News

/

Artikel, Latest News, SDG 12, SDG 15, SDG 17, SDG 3, SDG 9

Kopi Robusta Hijau untuk Gusi yang Terluka: Menjanjikan, tapi Belum Cukup

Bayangkan secangkir kopi robusta, belum disangrai, masih hijau, diubah menjadi gel dan dioleskan pada luka gusi tikus. Ide ini bukan sekadar eksperimen dapur; ia lahir dari hipotesis ilmiah yang serius tentang potensi senyawa aktif kopi sebagai agen penyembuhan alami. Hasilnya? Lebih rumit dari yang diharapkan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Dentomaxillofacial Science edisi April 2023 mengkaji efek gel kopi robusta hijau (Coffea canephora) terhadap kepadatan kolagen pada proses penyembuhan luka gingiva. Penelitian ini merupakan kolaborasi dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, yang melibatkan Ni-Putu I. Suryadewi, Rinaldi B. Utomo, dan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K).

Ketika Luka Gusi Membutuhkan Lebih dari Antiseptik Biasa

Luka di rongga mulut bukan hal yang asing. Trauma, cabut gigi, operasi periodontal, semuanya meninggalkan jaringan yang harus pulih sendiri melalui tiga fase berurutan: inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Di fase proliferasi itulah kolagen menjadi pemain utama. Protein ini bukan sekadar “lem” biologis; ia membentuk kerangka jaringan ikat, mendorong pertumbuhan sel-sel baru, dan memastikan luka menutup dengan rapi.

Selama ini, povidone-iodine 10% menjadi andalan antiseptik di klinik gigi. Namun agen ini bukan tanpa masalah. Beberapa pasien mengalami sensitivitas terhadap iodine, dan rasanya yang tidak nyaman kerap jadi keluhan. Maka para peneliti melirik alternatif alami, salah satunya kopi robusta hijau yang kaya akan klorogenat, flavonoid, kafein, saponin, dan tokoferol. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang secara teoretis dapat merangsang pembentukan kolagen dermal dengan meningkatkan produksi TIMP-1, suatu inhibitor enzim yang mencegah kolagen rusak sebelum waktunya.

Empat Puluh Lima Tikus dan Lima Kelompok Perlakuan

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti menggunakan 45 ekor tikus Wistar berusia dua hingga tiga bulan. Setiap tikus dibuat luka standar menggunakan punch biopsy berdiameter 3 mm pada gingiva labial gigi insisivus mandibula. Luka yang presisi dan terstandar ini penting agar hasil antar kelompok bisa dibandingkan secara adil.

Tikus kemudian dibagi ke dalam lima kelompok: tiga kelompok perlakuan dengan gel kopi robusta hijau konsentrasi 10%, 20%, dan 40%; satu kelompok kontrol positif menggunakan povidone-iodine 10%; dan satu kelompok kontrol negatif menggunakan basis gel CMC-Na tanpa bahan aktif. Intervensi diberikan dua kali sehari selama 10 hari. Pada hari ke-5 dan ke-10, tiga ekor tikus dari masing-masing kelompok dikorbankan untuk pembuatan preparat histologis.

Kepadatan kolagen diamati dengan pewarnaan Trichrome Mallory di bawah mikroskop cahaya perbesaran 400 kali, dalam lima lapang pandang. Skor diberikan dari 0 (tidak ada kolagen) hingga 3 (kepadatan tinggi). Data diolah menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney U.

Temuan yang Mengejutkan: Tidak Ada Perbedaan Bermakna

Secara umum, kepadatan kolagen di semua kelompok meningkat dari hari ke-5 ke hari ke-10. Ini konsisten dengan teori bahwa sintesis kolagen dimulai sekitar tiga hari setelah cedera dan berlangsung intensif hingga dua hingga empat minggu. Kelompok gel kopi 20% mencatat median kepadatan kolagen tertinggi pada hari ke-10, yakni skor 3,0, setara dengan kelompok kontrol negatif.

Namun, ketika diuji secara statistik, tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kelompok-kelompok tersebut (p > 0,05). Artinya, gel kopi robusta hijau dalam konsentrasi 10%, 20%, maupun 40% tidak terbukti lebih unggul dari kontrol positif maupun negatif dalam meningkatkan kepadatan kolagen gingiva.

“Kemungkinan lain adalah bahwa konsentrasi komponen aktif perlu lebih tinggi untuk mencapai kepadatan kolagen yang diinginkan.”

Satu-satunya perbedaan bermakna yang muncul justru ada pada kelompok povidone-iodine: terdapat peningkatan signifikan kepadatan kolagen antara hari ke-5 dan ke-10 (p = 0,046). Ini menunjukkan bahwa povidone-iodine, meski bukan tanpa efek samping, tetap bekerja cukup konsisten sebagai agen antimikroba yang menekan kontaminasi dan memberi kondisi optimal bagi pembentukan kolagen.

Mengapa Kopi Hijau Belum Bisa Jadi Jawaban

Tim peneliti mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin menjelaskan hasil yang tidak signifikan ini. Pertama, gel yang digunakan bukan ekstrak murni melainkan campuran serbuk kopi dengan basis gel, sehingga terdapat banyak senyawa pengotor yang berpotensi mengganggu kerja senyawa aktif. Kedua, dalam kopi robusta ditemukan senyawa sesquiterpene lactones (SLs), senyawa terpenoid yang ironisnya justru dapat menghambat pembentukan kolagen dan bersifat sitotoksik terhadap jaringan sehat.

Ketiga, ada faktor teknis: tekstur gel yang lebih kental akibat campuran serbuk kopi memperlambat absorpsi, dan keseragaman kedalaman luka antar tikus sulit dijaga secara sempurna. Penilaian kepadatan kolagen yang dilakukan secara manual oleh manusia juga berpotensi mengandung bias kelelahan.

Penelitian ini tidak menutup pintu bagi kopi robusta sebagai agen terapeutik. Sebaliknya, ia memberikan peta jalan yang lebih jelas: ekstrak murni dengan konsentrasi lebih tinggi, bebas dari senyawa penghambat, perlu diuji untuk melihat apakah potensi teoretis kopi benar-benar bisa diterjemahkan ke dalam manfaat klinis. Jarak antara harapan dan bukti, dalam sains, selalu diisi oleh pertanyaan berikutnya

Sumber DOI : 10.15562/jdmfs.v8i1.1284

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Teh Hijau dan Nanoteknologi: Kolaborasi Tak Terduga untuk Penyembuhan Luka Gusi

23 July 2026

Satu Penyuluhan, Skor Melonjak: Misi Sadar Gigi di Ngaglik

23 July 2026

Air Sumur Basa dan Dataran Tinggi Kapur: Dua Faktor Tersembunyi di Balik Parahnya Penyakit Gusi di Pundong

en_US