News

/

Artikel, Latest News

Cacar Ular Salah Obat, Wajah Pun Lumpuh: Pelajaran dari Satu Kasus yang Hampir Terlewat

Seorang pria 60 tahun datang ke klinik Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Indonesia dengan keluhan yang tampak biasa: luka menyebar di dagu kiri, bibir bengkak, dan mati rasa. Seminggu sebelumnya, ia sudah sempat ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta di Bogor. Ia pulang dengan tiga resep: Amoxicillin, Omeprazole, dan Mefenamat. Tidak ada yang membaik.

Apa yang semula terlihat seperti infeksi biasa ternyata adalah herpes zoster, atau yang lebih dikenal sebagai cacar ular, yang menyerang cabang nervus trigeminus. Dan karena penanganan awal yang keliru, tiga minggu kemudian pria itu kembali ke klinik, kali ini dengan wajah yang tertarik ke kiri dan tak bisa digerakkan.

Kasus inilah yang didokumentasikan oleh drg. Tjut Intan Permata Sari, Sp.PM, bersama tim dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, dan dipublikasikan dalam Journal of International Dental and Medical Research edisi Volume 18 Nomor 3 Tahun 2025.

Ketika Virus Lama Terbangun Kembali

Herpes zoster bukan penyakit baru. Virus penyebabnya, varicella-zoster virus (VZV), adalah virus yang sama dengan cacar air. Setelah infeksi pertama sembuh, virus tidak benar-benar pergi. Ia bersembunyi di ganglion saraf sensoris, menunggu momen ketika sistem imun melemah untuk aktif kembali.

Pada pasien dalam laporan ini, tanda-tanda awalnya muncul sebagai demam, lemas, dan gelisah, lalu diikuti vesikel di dagu dan rongga mulut. Pria yang bekerja sebagai akupunkturis dan punya riwayat tifoid dua bulan sebelumnya ini tidak ingat pernah mengalami cacar air. Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan vesikel di dagu kiri dengan krusta kekuningan, edema bibir bawah kiri, dan kelenjar getah bening yang teraba. Di dalam mulut, ditemukan vesikel di mukosa labial bawah kiri, ulser multipel yang menyebar hingga ke dasar mulut dan permukaan bawah lidah.

Dokter mendiagnosis herpes zoster dan meresepkan asiklovir oral 800 mg lima kali sehari selama tujuh hari, krim asiklovir 5% untuk lesi ekstraoral, serta kumur doksisiklin 100 mg yang dilarutkan dalam larutan NaCl 0,9% untuk lesi intraoral. Multivitamin juga diberikan untuk mendukung imunitas.

Rencana kontrol dijadwalkan satu minggu kemudian. Pasien baru datang tiga minggu setelahnya.

Dua Minggu yang Mengubah Segalanya

Di sinilah cerita ini berbelok tajam. Sehari setelah kunjungan pertama, pasien merasa mual setiap kali minum asiklovir, sehingga konsumsinya tidak teratur. Keluarga membawanya ke UGD, dan ia dirawat inap. Pada hari ketiga perawatan, ia merasakan wajahnya tertarik ke kiri dan tidak bisa digerakkan sama sekali.

Ia dipindahkan ke rumah sakit lain, dan di sanalah diagnosis baru ditegakkan: Ramsay Hunt Syndrome (RHS). Sindrom ini terjadi ketika VZV menyerang ganglion genikulatum nervus fasialis, menyebabkan paralisis wajah yang disertai ruam di sekitar telinga. Insiden RHS diperkirakan 5 per 100.000 orang dan menyumbang sekitar 12 persen dari seluruh kasus paralisis nervus fasialis.

“Komplikasi berat herpes zoster dapat terjadi ketika pasien mengonsumsi obat secara tidak tepat. Deteksi dini sama pentingnya dengan edukasi pasien yang memadai untuk mencegah progresi penyakit.” — drg. Tjut Intan Permata Sari, Sp.PM, dalam laporan kasusnya

Pada kunjungan kedua, pemeriksaan menunjukkan asimetri wajah dengan deviasi ke kiri, hipotonus pada kelopak mata kiri, sikatrik di dagu, dan sisa ulser kecil di gingiva anterior bawah. Pasien kini mendapat penanganan dari spesialis neurologi dengan Gabapentin, Amitriptilin, Mekobalamin, Metil Prednisolon, dan sejumlah obat pendukung lain.

Peran Dokter Gigi yang Sering Tak Terduga

Kasus ini menegaskan satu hal yang kerap luput dari perhatian: dokter gigi bisa menjadi garda terdepan dalam mendeteksi herpes zoster, justru karena manifestasi awal penyakit ini sering muncul di rongga mulut dan area wajah.

Pada stadium prodromal, sebelum vesikel muncul, pasien bisa mengalami nyeri gigi, parestesia, atau rasa terbakar di satu sisi wajah. Kondisi ini mudah salah didiagnosis sebagai pulpitis, neuralgia trigeminal, atau bahkan infeksi bakteri biasa, seperti yang terjadi di kasus ini ketika pasien pertama kali diperiksa dan mendapat antibiotik.

Laporan ini juga menyoroti pentingnya kepatuhan pasien terhadap terapi antiviral. Asiklovir harus diminum tepat waktu dan lengkap. Interval antara herpes zoster trigeminal dan perkembangan menjadi RHS berkisar 12 hari hingga 3 minggu, sejalan dengan masa inkubasi VZV yang 10 hingga 21 hari. Pada pasien ini, perubahan itu terjadi dalam sekitar dua minggu.

Pada kunjungan ketiga, kondisi pasien membaik. Gerakan wajah sudah mulai pulih, dan ulser kecil yang tersisa didiagnosis sebagai stomatitis aftosa rekuren, bukan lagi bagian dari herpes zoster. Terapi doksisiklin dihentikan dan digantikan dengan kompres klorheksidin glukonat 0,2%.

Satu Kasus, Banyak Pengingat

Laporan kasus yang diterbitkan di jurnal internasional ini bukan sekadar dokumentasi klinis. Ia adalah pengingat bahwa herpes zoster dengan komplikasi berat bukan kejadian langka yang hanya bisa terjadi pada pasien imunokompromais berat. Pasien dengan usia lanjut, kondisi tubuh yang sedang melemah, dan kepatuhan obat yang buruk semuanya adalah faktor risiko nyata.

Bagi para dokter gigi, pesan utamanya sederhana namun mendesak: kenali tanda-tanda prodromal herpes zoster, jangan buru-buru melabeli nyeri wajah unilateral sebagai masalah gigi semata, dan pastikan pasien memahami mengapa kepatuhan terhadap terapi antiviral bukan pilihan, melainkan keharusan.

Wajah yang tertarik ke kiri itu bisa dicegah. Asalkan penyakitnya dikenali lebih awal, dan obatnya diminum sebagaimana mestinya.

Sumber DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.20719795

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 July 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

en_US