus

Tim peneliti merekrut 20 laki-laki, dibagi rata: sepuluh pekerja bagian pewarnaan di industri batik Yogyakarta yang telah terpapar azo minimal lima tahun, dan sepuluh orang kontrol dari kalangan mahasiswa serta staf FKG UGM yang tidak memiliki riwayat paparan serupa. Semua subjek dipilih dengan ketat — usia 18 hingga 45 tahun, status kebersihan mulut (OHI-S) dalam kategori baik, dan tidak mengonsumsi alkohol maupun memakai alat ortodontik.

Pengambilan sampel dilakukan langsung di lokasi pabrik batik dan di lingkungan kampus. Sel bukal diambil menggunakan swab steril dengan gerakan memutar 360 derajat pada mukosa pipi, lalu disimpan dalam mikrotub berisi PBS dan segera dibawa ke laboratorium. DNA diisolasi menggunakan kit komersial, kemudian dikarakterisasi melalui dua metode: elektroforesis gel agarosa dan spektrofotometer.

Hasilnya berbicara dengan cara yang tidak dramatis, tapi bermakna.

“Karakteristik DNA dapat digunakan sebagai indikasi paparan senyawa azo pada pekerja industri batik.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dalam kesimpulan publikasi

Pada elektroforesis, pita DNA berbobot molekul tinggi hanya muncul pada kelompok terpapar azo. Konsentrasi DNA pada kelompok ini rata-rata 59,02 ng/µL, hampir tiga kali lipat dibanding kelompok kontrol yang hanya 19,35 ng/µL. Kemurnian DNA pada kelompok terpapar juga lebih tinggi, meski dengan variasi yang lebih besar — standar deviasi yang melampaui nilai rata-rata itu sendiri. Variasi inilah yang justru menarik: mengisyaratkan bahwa paparan azo memengaruhi DNA secara tidak seragam, kemungkinan besar karena kerusakan DNA yang bervariasi antarindividu.

Ketika Matematika Memisahkan yang Tak Terlihat Mata

Untuk mengonfirmasi perbedaan yang tidak cukup signifikan secara statistik konvensional, tim menggunakan analisis komponen utama atau principal component analysis (PCA) — pendekatan kemometrik yang mampu memvisualisasikan pola tersembunyi dalam data multivariabel.

Hasilnya tegas: melalui plot skor PC1 dan PC2, kelompok terpapar dan kelompok kontrol terpisah dengan jelas. Konsentrasi DNA adalah variabel yang paling besar kontribusinya dalam pemisahan tersebut. Artinya, meski uji statistik konvensional belum menunjukkan perbedaan signifikan, pola keseluruhan data sudah cukup kuat untuk membedakan siapa yang terpapar dan siapa yang tidak.

Ini bukan sekadar temuan teknis. Ini membuka kemungkinan bahwa karakterisasi DNA sel bukal bisa menjadi alat skrining noninvasif untuk mendeteksi paparan bahan kimia berbahaya pada pekerja industri — tanpa biopsi, tanpa jarum suntik, cukup dengan usapan pada pipi bagian dalam.

Sebuah Awal, Bukan Akhir

Para peneliti sendiri menyebut ini sebagai studi pendahuluan. Mekanisme tepat bagaimana azo merusak DNA sel epitel bukal belum terungkap sepenuhnya. Apakah lewat mutasi frameshift seperti yang terjadi pada sel hepatoma HepG2 yang terpapar Disperse Orange 1? Apakah lewat apoptosis atau pemecahan untai DNA? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari penelitian lanjutan.

Yang sudah jelas adalah ini: para pengrajin batik yang bekerja tanpa gejala klinis apapun — mukosa mulut mereka tampak normal, kebersihan mulut mereka terjaga — ternyata menyimpan perubahan yang dapat dideteksi di tingkat molekuler. Tubuh mereka mencatat paparan itu, bahkan ketika mereka sendiri tidak merasakannya.

Penelitian ini didanai oleh Dana Masyarakat FKG UGM tahun 2019, dan melibatkan kolaborasi lintas departemen dengan Fakultas Farmasi UGM melalui kontribusi Prof. Abdul Rohman dalam aspek kemometrik dan analisis data.

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.25798.1

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
14 July 2026

Instrumen Banyak File Terbukti Lebih Bersih Bersihkan Ujung Akar Gigi

14 July 2026

Dari Yogyakarta ke Chennai: Ilmuwan FKG UGM Bicara di Panggung Bioseramik Asia

14 July 2026

Senyum Manis & Sehat Tak Cukup, Bumi pun Harus Turut Tersenyum Lestari

en_US