Bibir bawah kanan seorang perempuan berusia 22 tahun perlahan berubah warna menjadi merah keunguan. Asimetris. Tidak nyeri, tidak mudah berdarah, namun mengganggu penampilan. Selama lima bulan ia membiarkannya, sampai akhirnya ia datang ke Departemen Bedah Mulut RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta. Di situlah sebuah pendekatan terapeutik yang terdengar sederhana, bahkan mengejutkan, mulai dipertimbangkan: injeksi air mendidih.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Dentomaxillofacial Science (Agustus 2021) oleh Denta A. Prasetya, Maria Goreti, dan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM. dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada ini menawarkan alternatif penanganan hemangioma yang minim invasif, tanpa operasi, dan menunjukkan hasil yang memuaskan.
Lesi Vaskular yang Kerap Disepelekan
Hemangioma adalah anomali perkembangan vaskular yang tergolong tumor jinak. Meski tidak ganas, lesi ini bisa menimbulkan nyeri, perdarahan, gangguan fungsi gerak, hingga masalah estetika yang signifikan. Di area kepala dan leher, hemangioma ditemukan pada 1–4 persen populasi, dan di dalam rongga mulut, lokasi yang paling umum adalah bibir, lidah, dan mukosa bukal.
Diagnosis hemangioma tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan klinis semata. Pada kasus ini, pemeriksaan diaskopi menunjukkan lesi vaskular, lalu diperkuat dengan ultrasonografi Doppler yang memperlihatkan lesi heterogen berukuran 2,49 × 1,23 cm dengan vaskularisasi intra-lesional positif. Temuan ini mengonfirmasi diagnosis hemangioma aliran tinggi (high flow hemangioma), sekaligus membedakannya dari tumor padat yang memerlukan pendekatan berbeda.
Pilihan terapi hemangioma selama ini mencakup pembedahan, terapi kortikosteroid, skleroterapi, hingga radiasi. Namun pembedahan kerap bukan pilihan pertama, terutama di area wajah yang sensitif secara estetika dan fungsional.
Cara Kerja Air yang Dipanaskan Hingga 100 Derajat
Pendekatan yang dipilih tim dokter dalam kasus ini adalah injeksi air mendidih secara intralesional, dikombinasikan dengan kortikosteroid deksametason 0,5 mg. Prinsip kerjanya serupa dengan agen sklerotik: mengiritasi permukaan endotel pembuluh darah hingga terbentuk celah di antara lapisan endotel tersebut.
Panas dari air mendidih memicu reaksi inflamasi yang pada akhirnya mendorong fibrosis dan menutup jalur vaskular. Secara seluler, kerusakan terjadi akibat trauma fisik dari suhu tinggi. Protein mulai terdegradasi pada suhu 40°C dan mengalami denaturasi permanen pada 45°C. Pada suhu 100°C, proses nekrosis sel berlangsung cepat dan terbatas pada jaringan target.
Terapi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan 2,5 ml air steril yang telah dipanaskan hingga 100°C, disuntikkan secara intralesional di bawah anestesi lokal. Sebelum injeksi, aspirasi dilakukan untuk memastikan jarum telah mencapai kedalaman lesi vaskular, ditandai dengan aliran darah ke dalam spuit. Tiga minggu kemudian, tahap kedua dilakukan dengan total 5 ml air mendidih dari dua titik injeksi berbeda, masing-masing 2,5 ml dari ujung mesial dan distal lesi, keduanya mengarah ke pusat lesi.
Kortikosteroid berperan dalam menekan proliferasi hemangioma melalui penghambatan reseptor estradiol-17 beta, sekaligus menimbulkan efek vasokonstriksi yang memperkecil kapiler pembuluh darah.
Dari Lesi Keunguan Menjadi Kulit Bersih
Evaluasi dilakukan setiap minggu. Hasilnya bertahap namun konsisten: permukaan lesi mengecil, lalu berubah menjadi kerak pada hari ke-30, dan pada hari ke-50 lesi hilang sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas luka.
“Kombinasi injeksi air mendidih dan pemberian kortikosteroid dalam penanganan hemangioma menghasilkan hasil yang memuaskan setelah evaluasi hari ke-50.” — Prasetya, Goreti, dan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., Journal of Dentomaxillofacial Science, 2021
Tiga bulan pasca-injeksi, tidak ditemukan lagi lesi hemangioma di area bibir bawah pasien. Penampilan pasien kembali simetris, tanpa jaringan parut, tanpa tanda-tanda komplikasi.
Implications for Clinical Practice
Temuan ini relevan tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga dari sisi aksesibilitas. Air mendidih adalah agen sklerotik yang murah, mudah disiapkan, dan tidak memerlukan infrastruktur bedah yang kompleks. Ini membuka peluang penanganan hemangioma di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas, di mana akses ke prosedur bedah atau peralatan canggih masih menjadi tantangan nyata.
Tentu saja, studi berbasis kasus tunggal memiliki batasan generalisasi. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar untuk mengonfirmasi keamanan dan efektivitas metode ini pada berbagai tipe dan ukuran hemangioma. Namun sebagai titik awal, laporan kasus ini menunjukkan bahwa solusi sederhana, bila diterapkan dengan pemahaman mekanisme yang tepat, bisa memberikan hasil yang jauh dari sederhana.
Perempuan muda itu pulang dengan bibir yang kembali simetris. Tidak ada sayatan. Tidak ada jahitan.
Sumber DOI : https://dx.doi.org/10.4317/jced.53354
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik