News

/

Artikel, Latest News

Gigi-Susu-Anak-Jadi-Sumber-Obat-Sariawan-Bukti-dari-Laboratorium-UGM

Angka itu terasa mengejutkan: hingga 95 persen penduduk pernah mengalami ulkus traumatik, luka pada mukosa mulut yang sering disebut sariawan. Kebanyakan orang menganggapnya sepele, menunggu sembuh sendiri dalam dua minggu, atau mengoleskan gel yang dijual bebas di apotek. Tapi di balik kesederhanaan itu, penyembuhan luka mukosa mulut sesungguhnya adalah proses biokimiawi yang rumit, melibatkan empat fase berurutan yang harus berjalan tepat waktu.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada punya pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana jika proses itu bisa dipercepat, bukan dengan obat kimia sintetis, melainkan dengan sinyal biologis dari sel punca gigi susu anak?

Rahasia di Balik Gigi yang Tanggal

Gigi susu yang tanggal dari mulut anak-anak berusia enam tahun ternyata menyimpan sesuatu yang berharga. Di dalam jaringan pulpa gigi tersebut hidup populasi sel punca yang dikenal sebagai Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous Teeth, atau SHED. Sel-sel ini bukan sekadar “sel cadangan” biasa. SHED mampu berdiferensiasi menjadi fibroblas, odontoblas, adiposit, sel saraf, hingga sel epitel, dan mengeluarkan berbagai faktor pertumbuhan penting seperti FGF, TGF, CTGF, NGF, dan BMP.

Yang menarik bukan selnya sendiri, melainkan apa yang dikeluarkannya. Ketika sel punca dikultur dalam medium tanpa serum, medium bekas kultur tersebut, yang disebut spent medium atau SHED-SM, mengandung campuran padat faktor pertumbuhan, sitokin, kemokin, vesikel ekstraseluler termasuk eksosom, dan molekul bioaktif lainnya. Inilah yang disebut secretome, dan inilah yang menjadi fokus penelitian ini.

Menggunakan sel punca utuh sebagai terapi memiliki risiko tersendiri, antara lain potensi mutasi sel yang berujung pada tumorigenesis, dan risiko penolakan saat transplantasi. Spent medium menawarkan jalan tengah: manfaat biologis secretome tanpa risiko implantasi sel hidup.

Dari Pulpa Gigi ke Nanoemulgel

Tim peneliti yang terdiri dari Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO beserta kolaborator dari Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia tidak berhenti di tahap isolasi secretome. Mereka memformulasikan SHED-SM ke dalam bentuk nanoemulgel, sebuah sediaan topikal yang menggabungkan kelebihan nanoemulsi dan gel sekaligus: partikel berukuran nano untuk absorpsi optimal, dengan konsistensi gel yang memudahkan aplikasi pada permukaan mukosa luka.

Penelitian ini didanai melalui Program Riset Kolaborasi Indonesia dengan nomor kontrak 1917/UN1/DITLIT/PT.01.03/2024, dan telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik FKG-RSGM Prof. Soedomo UGM.

Sebelum diuji pada hewan, SHED-SM nanoemulgel diuji viabilitasnya terhadap sel fibroblas NIH-3T3 menggunakan metode MTT assay. Hasilnya menunjukkan bahwa SHED-SM H1, medium yang dipanen pada hari pertama inkubasi, menghasilkan viabilitas sel tertinggi sebesar 65,95 persen, jauh di atas SHED-SM H5 yang hanya mencapai 37,01 persen. Perbedaan ini bermakna secara statistik dan menjadi dasar pemilihan formulasi untuk tahap in vivo.

Tikus, Luka Tiga Milimeter, dan Hari Kelima yang Menentukan

Tiga puluh tikus Wistar jantan berusia dua hingga tiga bulan dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan dengan SHED-SM nanoemulgel dan kelompok kontrol dengan Aloclair Plus. Ulkus traumatik berdiameter 3 mm dibuat secara standar menggunakan punch biopsy pada mukosa bukal kanan, lalu gel dioleskan sekali sehari selama empat hari berturut-turut.

Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 5, 7, dan 14, mencakup evaluasi klinis, histologi dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin, serta imunohistokimia untuk mengukur ekspresi COX-2, Kolagen-1 (Col-1), dan VEGF.

Hasilnya berbicara sendiri. Pada hari kelima, epitel pada kelompok perlakuan sudah menutup, sementara kelompok kontrol belum. Pada hari ketujuh, epitel kelompok perlakuan tampak lebih tebal dibandingkan kontrol.

“Aplikasi SHED Spent Medium nanoemulgel dapat mempercepat penyembuhan ulkus mukosa bukal traumatik, yang ditunjukkan oleh penutupan epitel dan peningkatan jumlah neutrofil serta ekspresi COX-2, Col-1, dan VEGF.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dalam kesimpulan penelitian yang dipublikasikan di F1000Research, 2025

Secara molekuler, mekanismenya berlapis. SHED-SM merekrut neutrofil dan monosit pada fase awal peradangan, lalu mendorong polarisasi makrofag dari fenotipe proinflamasi M1 ke fenotipe reparatif M2. Faktor pertumbuhan seperti VEGF dan FGF dalam SHED-SM merangsang proliferasi sel endotel untuk membentuk pembuluh darah baru, sementara kandungan TGF-β memodulasi sintesis kolagen dan proses remodeling jaringan.

Sariawan yang Tak Lagi Sepele

Angka 95 persen prevalensi ulkus traumatik dalam laporan Riskesdas 2018 bukan sekadar statistik. Ini berarti hampir semua orang pernah mengalaminya, dan banyak yang kambuh berulang kali. Terapi yang tersedia selama ini kebanyakan bersifat simtomatik: mengurangi nyeri, mencegah infeksi, menunggu waktu.

Penelitian ini membuka kemungkinan lain. Gigi susu anak yang selama ini dibuang atau disimpan sebagai kenangan ternyata bisa menjadi sumber terapi regeneratif yang aman, praktis, dan terjangkau. Spent medium tidak memerlukan transplantasi sel, tidak membawa risiko tumorigenesis, dan proses perolehannya relatif sederhana.

Tentu masih ada jarak antara laboratorium dan klinik. Uji pada hewan adalah langkah awal, bukan akhir. Namun arah yang ditunjukkan penelitian ini memberi alasan untuk tidak terburu-buru membuang gigi susu yang baru saja tanggal dari mulut seorang anak.

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.164339.1

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 July 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US