Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) Yogyakarta membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional melalui kunjungan dua pakar bedah mulut dan maksilofasial dari Jepang Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D & Korea Selatan oleh Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D.
Penyambutan kedua profesor tersebut berlangsung dalam suasana hangat. Mewakili Dekan, Ketua Departemen, dan Ketua Program Studi FKG UGM yang pada saat bersamaan tengah mengikuti agenda fakultas, Dr. drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc., Sp.BMM., Subsp.IDM(K) menyampaikan apresiasi atas kehadiran kedua akademisi tersebut di FKG UGM Yogyakarta.
“Atas nama Dekan, Ketua Departemen, dan Ketua Program Studi, saya ingin menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kesediaan Anda untuk membagikan pengetahuan serta pengalaman kepada kami hari ini,” ujar drg. Yosafat Bayu Rosanto dalam sambutannya.
Bagi drg. Yosi, begitu akrab disapa kedatangan kedua pakar tersebut bukan sekadar agenda akademik. Kunjungan itu juga memiliki makna personal karena ia memiliki pengalaman belajar langsung dengan keduanya pada masa sebelumnya.
Ia pertama kali bertemu Prof. Tomihara sekitar dua tahun lalu ketika mendapat kesempatan mewakili FKG UGM dalam Summer Course di Niigata University, Jepang. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberikan manfaat yang besar, baik dari sisi akademik maupun pengalaman pribadi.
Sementara dengan Prof. Kim Hyun-Jun, hubungan akademik itu telah terjalin jauh lebih lama. Sekitar 10 tahun lalu, ketika masih menjalani pendidikan sebagai residen tahun kedua, drg. Yosafat berkesempatan menghabiskan waktu selama dua bulan di Korea Selatan.
Selama berada di Korea, ia mendapat kesempatan mengamati sekaligus berpartisipasi dalam berbagai kasus bedah yang ditangani Prof. Kim. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesionalnya sebagai ahli bedah mulut dan maksilofasial.
“Pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya dan berkontribusi besar terhadap perkembangan saya sebagai seorang ahli bedah mulut dan maksilofasial,” ungkap drg. Yosi.

Pengalaman yang Diharapkan Menjadi Inspirasi bagi Residen dan Staf FKG UGM
Pengalaman internasional yang pernah diperolehnya membuat drg. Yosafat berharap kesempatan serupa dapat dirasakan oleh para staf dan residen FKG UGM. Menurutnya, interaksi langsung dengan pakar dari berbagai negara dapat memperluas wawasan sekaligus memperkaya pengalaman pendidikan dan klinis.
“Saya berharap staf dan residen kami di FKG UGM juga mendapatkan kesempatan di masa depan untuk memperoleh pengalaman yang serupa seperti saya,” katanya.
Kehadiran Prof. Tomihara dan Prof. Kim menjadi peristiwa penting karena keduanya datang dari dua negara dengan tradisi pendidikan dan praktik kedokteran gigi yang kuat. drg. Yosi secara khusus menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan keduanya menempuh perjalanan jauh dari Jepang dan Korea Selatan menuju Yogyakarta.
“Kami sangat bersyukur atas kesempatan untuk belajar langsung dari Anda berdua yang merupakan pakar di bidang bedah mulut dan maksilofasial,” ujar drg. Yosi
Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sesi kuliah atau transfer pengetahuan satu arah. FKG UGM melihat pertemuan tersebut sebagai peluang untuk membangun hubungan akademik yang lebih kuat dengan institusi dan para pakar internasional.
“Saya yakin kuliah hari ini akan memberikan pengetahuan berharga, memicu diskusi yang bermakna, dan mudah-mudahan menjadi awal dari kolaborasi akademik yang lebih kuat dalam pendidikan, penelitian, maupun praktik klinis,” tuturnya.
Menutup sambutannya, drg. Yosafat kembali menyampaikan selamat datang kepada Prof. Tomihara dan Prof. Kim di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia berharap pertemuan tersebut berlangsung produktif dan memberikan inspirasi bagi seluruh peserta.
Paradigma penanganan kanker mulut mengalami pergeseran fundamental. Kanker stadium lanjut yang dahulu kerap dianggap sebagai akhir jalan medis, kini bertransformasi menjadi kondisi yang terukur dan dapat ditaklukkan melalui pendekatan imunoterapi presisi. Pesan penuh optimisme sekaligus ketajaman analisis ilmiah ini mengemuka dalam kuliah tamu internasional yang digelar di Lantai 3 Gedung Margono Soeradji FKG UGM pada Selasa, (11/082026).
Hadir sebagai narasumber utama, pakar bedah mulut dan imunologi kanker dari Jepang, Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D., membawakan orasi ilmiah bertajuk “Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio in Oral Squamous Cell Carcinoma: From Predicting Immunotherapy Outcomes to Overcoming Resistance.” Di hadapan jajaran dosen & residen BMM FKG UGM, Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. menguraikan peta jalan ilmiah terkini dalam menghadapi Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC).
Imunoterapi: Ketika Sistem Imun Kembali Dipersenjatai
Dalam pembukaannya, Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. menjelaskan bagaimana sel-sel kanker mulut secara licik mengecoh sistem kekebalan tubuh. Kanker memanfaatkan molekul immune checkpoint mekanisme rem alami tubuh agar sel kekebalan tidak menyerang jaringan sehat untuk meloloskan diri dari deteksi limfosit.
Sejak disetujuinya penggunaan obat pemblokir titik kendali imun (seperti Nivolumab yang menargetkan molekul PD-1), lanskap terapi OSCC berubah secara revolusioner. Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. membagikan sejumlah bukti kasus klinis yang mencengangkan:
- Pasien Lansia (78 Tahun): Mengalami rekurensi lokal dan menolak operasi radikal. Hanya dengan monoterapi Nivolumab, pasien mencapai remisi komplit (complete response).
