Sebanyak 35 siswa kelas XII SMA IT Al Azhar Jambi mendapatkan kesempatan mengenal lebih dekat dunia perguruan tinggi melalui kunjungan edukatif ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang wisata akademik, tetapi juga momentum penting untuk membuka wawasan siswa mengenai peluang pendidikan tinggi, jalur masuk perguruan tinggi negeri, hingga pentingnya menentukan masa depan berdasarkan minat dan potensi diri.
Dalam sesi sosialisasi yang berlangsung interaktif, dibawakan oleh Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc, dosen FKG UGM memaparkan berbagai informasi mengenai profil kampus, program studi, fasilitas mahasiswa, hingga mekanisme seleksi masuk UGM. Para siswa juga diajak memahami tantangan dan strategi menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi yang semakin kompetitif.

UGM Perkenalkan Ekosistem Pendidikan dan Fasilitas Mahasiswa
Dalam pemaparannya, narasumber UGM menjelaskan bahwa universitas tersebut saat ini menempati posisi sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan ratusan program studi dari jenjang sarjana terapan hingga doktoral. Selain kualitas akademik, UGM juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti layanan kesehatan, konseling kesehatan mental, pusat olahraga, perpustakaan modern, hingga program pengembangan soft skills dan kepemimpinan mahasiswa.
“Kesehatan mental mahasiswa menjadi perhatian serius, apalagi pasca pandemi kebutuhan layanan psikologis meningkat cukup signifikan. Hampir setiap fakultas memiliki fasilitas pendampingan yang bisa diakses mahasiswa,” ungkap narasumber dalam sesi presentasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan paradigma pendidikan tinggi yang kini tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis mahasiswa.

Persaingan Masuk PTN Semakin Ketat, Siswa Diminta Fokus pada Persiapan
Salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai jalur masuk perguruan tinggi negeri, mulai dari Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), hingga berbagai jalur mandiri yang dimiliki UGM. Narasumber menjelaskan bahwa setiap jalur memiliki karakteristik dan peluang yang berbeda sehingga siswa harus memahami strategi yang tepat sejak dini.
Ketika ditanya mengenai skor minimal untuk masuk program studi tertentu, narasumber memberikan jawaban yang cukup tegas.
“Kalau saya jadi kamu, fokus belajar sampai nilai maksimal dulu. Setiap tahun persaingan berubah, skornya bisa naik atau turun. Yang penting berikan yang terbaik.”
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa banyak calon mahasiswa masih terjebak pada pencarian angka ambang batas, padahal faktor utama yang menentukan adalah kualitas persiapan dan kemampuan bersaing dengan peserta lain pada tahun yang sama.
Konflik Antara Keinginan Orang Tua dan Minat Anak Masih Menjadi Tantangan
Dalam sesi diskusi, muncul persoalan yang ternyata sangat dekat dengan realitas pendidikan di Indonesia, yakni perbedaan antara cita-cita siswa dan harapan orang tua.
Kepala SMA IT Al Azhar Jambi, Rina Norfida, mengungkapkan bahwa pihak sekolah kerap menghadapi situasi ketika siswa memiliki kemampuan di bidang tertentu, tetapi orang tua tetap menginginkan anaknya masuk jurusan yang dianggap lebih prestisius.
“Pengaruh orang tua sangat kuat. Kadang nilai anak tidak memungkinkan masuk kedokteran, tetapi orang tua tetap menginginkannya. Akhirnya anak tidak lolos dan sekolah juga ikut merasa terbebani,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak UGM menekankan pentingnya mengenali kemampuan dan minat siswa sebagai dasar dalam menentukan pilihan studi.
“Kalau menurut saya, yang paling penting adalah kemampuan anaknya. Jalur masuk sekarang banyak. Yang harus dicari adalah bidang yang memang disukai dan sesuai potensinya.”

Pendidikan Tinggi Tidak Lagi Sekadar Soal Prestige
Dari diskusi yang berlangsung, terlihat adanya perubahan cara pandang terhadap pendidikan tinggi. Jika sebelumnya keberhasilan sering diukur dari berhasil atau tidaknya masuk jurusan tertentu, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah kesesuaian antara passion, kompetensi, dan prospek pengembangan diri.
Narasumber bahkan membagikan pengalaman pribadinya saat memilih jurusan kuliah.
“Saya dulu juga tidak memilih kedokteran karena merasa itu bukan bidang saya. Akhirnya saya memilih bidang yang memang sesuai minat dan kemampuan. Hasilnya, proses belajar menjadi lebih nyaman dan maksimal.”
Pesan ini mendapat perhatian besar dari para siswa yang sedang berada pada fase menentukan masa depan pendidikan mereka.
Kunjungan Edukatif sebagai Investasi Masa Depan
Bagi SMA IT Al Azhar Jambi, kunjungan ke UGM bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun motivasi dan orientasi masa depan siswa.
Kepala Sekolah SMA IT Al Azhar Jambi, Rina Norfida menjelaskan bahwa tujuan utama kunjungan tersebut adalah memperluas wawasan peserta didik agar mereka dapat melihat langsung atmosfer kampus dan membangun mimpi yang lebih besar.
“Kami berkunjung ke UGM untuk membuka wawasan anak-anak menuju kampus yang mungkin menjadi bagian dari impian mereka. Semoga ada anak-anak kami yang nantinya dapat menimba ilmu di sini.”
Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini belum ada alumni SMA IT Al Azhar Jambi yang berhasil menembus UGM, namun hal itu justru menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas lulusan.
“Ke Jawa sudah ada, tetapi ke UGM belum. Tujuan kami datang ke sini agar anak-anak semakin terbuka dan semakin tinggi keinginan mereka untuk berada di kampus-kampus terbaik di Indonesia, pungkasnya”

Kunjungan Kampus sebagai Strategi Membangun Aspirasi Pendidikan
Fenomena yang muncul dalam kunjungan ini menunjukkan bahwa akses informasi menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan pendidikan tinggi. Banyak siswa di daerah yang masih memiliki keterbatasan informasi mengenai jalur masuk perguruan tinggi, peluang beasiswa, maupun ragam program studi yang tersedia.
Kunjungan langsung ke kampus seperti UGM menjadi sarana efektif untuk mengurangi kesenjangan informasi tersebut. Selain memperoleh informasi teknis, siswa juga mendapatkan gambaran nyata tentang kehidupan kampus, peluang karier, serta pentingnya memilih jurusan berdasarkan minat dan kompetensi.
Di tengah persaingan masuk perguruan tinggi yang semakin ketat, pendekatan seperti ini dapat menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan aspirasi pendidikan generasi muda. Bukan hanya mengejar status perguruan tinggi favorit, tetapi juga membantu siswa membangun perencanaan karier yang lebih realistis dan berkelanjutan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti)