News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Ketika Pulpa Gigi Susu Menyimpan Kunci Regenerasi Jaringan

Sel punca dari pulpa gigi susu anak-anak ternyata menyimpan mekanisme molekuler yang jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan. Sebuah studi yang dipublikasikan di Experimental and Therapeutic Medicine (2021) mengungkap temuan mengejutkan: fibroblast growth factor 2 (FGF2), faktor pertumbuhan yang selama ini dikenal sebagai pemain utama dalam perkembangan gigi dan perbaikan dentin, ternyata mampu menekan ekspresi sitokin inflamasi CCL11 melalui jalur sinyal spesifik di dalam sel punca mesenkim asal pulpa gigi manusia. Salah satu peneliti yang terlibat dalam analisis molekuler studi ini adalah drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D, staf akademik Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM.

Sel Punca dari Gigi yang Tanggal

Gigi susu yang tanggal bukan sekadar kenangan masa kecil. Jaringan pulpa di dalamnya mengandung sel punca mesenkim yang relatif mudah diisolasi dibandingkan sumber sel punca lain seperti sumsum tulang atau jaringan adiposa. Keunggulan ini menjadikan sel punca asal pulpa gigi desidui sebagai kandidat menarik dalam pengembangan terapi regeneratif.

Dalam studi ini, tim peneliti dari Universitas Tokushima dan Tokyo Medical and Dental University menggunakan lini sel SDP11, yang sebelumnya diisolasi dari pulpa gigi susu tiga anak sehat berusia 6 hingga 8 tahun. Sel-sel ini kemudian dipapar FGF2 dengan berbagai konsentrasi dan durasi, lalu dianalisis ekspresi sitokinnya menggunakan teknik RT-qPCR berbasis PrimerArray yang mencakup 88 gen sitokin sekaligus.

Hasilnya tidak terduga. Dari seluruh sitokin yang terdeteksi berekspresi di sel SDP11, hanya CCL11 yang secara konsisten ditekan oleh FGF2, baik bergantung waktu maupun dosis. Penekanan bermakna mulai terjadi setelah 12 jam paparan dan pada konsentrasi FGF2 minimal 10 ng/ml.

CCL11: Sitokin Peradangan yang Juga Faktor Penuaan

CCL11, dikenal pula sebagai eotaxin, bukan sitokin sembarangan. Ia adalah kemoatraktan spesifik eosinofil yang berperan dalam kondisi inflamasi dan alergi seperti asma. Lebih dari itu, kadar CCL11 yang meningkat dalam plasma dan cairan serebrospinal pada hewan tua berkorelasi dengan penurunan neurogenesis, sebuah temuan yang menempatkan CCL11 sebagai salah satu faktor penuaan biologis.

Dalam konteks jaringan gigi, studi lain yang dikutip peneliti menemukan bahwa pemberian antibodi penekan CCL11 dapat meningkatkan regenerasi pulpa dengan cara mengurangi jumlah makrofag M1 (tipe inflamasi) dan memperbaiki rasio M1/M2. Artinya, mengendalikan CCL11 bukan sekadar urusan meredam peradangan, melainkan juga membuka jalan bagi regenerasi jaringan yang lebih efektif.

“Temuan ini mengindikasikan bahwa regulasi FGF2 terhadap ekspresi CCL11 melalui sel punca mesenkim asal pulpa gigi memiliki efek anti-inflamasi dan mendukung regenerasi jaringan.”

Pernyataan ini menjadi inti dari implikasi studi, menegaskan bahwa FGF2 bukan hanya faktor proliferasi sel, tetapi juga modulator lingkungan mikro inflamasi di sekitar sel punca.

Jalur JNK: Kunci di Antara Tiga Jalur Sinyal

Bagian paling menarik dari studi ini terletak pada identifikasi jalur sinyal yang bertanggung jawab. FGF2 diketahui mengaktifkan beberapa jalur MAPK sekaligus, termasuk p38 MAPK, ERK1/2, dan JNK (c-Jun N-terminal kinase). Pertanyaannya: jalur mana yang menjadi perantara penekanan CCL11?

Peneliti menguji ketiga jalur tersebut menggunakan inhibitor spesifik masing-masing. Ketika inhibitor JNK (SP600125) diberikan, penekanan CCL11 oleh FGF2 hilang sepenuhnya. Sementara inhibitor p38 MAPK (SB203580) dan inhibitor MEK/ERK (U0126) tidak memberikan efek serupa.

Kesimpulannya tegas: jalur FGF2/FGFR/JNK adalah perantara spesifik yang memediasi penekanan ekspresi CCL11 di sel punca mesenkim pulpa gigi manusia. Temuan ini, menurut para peneliti, merupakan yang pertama kali dilaporkan dalam konteks sel punca asal pulpa gigi.

Dari Eksperimen Sel ke Klinik: Jarak yang Masih Harus Ditempuh

Para peneliti dengan jujur mengakui keterbatasan studi ini. Penggunaan lini sel sebagai model sel punca mesenkim manusia memiliki batasan tersendiri dibandingkan kultur sel primer atau model hewan hidup. Validasi lebih lanjut menggunakan model in vivo masih diperlukan sebelum temuan ini dapat diterjemahkan ke aplikasi klinis.

Meski demikian, peta molekuler yang dihasilkan studi ini memberi fondasi penting. Pemahaman tentang bagaimana FGF2 memodulasi lingkungan sitokin di sekitar sel punca pulpa membuka peluang baru dalam desain terapi regenerasi pulpa, khususnya pada pasien dengan kondisi inflamasi kronis atau pulpitis ireversibel. Dalam kondisi terakhir ini, penelitian lain yang dikutip menunjukkan bahwa ekspresi FGF justru menurun sementara CCL11 melonjak, sebuah gambaran yang kini mulai terbaca lebih utuh.

Gigi susu yang dulu sekadar ditaruh di bawah bantal sambil menunggu hadiah dari peri gigi, ternyata menyimpan biomolekul yang suatu hari bisa menjadi bagian dari terapi regeneratif masa depan.

Sumber DOI : http://10.3892/etm.2021.10791

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US