News

/

Artikel, Latest News

Ketika-Pulpa-Gigi-Bisa-Pulih-Komposit-Baru-dari-UGM-Tunjukkan-Harapan-Regenerasi

Angka itu cukup mengejutkan: 92,6 persen anak Indonesia usia 5–9 tahun mengalami karies gigi. Ketika gigi berlubang dibiarkan, bakteri merangsek masuk ke jaringan pulpa, memicu peradangan yang jika tidak ditangani bisa berakhir pada kematian jaringan. Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana menghentikan kerusakan, melainkan apakah pulpa yang terluka masih bisa diajak kembali hidup.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, memimpin sebuah penelitian yang mencoba menjawab pertanyaan itu dengan pendekatan yang tidak biasa: merancang material komposit baru yang mampu mengantarkan kalsium hidroksida secara terkontrol ke jaringan pulpa yang terbuka, sekaligus memantau respons regenerasinya melalui penanda molekuler bernama Nestin.

Masalah Lama dengan Solusi yang Belum Sempurna

Kalsium hidroksida, atau Ca(OH)₂, sudah lama menjadi andalan dalam perawatan pulpa terbuka. Bahan ini dipakai untuk pulp capping langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan memicu pembentukan dentin reparatif dan mempertahankan vitalitas pulpa. Namun di balik rekam jejak panjangnya, Ca(OH)₂ menyimpan sejumlah kelemahan yang tidak bisa diabaikan.

pH-nya yang sangat basa, berkisar antara 11 hingga 12, justru berpotensi memicu nekrosis jaringan pulpa. Dalam lingkungan lembap seperti rongga gigi, pelepasan mineral dari Ca(OH)₂ berlangsung terlalu cepat dan tidak terkontrol, sehingga konsentrasinya anjlok drastis sebelum sempat bekerja optimal. Penggunaan jangka panjang bahkan dikaitkan dengan melemahnya struktur gigi dan meningkatnya risiko fraktur servikal.

Inilah titik berangkat penelitian yang dipublikasikan dalam Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences pada Juni 2024. Tim peneliti dari FKG UGM, bersama kolaborator dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Kebangsaan Malaysia, mengembangkan komposit gelatin-kitosan-TEOS-Ca(OH)₂ sebagai sistem penghantaran yang lebih cerdas.

Gelatin dipilih karena sifatnya yang bioaktif dan mampu mendukung pertumbuhan sel. Kitosan melengkapinya dengan kekuatan mekanik yang lebih tinggi, sifat antibakteri, serta kemampuan biodegradasi yang baik. Sementara itu, TEOS (tetraethyl orthosilicate) berperan sebagai silane crosslinker yang membentuk jaringan ikatan siloksan (Si-O-Si) pada permukaan partikel Ca(OH)₂, memperlambat pelepasannya agar berlangsung lebih bertahap dan terkontrol.

Nestin: Penanda Kecil yang Menyimpan Cerita Besar

Untuk mengukur apakah jaringan pulpa merespons positif terhadap material baru ini, penelitian menggunakan Nestin sebagai biomarker. Nestin adalah filamen intermediet yang menyusun sitoskeleton sel, dikenal sebagai penanda sel punca progenitor maupun sel saraf. Dalam konteks gigi, Nestin diekspresikan oleh odontoblas, sel-sel penjaga yang bertanggung jawab memproduksi dentin.

Yang menarik dari Nestin: ia tidak hadir di semua kondisi. Pada gigi dewasa yang sehat dan dentisinya sudah lengkap, ekspresi Nestin menghilang. Ia baru muncul kembali ketika ada rangsangan, baik berupa karies, trauma, maupun prosedur preparasi kavitas. Kemunculannya menjadi sinyal bahwa odontoblas sedang bereaksi, berdiferensiasi, dan berupaya membentuk dentin sekunder sebagai respons perlindungan.

Penelitian ini menggunakan 30 tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan yang mendapat komposit gelatin-kitosan-TEOS-Ca(OH)₂, dan kelompok kontrol yang hanya mendapat Ca(OH)₂ konvensional. Gigi molar pertama rahang atas masing-masing tikus dibuka hingga kedalaman pulpa menggunakan bur berlian No. 010, lalu ditutup dengan tambalan sementara. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 5, 7, dan 14 menggunakan metode imunohistokimia.

“Ekspresi Nestin positif yang lemah di sekitar pulpa yang teriritasi mengindikasikan proliferasi dan diferensiasi sel odontoblas serta sel-sel di dalam pulpa menuju regenerasi jaringan.”

Pernyataan ini mencerminkan temuan kunci penelitian: kelompok perlakuan menunjukkan ekspresi Nestin yang lebih lemah dibandingkan kelompok kontrol. Sekilas terdengar paradoks, tetapi justru di sinilah maknanya.

Lebih Lemah Bukan Berarti Lebih Buruk

Pada kelompok kontrol yang hanya menggunakan Ca(OH)₂, ekspresi Nestin justru lebih kuat. Para peneliti menginterpretasikan ini sebagai tanda bahwa Ca(OH)₂ murni terus-menerus merusak jaringan pulpa akibat sifat basa berlebihannya. Tubuh merespons dengan memompa lebih banyak Nestin sebagai reaksi pertahanan diri.

Sebaliknya, pada kelompok yang mendapat komposit gelatin-kitosan-TEOS-Ca(OH)₂, ekspresi Nestin yang lebih rendah mengisyaratkan bahwa kerusakan jaringan lebih terkendali. Material komposit ini tampaknya berhasil “memperhalus” kerja Ca(OH)₂, menghantarkannya secara lebih lambat dan dengan pH yang lebih moderat, yakni 9,44 hingga 9,55, jauh di bawah pH Ca(OH)₂ murni. Hasilnya, pulpa tidak perlu bereaksi berlebihan.

Ekspresi Nestin positif tetap terdeteksi di odontoblas dan prosesus odontoblastiknya, di sel-sel pulpa yang berdekatan dengan odontoblas, serta pada sel-sel pipih yang menempel di dentin. Sementara itu, area pulpa yang tidak teriritasi menunjukkan ekspresi negatif, menegaskan bahwa Nestin memang hanya hadir ketika ada kebutuhan.

Dari Tikus ke Kursi Perawatan Gigi

Penelitian ini masih berada pada tahap pra-klinis dengan model hewan coba. Namun, temuan-temuannya membuka jalur yang menjanjikan. Jika komposit gelatin-kitosan-TEOS-Ca(OH)₂ terbukti aman dan efektif pada uji klinis selanjutnya, bahan ini bisa menjadi alternatif yang lebih unggul dibandingkan Ca(OH)₂ konvensional untuk prosedur direct pulp capping, terutama pada gigi anak yang prevalensi kariesnya mencapai angka mengkhawatirkan.

Lebih dari sekadar material baru, penelitian ini menegaskan sebuah prinsip yang sering terlupakan dalam kedokteran gigi: bahwa pulpa bukan sekadar “isi” gigi yang perlu dibuang ketika bermasalah. Ia adalah jaringan hidup dengan kemampuan regenerasi, dan tugas ilmu pengetahuan adalah menemukan cara terbaik untuk mendukungnya.

Nestin yang menyala di bawah mikroskop, menandai odontoblas-odontoblas yang berjuang berdiferensiasi, adalah pengingat bahwa di dalam setiap gigi yang terluka, ada proses kehidupan yang sedang berlangsung.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1097/01.don.0000164138.49923.e5

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 July 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US