News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Gigi Lebih Putih, Behel Lebih Kuat: Misteri di Balik Agen Desensitisasi Pasca Bleaching

Bayangkan seorang pasien dewasa yang datang ke klinik ortodonsi dengan dua keinginan sekaligus: gigi yang lurus and putih bersih. Ia sudah menjalani bleaching di klinik, dan kini ingin segera dipasangi braket logam. Pertanyaan yang muncul bukan soal estetika, melainkan teknis: apakah braket itu akan menempel cukup kuat setelah enamel giginya baru saja “diserang” hidrogen peroksida?

Pertanyaan itulah yang mendorong tim peneliti dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada melakukan studi laboratorium yang hasilnya dipublikasikan di European Journal of Dentistry pada Desember 2023. Tim yang terdiri dari Septia Emi Ambersari, Dr. drg. Dyah Karunia, Sp.Ort., dan Prof. Ananto Ali Alhasyimi menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan: agen desensitisasi berbasis fluoride tidak hanya meredakan nyeri pasca bleaching, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kekuatan perlekatan braket ortodontik pada permukaan enamel.

Ketika Pemutih Gigi Menjadi Masalah bagi Braket

In-office bleaching bekerja dengan cara yang cukup agresif secara kimiawi. Hidrogen peroksida 37% menghasilkan radikal bebas yang memecah molekul besar penyebab perubahan warna gigi. Namun, sisa radikal bebas dan peroksida yang tertinggal di permukaan enamel menjadi penghalang serius bagi proses penempelan braket. Sisa oksigen ini mengganggu polimerisasi resin komposit, yakni bahan perekat yang digunakan untuk melekatkan braket ke gigi.

Akibatnya, shear bond strength (SBS), atau kekuatan geser braket, menurun. Braket yang mudah lepas bukan sekadar gangguan kecil: ia memperpanjang durasi perawatan, membuang waktu, dan berpotensi merusak enamel. Prevalensi braket lepas dalam perawatan ortodonti sendiri berkisar antara 0,5 hingga 17,6 persen.

Di sisi lain, bleaching juga memicu hipersensitivitas gigi karena agen pemutih meningkatkan permeabilitas enamel dan dentin, memungkinkan bahan kimia meresap hingga ke pulpa. Untuk mengatasi ini, klinisi biasanya meresepkan agen desensitisasi. Pertanyaannya: agen desensitisasi mana yang paling menguntungkan jika pasien berencana langsung memasang braket?

Tiga Kelompok, Satu Mesin Uji, dan Temuan yang Tak Terduga

Penelitian ini menggunakan 27 gigi premolar atas yang baru dicabut, dibagi menjadi tiga kelompok. Semua gigi diputihkan terlebih dahulu dengan hidrogen peroksida 37% selama tiga siklus masing-masing 20 menit. Kelompok pertama tidak diberi agen desensitisasi apa pun setelah bleaching (kontrol). Kelompok kedua menerima agen desensitisasi berbasis fluoride, yakni CPP-ACFP (casein phosphopeptide-amorphous calcium fluoride phosphate). Kelompok ketiga mendapat agen desensitisasi non-fluoride berupa CPP-ACP (casein phosphopeptide-amorphous calcium phosphate).

Setelah perlakuan, braket logam ditempelkan menggunakan Transbond XT, lalu diuji kekuatan gesernya menggunakan universal testing machine. Hasilnya dianalisis bersama adhesive remnant index (ARI), yaitu skor yang mengukur seberapa banyak sisa perekat tertinggal di permukaan gigi setelah braket dilepas. Permukaan enamel juga diamati menggunakan scanning electron microscope (SEM) dan dianalisis kandungan kalsium serta fosfornya.

Hasilnya berbicara tegas. Kelompok CPP-ACFP mencatat rata-rata SBS tertinggi, yakni 8,13 MPa, dibandingkan kelompok kontrol yang hanya 5,69 MPa. Kelompok CPP-ACP berada di tengah dengan 6,88 MPa, namun secara statistik tidak berbeda signifikan dari kelompok kontrol.

“Kandungan fluoride dalam agen desensitisasi sangat penting dalam meningkatkan SBS braket logam dengan sementasi resin komposit setelah in-office bleaching.” — Ambersari, Karunia, Alhasyimi, European Journal of Dentistry, 2023

Fluoride Membentuk Perisai di Permukaan Enamel

Mengapa fluoride membuat perbedaan yang begitu besar? Jawabannya ada pada mekanisme remineralisasi. CPP-ACFP membentuk lapisan kalsium fluoride di permukaan enamel yang, selain memperkuat struktur kristal, juga menetralisasi sisa oksigen dari proses bleaching. Lapisan ini memungkinkan polimerisasi resin berjalan tanpa gangguan, sehingga perlekatan braket menjadi lebih solid.

Fluoride juga mengubah hidroksiapatit menjadi fluorapatit, mineral yang lebih keras dan lebih tahan asam. Proses remineralisasi pun berlangsung lebih luas dan lebih cepat dibandingkan agen non-fluoride. Ini terkonfirmasi oleh hasil analisis EDX: permukaan enamel pada kelompok CPP-ACFP menunjukkan kandungan kalsium dan fosfor yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol.

Gambaran SEM memperkuat temuan ini. Pada kelompok kontrol, permukaan enamel terlihat berpori dan tidak teratur. Pada kelompok CPP-ACFP, pori-pori itu hampir tidak terlihat, tertutup oleh lapisan putih merata. Skor ARI pada kelompok ini pun didominasi angka 2, artinya lebih dari 90 persen bahan perekat masih menempel di gigi setelah braket dilepas. Ini pertanda ikatan yang kuat terbentuk di sisi gigi, bukan di sisi braket.

Satu Kunjungan untuk Dua Prosedur Sekaligus

Implikasi klinis dari penelitian ini cukup langsung. Selama ini, banyak klinisi menyarankan jeda waktu antara prosedur bleaching dan pemasangan braket, justru karena kekhawatiran terhadap menurunnya SBS. Penelitian ini membuka kemungkinan bahwa dengan aplikasi CPP-ACFP segera setelah bleaching, pasien bisa menjalani kedua prosedur dalam satu kunjungan yang sama.

Nilai SBS 8,13 MPa yang dicapai kelompok CPP-ACFP berada di atas ambang minimal yang direkomendasikan Reynolds (5,9 hingga 7,8 MPa untuk menahan tekanan mastikasi dan gaya ortodontik), namun jauh di bawah batas aman Retief (13,5 MPa) yang bisa menyebabkan fraktur enamel. Artinya, kekuatan itu cukup fungsional sekaligus aman.

Tentu saja, studi ini masih berskala laboratorium dengan sampel terbatas. Para peneliti sendiri menyebut perlunya studi klinis lanjutan untuk mengonfirmasi efektivitas CPP-ACFP dengan variasi interval waktu antara bleaching dan pemasangan braket. Tapi untuk sementara, jawaban atas dilema “putih dulu atau pasang braket dulu” tampaknya mulai menemukan bentuknya, tersimpan dalam lapisan tipis fluoride di permukaan enamel yang baru saja dipoles.

Sumber DOI : https://doi.org/
10.1055/s-0043-1776119.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Tambalan Lama, Kawat Baru: Bahaya Tersembunyi di Balik Senyum Behel

23 July 2026

Jarak Sedot Aerosol dan Risiko Bakteri di Balik Face Shield Dokter Gigi

23 July 2026

Aerogel TiO₂: Terobosan Material Sel Surya dari Laboratorium UI

en_US