- Kasus Metastasis Paru: Pasien yang mengalami metastasis paru pasca-terapi kuratif mengalami penyembuhan total di mana nodul metastasis paru lenyap sepenuhnya setelah imunoterapi.
- Kanker Lokal Lanjut Tanpa Operasi: Kombinasi chemoradiotherapy yang dilanjutkan Nivolumab berhasil memberikan remisi sempurna tanpa perlu tindakan pembedahan mutilatif.
“Melalui kemajuan imunoterapi, khususnya hadirnya pemblokir titik kendali imun (ICI), penanganan kanker mulut stadium lanjut telah mengalami revolusi. Oleh karena itu, kanker bukan lagi sebuah vonis mati!” Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D.
Tantangan Realitas Klinis
Namun, di balik optimisme tersebut, Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. memberikan analisis kritis berbasis fakta lapangan. Imunoterapi bukanlah obat ajaib universal yang bekerja pada semua pasien.
Berdasarkan studi multipusat (multi-center study) yang dipimpinnya di berbagai rumah sakit di Jepang, Tingkat Respons Objektif (ORR) imunoterapi hanya mencapai 25,1%, dengan Tingkat Pengendalian Penyakit (DCR) sebesar 32,9%. Artinya, hampir 75% pasien tidak memberikan respons optimal terhadap terapi tunggal ini.
Kenyataan ini menegaskan tantangan terbesar dalam onkologi modern: bagaimana menentukan biomarker prediktif yang andal untuk mengidentifikasi pasien mana yang benar-benar akan diuntungkan oleh imunoterapi.
Mengurai Mikrolingkungan Tumor: Peran Populasi Sel Mieloid
Untuk memecahkan misteri resistensi tersebut, tim peneliti Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. berfokus pada mikrolingkungan tumor, khususnya populasi sel-sel mieloid supresif. Melalui model penelitian praklinis pada mencit (syngeneic mouse oral cancer model), ditemukan bahwa akumulasi populasi sel hibrida:
- Mengekspresikan molekul PD-L1 secara melimpah pada permukaannya.
- Secara fungsional menekan kuat proliferasi limfosit T secara in vitro, sehingga melumpuhkan pasukan pertahanan alami tubuh.
NLR: Biomarker Sederhana, Murah, dan Berdaya Prediksi Tinggi
Koneksi antara sel mieloid supresif dan respon imun ini bermuara pada satu parameter klinis yang sangat terjangkau: Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) atau Rasio Neutrofil terhadap Limfosit. Neutrofil mencerminkan inflamasi sistemik dan aktivitas mieloid supresif, sedangkan limfosit mencerminkan imunitas anti-tumor.
Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. membeberkan temuan data klinis pasien yang sangat krusial: NLR Tinggi saat Terapi (On-Treatment High NLR): Berkorelasi signifikan dengan respons imunoterapi yang buruk serta tingkat kelangsungan hidup (overall survival) yang lebih pendek. NLR Rendah saat Terapi (On-Treatment Low NLR): Menunjukkan angka kelangsungan hidup yang secara signifikan lebih panjang.
“Rasio neutrofil-limfosit dapat dipantau secara real-time hanya melalui perhitungan data laboratorium dari sampel darah rutin pasien. Ini memberi kita navigasi prediktif yang sangat berharga tanpa membebani biaya pasien.”
Terapi Penyelamatan (Salvage Chemotherapy): Harapan Bagi Pasien Resistensi
Pertanyaan berikutnya: Bagaimana menyelamatkan pasien yang gagal atau mengalami resistensi pasca-imunoterapi?
Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. memaparkan strategi taktis melalui Salvage Chemotherapy (kemoterapi penyelamatan), khususnya kombinasi Paclitaxel and Cetuximab (Terapi PC). Ia menampilkan kasus nyata seorang pria berusia 43 tahun dengan kanker lidah Stadium III yang mengalami rekurensi leher dan metastasis paru. Setelah penyakitnya tetap berkembang (progressive disease) di bawah terapi Nivolumab, pasien dialihkan ke terapi PC dan berhasil mencapai remisi komplit.
Kasus serupa terjadi pada wanita 67 tahun dengan metastasis paru dan hati. Pergantian strategi ke Paclitaxel mingguan pasca-imunoterapi menghasilkan durable complete response yang bertahan lebih dari 4 tahun. Fenomena ini mengindikasikan bahwa imunoterapi sebelumnya kemungkinan telah ‘mendidik’ atau mengubah lanskap imun tumor, sehingga sel kanker menjadi jauh lebih sensitif terhadap kemoterapi lini berikutnya.

Humanisme & Kolaborasi Riset Internasional
Mengenai efek samping terkait imun (immune-related adverse events) seperti dermatitis dan gangguan tiroid/endokrin, Prof.Kei Tomihara, DDS, Ph.D. menerangkan bahwa seluruhnya dapat dikelola dengan baik (manageable) tanpa harus menghentikan terapi.
Di akhir orasinya, Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. membagikan potret kehangatan tim risetnya di Jepang yang banyak melibatkan peneliti muda dan mahasiswa pascasarjana internasional, termasuk dari Indonesia, Nepal, dan Tiongkok. “Mereka sangat produktif, cerdas, dan rutin mempublikasikan karya ilmiah bereputasi tinggi setiap tahunnya,” puji Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D.
Pemaparan Prof. Kei Tomihara, DDS, Ph.D. menghadirkan pijakan nyata bagi praktisi medis untuk menghadirkan layanan kesehatan yang presisi, efisien, dan memberi harapan baru bagi pasien kanker di seluruh dunia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Azahra)