News

/

Artikel, Latest News, SDG 12, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Suplemen Omega-3 dari Ganggang Laut Ternyata Bisa Memperlambat Pergerakan Gigi Ortodontik

Bayangkan seseorang yang sedang menjalani perawatan kawat gigi rutin mengonsumsi suplemen minyak ikan setiap hari karena ingin menjaga kesehatan tulang. Tanpa disadari, suplemen itu mungkin sedang bekerja melawan tujuan perawatan ortodontiknya. Temuan inilah yang muncul dari penelitian Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort. bersama tim peneliti Universitas Gadjah Mada, yang dipublikasikan dalam Journal of International Dental and Medical Research pada 2019.

Penelitian itu mengungkap sesuatu yang tidak banyak diduga sebelumnya: DHA (Docosahexaenoic Acid) dari mikroalga, komponen omega-3 yang lazim dijual sebagai suplemen diet, terbukti memperlambat laju pergerakan gigi ortodontik secara signifikan pada model hewan coba.

Dari Ganggang Laut ke Tulang Alveolar

DHA dari mikroalga bukan bahan asing di dunia kesehatan. Senyawa dengan formula molekuler C₂₂H₃₂O₂ ini telah lama dikenal sebagai pelindung terhadap penyakit tulang inflamatoris seperti rheumatoid arthritis dan osteoporosis. Sumber utamanya adalah Schizochytrium sp., sejenis mikroalga yang mengandung 40 hingga 45 persen DHA dari total beratnya.

Kunci mekanismenya ada pada proses yang disebut osteoclastogenesis, yakni pembentukan osteoklas, sel-sel yang bertanggung jawab meresorpsi atau “memakan” tulang alveolar. Dalam perawatan ortodontik, resorpsi tulang di sisi kompresi inilah yang memungkinkan gigi berpindah posisi. Tanpa osteoklas, gigi tidak bergerak. Nah, DHA diketahui menghambat jalur RANKL dan M-CSF, dua sitokin proinflamatoris yang paling krusial dalam merekrut dan mengaktifkan osteoklas.

Pertanyaannya kemudian menjadi konkret: jika DHA menekan osteoclastogenesis, apakah konsumsinya akan mengganggu pergerakan gigi pada pasien yang sedang memakai alat ortodontik?

Kelinci, Kawat, dan Kaliper Digital

Untuk menjawab pertanyaan itu, Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort. dan tim merancang studi eksperimental kuasi-laboratoris di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM. Lima belas ekor kelinci New Zealand jantan berusia 6 hingga 8 minggu dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol yang hanya menjalani pergerakan gigi ortodontik, kelompok DHA-750 yang mendapat suplemen 750 mg per hari, dan kelompok DHA-1500 yang mendapat 1500 mg per hari.

Alat ortodontik berupa open coil spring dari nikel-titanium dipasang pada gigi insisivus bawah kanan dan kiri setiap kelinci, memberikan gaya konstan sekitar 100 gram. Suplemen DHA dari Schizochytrium sp. diberikan setiap pagi melalui sonde selama 14 hari berturut-turut. Jarak pergerakan gigi diukur pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14 menggunakan kaliper digital Vernier dengan presisi 0,01 mm.

Hasilnya konsisten di setiap titik pengukuran. Kelompok kontrol mencatat pergerakan gigi tertinggi setelah 14 hari, yakni 5,50 mm. Kelompok DHA-750 menghasilkan 4,80 mm, sementara DHA-1500 hanya 4,63 mm. Perbedaan antar kelompok bermakna secara statistik pada seluruh titik waktu (p<0,05).

“DHA microalgae has a potential to decrease orthodontic tooth movement.” — Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort., et al., Journal of International Dental and Medical Research, 2019

Dosis Lebih Tinggi, Hambatan Lebih Kuat

Pola yang menarik muncul saat peneliti membandingkan dua dosis DHA. Pada hari ke-3, yang masuk dalam fase awal pergerakan gigi ortodontik, kedua dosis memberikan efek penghambatan yang tidak berbeda signifikan satu sama lain. Ini masuk akal: pada fase awal, kadar RANKL melonjak drastis dalam ligamen periodontal hanya beberapa jam setelah gaya diberikan, dan kedua dosis tampaknya bekerja pada tingkat yang setara dalam menekan lonjakan tersebut.

Namun memasuki hari ke-7 dan ke-14, ketika pergerakan gigi masuk ke fase lag, perbedaan dosis mulai terlihat nyata. DHA-1500 menunjukkan penghambatan yang lebih kuat dibanding DHA-750, dengan perbedaan bermakna secara statistik. Secara klinis, penurunan total jarak pergerakan gigi akibat DHA adalah sekitar 0,75 mm untuk dosis 750 mg dan 0,92 mm untuk dosis 1500 mg, atau setara dengan pengurangan 13,5 persen dan 16,5 persen dibanding kontrol.

Angka itu mungkin terdengar kecil. Namun dalam dunia ortodontik, milimeter adalah satuan yang sangat bermakna. Penurunan laju pergerakan gigi sebesar 13 hingga 16 persen bisa berarti perpanjangan waktu perawatan yang tidak trivial bagi pasien.

Implikasi yang Belum Banyak Dibicarakan

Penelitian ini membuka percakapan yang belum banyak terjadi di ruang konsultasi ortodontik: apakah dokter gigi perlu menanyakan riwayat konsumsi suplemen omega-3 kepada pasien sebelum memulai atau selama perawatan ortodontik aktif?

Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort. dan tim mencatat bahwa temuan ini juga membuka potensi sebaliknya. Karena DHA terbukti menekan resorpsi tulang alveolar, senyawa ini berpotensi dikembangkan sebagai agen pelindung terhadap root resorption, salah satu komplikasi yang ditakuti dalam perawatan ortodontik jangka panjang. Penelitian lanjutan pada pasien manusia disebut sebagai agenda riset berikutnya.

Suplemen yang selama ini dianggap murni bermanfaat ternyata menyimpan kompleksitas yang lebih dalam, setidaknya bagi mereka yang giginya sedang dalam proses berpindah tempat.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Tambalan Lama, Kawat Baru: Bahaya Tersembunyi di Balik Senyum Behel

23 July 2026

Jarak Sedot Aerosol dan Risiko Bakteri di Balik Face Shield Dokter Gigi

23 July 2026

Aerogel TiO₂: Terobosan Material Sel Surya dari Laboratorium UI

en_US