News

/

Latest News

FKG UGM Siapkan Transformasi Air Hujan Menjadi Air Minum & Operasional Kampus

FKG UGM mulai mematangkan langkah besar dalam pengelolaan sumber daya air melalui rencana pemanfaatan air hujan yang akan diolah menjadi air layak konsumsi menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Inisiatif ini tidak hanya diarahkan untuk menjawab kebutuhan air bersih kampus, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang menghadapi keterbatasan air tanah dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan air PDAM.

Gagasan transformasi air hujan, mengemuka pada forum diskusi FKG UGM, tim teknis fakultas, serta perwakilan dari Sekolah Vokasi UGM yang selama ini mengembangkan berbagai proyek pengelolaan air berkelanjutan. Pertemuan tersebut membahas penyusunan feasibility study, Detailed Engineering Design (DED), hingga perencanaan investasi dan pengembalian manfaat ekonomi dari sistem pemanenan air hujan yang akan dibangun.

Wakil Dekan FKG UGM Bidang SDM, Keuangan, Aset & IT, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D menegaskan bahwa kebutuhan air bersih akan menjadi isu strategis di masa depan. Karena itu, FKG UGM perlu mulai mengembangkan sumber air alternatif yang berkelanjutan dan tidak bergantung sepenuhnya pada air tanah maupun pasokan PDAM.

“FKG sudah mulai berpikir untuk mengelola air secara mandiri sehingga dapat digunakan sebagai air minum. Ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari tanggung jawab lingkungan yang berkelanjutan,” ungkapnya dalam diskusi tersebut.

Air Hujan Kini Diakui sebagai Sumber Air Minum

Momentum pengembangan sistem ini semakin kuat setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2025 mengeluarkan nomenklatur yang memungkinkan air hujan diolah hingga memenuhi standar air minum dan dapat diproduksi secara legal.

Selama bertahun-tahun, pemanfaatan air hujan sebagai air konsumsi terkendala aspek regulasi. Kini, dengan adanya dasar hukum yang lebih jelas, peluang pengembangan teknologi pemanenan air hujan semakin terbuka.

“Dulu orang belum bisa menjual air hujan sebagai air minum karena belum ada nomenklaturnya. Sekarang sudah ada dasar regulasinya sehingga peluang pemanfaatannya jauh lebih besar,” jelas Pratama Tirza Surya Sembada, S.Tr.T. M.Sc narasumber dari tim infrastruktur tata kelola air SV UGM.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi FKG UGM untuk tidak sekadar memanen air hujan, tetapi juga mengolahnya menjadi sumber air minum kampus yang aman dan berstandar kesehatan.

Ancaman Berkurangnya Air Tanah

Dalam diskusi terungkap bahwa UGM tengah menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan air tanah. Kebijakan konservasi lingkungan mendorong pengurangan eksploitasi air tanah secara bertahap, sehingga berbagai unit di lingkungan kampus harus mulai mencari alternatif pasokan air.

Para peserta diskusi menilai ketergantungan terhadap sumber air konvensional tidak lagi dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Selain faktor lingkungan, pertumbuhan kawasan perkotaan di sekitar kampus juga meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah.

“Ke depan UGM tidak boleh lagi bergantung pada pengambilan air tanah. Karena itu strategi penggantinya harus mulai disiapkan dari sekarang,” ujar Wulansari, SS selaku Kepala Kantor Administrasi FKG UGM.

Data lapangan menunjukkan sejumlah kawasan di sekitar kampus mulai merasakan dampak menurunnya kualitas dan kuantitas air tanah akibat meningkatnya pembangunan hotel, apartemen, dan rumah kos yang mengandalkan sumur dalam.

Belajar dari Proyek-Proyek Percontohan

Sebagai bagian dari kajian awal, tim pengembang memaparkan sejumlah proyek percontohan yang telah berjalan di lingkungan UGM dan beberapa daerah lain.

Salah satu contoh yang menjadi rujukan adalah sistem pemanenan air hujan pada bangunan seluas sekitar 11.000 meter persegi yang mampu menampung hingga 334 meter kubik air dan menghasilkan sekitar 9 juta liter air per tahun. Air tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan gedung sehingga mengurangi ketergantungan terhadap sumber air eksternal.

Pengalaman tersebut dinilai relevan bagi FKG UGM yang memiliki luas atap bangunan cukup besar dan potensi penangkapan air hujan yang tinggi.

Menurut tim teknis, analisis yang akan dilakukan mencakup kebutuhan air harian, kapasitas tampungan, desain jaringan perpipaan, lokasi instalasi RO, kebutuhan energi listrik, hingga perhitungan jejak karbon dan masa pengembalian investasi.

Tidak Hanya Hemat Biaya, Tetapi Juga Ramah Lingkungan

Secara ekonomi, sistem ini diproyeksikan mampu mengurangi biaya pembelian air dari pihak ketiga dalam jangka panjang. Namun manfaat yang lebih besar justru terletak pada aspek keberlanjutan lingkungan.

Pemanfaatan air hujan akan mengurangi limpasan permukaan yang selama ini menjadi penyebab genangan saat musim hujan. Selain itu, sistem resapan dan penyimpanan air juga membantu menjaga keseimbangan siklus hidrologi di kawasan kampus.

Tim pengembang bahkan menawarkan konsep integrasi antara pemanenan air hujan, pengolahan air minum, dan teknologi injeksi air ke dalam tanah (recharge system) untuk menjaga keberlanjutan cadangan air bawah tanah.

“Harus ada gerakan yang kontinyu. Kita menghadapi kenyataan bahwa cadangan air tanah semakin menipis. Kampus harus menjadi contoh bagaimana air hujan dapat dimanfaatkan secara optimal dan bertanggung jawab,” kata Wulansari, SS.

Menuju Green Campus for FKG UGM

Rencana pengembangan sistem RO berbasis air hujan menjadi bagian dari transformasi FKG UGM menuju kampus yang lebih hijau dan mandiri dalam pengelolaan sumber daya.

Tahap awal yang akan dilakukan adalah penyusunan studi kelayakan dan DED untuk memetakan seluruh potensi pemanenan air hujan di lingkungan fakultas. Dokumen tersebut nantinya akan menjadi dasar pengambilan keputusan terkait investasi, pembangunan infrastruktur, serta skema operasional jangka panjang.

Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, inisiatif ini mencerminkan perubahan paradigma pengelolaan kampus modern: memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi tekanan terhadap lingkungan, serta menciptakan sistem yang tangguh menghadapi krisis air di masa depan.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya instalasi air minum, tetapi sebuah sistem yang mampu menjawab kebutuhan kampus sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang,” tegas tim pengembang dalam forum tersebut.

Dengan memanen setiap tetes air hujan yang jatuh di atap-atap bangunan kampus, FKG UGM tengah menyiapkan fondasi baru bagi masa depan yang lebih hijau, lebih mandiri, dan berkelanjutan.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
29 May 2026

FKG UGM Terapkan Prinsip Halal, Higienis, dan ASUH dalam Penyembelihan Hewan Kurban

26 May 2026

FKG UGM dan Haleon Fasilitasi Pembuatan Gigi Tiruan bagi Guru Yogyakarta

26 May 2026

47 Calon Dokter Gigi Baru FKG UGM Resmi Dinyatakan Lulus !

en_US