Bayangkan seorang bayi lahir dengan langit-langit mulut yang terbelah. Operasi palatoplasti memang bisa menutupnya, tetapi teknik tertentu meninggalkan tulang yang terbuka di sisi lateral palatum — luka yang harus sembuh sendiri, perlahan, dengan risiko jaringan parut yang kelak bisa menghambat pertumbuhan rahang. Pertanyaannya sederhana tapi mendesak: adakah cara untuk mempercepat penyembuhan itu?
Sebuah penelitian dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mencoba menjawabnya — dengan bahan yang tidak terduga: sildenafil sitrat, senyawa yang selama ini lebih dikenal sebagai obat disfungsi ereksi.
Dari Klinik Urologi ke Meja Operasi Palatum
Sildenafil sitrat bekerja dengan menghambat enzim phosphodiesterase-5 (PDE-5), yang berujung pada peningkatan kadar cyclic guanyl monophosphate (cGMP) dan pelepasan nitric oxide (NO). NO bukan sekadar gas biasa — ia adalah mediator molekuler yang mengatur ekspresi gen, termasuk proliferasi sel epitel dan sintesis kolagen oleh fibroblas. Mekanisme inilah yang membuat para peneliti berspekulasi: jika sildenafil bisa merangsang angiogenesis dan deposisi kolagen di jaringan lain, mengapa tidak di luka palatum?
Gilang Jati Pamungkas, drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., dan drg. Pingky Krisna Arindra merancang studi in vivo menggunakan 30 tikus Wistar jantan dewasa. Luka eksisi berdiameter 2 mm dibuat tepat di tengah mukosa palatum, sedalam tulang, menggunakan punch biopsy. Separuh tikus mendapat aplikasi gel sildenafil sitrat 5% setiap hari, sementara separuh lainnya hanya mendapat gel carbopol sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7.
Hasilnya dipublikasikan di Journal of Orofacial Sciences (2025), jurnal internasional yang diterbitkan Wolters Kluwer.
Angka yang Bicara Keras
Pada hari ketiga, densitas kolagen kelompok sildenafil sudah mencapai 40,72%, dibandingkan 33,35% pada kelompok kontrol. Selisih itu terus melebar: di hari kelima, 51,98% berbanding 43,32%; dan di hari ketujuh, 61,25% berbanding 57,99%. Uji two-way ANOVA mengonfirmasi perbedaan yang signifikan secara statistik (P < 0,05) pada semua titik waktu.
Yang lebih menarik adalah temuan dari uji post-hoc LSD: densitas kolagen kelompok sildenafil pada hari ketiga tidak berbeda signifikan dengan kelompok kontrol pada hari kelima (P = 0,680). Artinya, gel sildenafil mempercepat pembentukan kolagen sekitar dua hari lebih cepat dibanding tanpa perlakuan.
Pola serupa ditemukan pada ketebalan epitel. Di hari kelima, kelompok sildenafil sudah menunjukkan epitel tipis di atas jaringan granulasi, sementara kelompok kontrol baru mencapai kondisi serupa di hari ketujuh. Pada hari ketujuh, kelompok sildenafil bahkan mulai membentuk rete pegs — tonjolan epitel ke jaringan ikat di bawahnya yang menjadi tanda kematangan jaringan sehat.
“Luka pada kelompok sildenafil tampak hampir sembuh sempurna dalam tujuh hari pengamatan, penampilannya hampir menyerupai mukosa sehat. Sebaliknya, kelompok kontrol masih menunjukkan bekas luka yang jelas, yang mengindikasikan bahwa penyembuhan sempurna pada kelompok tersebut membutuhkan waktu lebih lama.”
— Pamungkas, Hasan, Arindra, Journal of Orofacial Sciences, 2025
Mekanisme di Balik Percepatan
Jalur NO/sGC/cGMP yang diaktifkan sildenafil bekerja di beberapa lini sekaligus. NO merangsang proliferasi keratinosit — sel epitel kulit dan mukosa — sekaligus menginduksi aktivitas fibroblas untuk memproduksi kolagen lebih banyak. Hambatan terhadap PDE-5 juga mendorong migrasi makrofag dan fibroblas ke area luka, memperkuat fase proliferasi yang pada tikus berlangsung antara hari ke-5 hingga ke-6.
Peneliti memilih konsentrasi 5% berdasarkan studi sebelumnya yang menunjukkan konsentrasi ini memberikan efek penyembuhan terbaik dibanding konsentrasi lain. Formulasi gel dipilih karena mudah diaplikasikan dan memiliki absorpsi yang lebih baik dibanding sediaan lain seperti krim atau salep.
Metodologi penelitian ini juga memperlihatkan perhatian serius terhadap kesejahteraan hewan. Penggunaan spacer oral untuk menstandardisasi lokasi luka, anestesi kombinasi ketamin-xylazin yang lebih manusiawi, serta pengaplikasian gel secara tersamar oleh staf yang tidak mengetahui alokasi kelompok — semuanya dirancang untuk meminimalkan bias sekaligus mematuhi prinsip Reduce dalam etika penelitian hewan.
Janji yang Masih Perlu Diuji Lebih Jauh
Para peneliti mengakui keterbatasan studi ini dengan jujur. Pengamatan tujuh hari hanya mencakup fase proliferatif penyembuhan luka — fase remodeling yang bisa berlangsung berminggu-minggu belum terekam. Tikus Wistar, meski menjadi model yang mapan untuk studi inflamasi dan penyembuhan, memiliki perbedaan fisiologis dengan manusia yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Jalan dari laboratorium hewan ke bangsal bedah mulut anak masih panjang. Perlu studi pada hewan yang lebih besar, lalu uji klinis, sebelum gel sildenafil bisa dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan pascapalatoplasti. Tetapi temuannya cukup kuat untuk menjadi fondasi.
Bagi ribuan bayi yang setiap tahun menjalani palatoplasti, dua hari percepatan penyembuhan mungkin terdengar kecil. Dalam konteks luka terbuka di langit-langit mulut yang terus terpapar saliva dan tekanan mekanis saat menyusu, dua hari itu bisa berarti banyak.
Sumber DOI : 10.4103/jofs.jofs_196_24
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik