News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Model Gigi Digital vs Gips: Mana yang Lebih Akurat untuk Diagnosis Ortodonti?

Sebuah pertanyaan mendasar menghantui setiap klinik ortodonti yang mulai beralih ke teknologi digital: apakah model gigi tiga dimensi yang dipindai layar komputer bisa dipercaya setepat model gips konvensional yang sudah puluhan tahun menjadi standar emas? Penelitian yang melibatkan tim dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia mencoba menjawab pertanyaan itu secara sistematis.

Hasilnya: keempat metode pengukuran yang diuji, termasuk model gips konvensional, pemindaian digital 2D, intraoral scanning 3D, hingga Cone Beam Computed Tomography (CBCT), semuanya terbukti akurat. Namun tingkat akurasinya tidak sepenuhnya setara.

Ketika Gips Masih Menjadi Raja

Model studi adalah fondasi diagnosis ortodonti. Dari sinilah dokter gigi spesialis ortodonti mengukur lebar mesiodistal gigi, menghitung diskrepansi ruang, dan merencanakan pergerakan gigi yang akan berlangsung selama bertahun-tahun. Kesalahan satu milimeter saja bisa berarti perbedaan antara perawatan yang tepat dan yang meleset.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Dentomaxillofacial Science edisi April 2023 ini dirancang sebagai studi komparatif eksperimental. Tim peneliti, termasuk Dr. drg. Dyah Kurnia, Sp.Ort. dari FKG UGM, menggunakan typodont sebagai kelompok kontrol atau “gold standard”, yakni model gigi buatan dengan morfologi lengkap dan terstandar. Dari satu typodont yang sama, dibuat lima kelompok model dengan metode berbeda: model gips konvensional, pemindaian 2D menggunakan flatbed scanner, intraoral scanning 3D dengan perangkat Medit i-500, dan pencitraan CBCT menggunakan Orthopantomograph OP300.

Setiap pengukuran diulang tiga kali oleh observer yang sama, lalu dirata-ratakan. Parameter yang diukur mencakup total lebar mesiodistal gigi dan jarak interpremolar.

Hasilnya menunjukkan model gips konvensional meraih nilai korelasi tertinggi dibanding metode lain. Untuk pengukuran total lebar mesiodistal, model gips mencapai nilai R = 0,982, sementara intraoral scanning 3D menghasilkan R = 0,961, CBCT sebesar R = 0,941, dan pemindaian 2D di angka R = 0,913. Semua nilai ini melampaui ambang batas signifikansi statistik (p < 0,05).

Mengapa Gips Unggul, dan Apa Kelemahan Digital

Keunggulan model gips bukan tanpa penjelasan logis. Metode pengukurannya menggunakan kaliper digital yang sama persis dengan cara mengukur typodont sebagai kontrol, sehingga kondisi pengukuran sangat mirip. Penyusutan material cetak alginate dan degradasi gipsum memang menimbulkan sedikit selisih, tetapi tidak cukup signifikan untuk mengurangi akurasi secara berarti.

Model gips tetap punya kelemahan yang tidak bisa diabaikan: membutuhkan ruang penyimpanan fisik, rentan rusak, dan tidak bisa dibagikan secara instan ke kolega atau spesialis lain.

Di sinilah teknologi digital menawarkan kelebihan nyata. Intraoral scanning 3D, misalnya, menggunakan teknik confocal imaging yang mampu mendeteksi ketajaman area objek dan menghitung jarak berdasarkan panjang fokus lensa. Hasilnya disimpan dalam format .stl yang bisa dibuka dari mana saja, tidak memerlukan ruang fisik, dan tidak ada risiko kerusakan model. Bagi pasien dengan refleks muntah yang kuat atau keterbatasan membuka mulut, metode ini juga jauh lebih nyaman dibanding pencetakan alginate konvensional.

“The three-dimensional model has many advantages over conventional plaster models in orthodontic aspects, including it is easier to share with doctors or other professionals from anywhere for advice on treatment plans or diagnostics.”

Pemindaian 2D justru menjadi metode dengan akurasi terendah, terutama untuk pengukuran jarak interpremolar (R = 0,881). Struktur konveks gigi posterior dan sudut pemindaian yang tidak selalu tepat membuat titik referensi anatomis, khususnya lekukan mesial pada permukaan oklusal premolar, sulit diidentifikasi dengan presisi.

CBCT: Canggih tapi Bukan untuk Semua Kasus

Pengukuran dengan CBCT menunjukkan akurasi yang sangat kuat, dengan nilai R di atas 0,90 untuk kedua parameter. Metode ini menggunakan sistem segmentasi yang memungkinkan visualisasi kontur setiap gigi secara jelas, sehingga pengukuran lebar mesiodistal bisa dilakukan dari tampilan oklusal dengan akurasi tinggi.

Namun CBCT bukan tanpa hambatan. Biayanya tinggi, memerlukan pelatihan tambahan untuk operator, dan paparan radiasinya lebih besar dibanding foto rontgen konvensional. Dalam praktik klinis, CBCT lebih diindikasikan untuk kasus khusus seperti evaluasi gigi impaksi, penilaian saluran napas faring, perencanaan mini implan, atau persiapan bedah ortognatik. Menggunakannya hanya untuk analisis model rutin akan terasa berlebihan, baik dari sisi biaya maupun risiko.

Pilihan Metode adalah Pertimbangan Klinis

Temuan penelitian ini tidak menyatakan satu metode lebih baik dari yang lain secara mutlak. Semua metode akurat. Yang berbeda adalah konteks penggunaannya.

Klinik dengan keterbatasan teknologi tetap bisa mengandalkan model gips konvensional dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Klinik yang ingin efisiensi penyimpanan dan kemudahan berbagi data antar dokter bisa beralih ke intraoral scanning 3D tanpa mengorbankan akurasi secara signifikan. CBCT tetap relevan untuk indikasi klinis tertentu yang memang membutuhkan gambaran tiga dimensi komprehensif.

Penelitian ini mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Gadjah Mada, dan pelaksanaannya melibatkan fasilitas Departemen Ortodonsia FKG UGM serta Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Yogyakarta.

Di satu sisi, temuan ini melegakan: transisi ke dunia digital tidak harus berarti mengorbankan ketepatan diagnosis. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak otomatis menggantikan pemahaman mendalam tentang anatomi gigi dan ketelitian tangan yang mengukurnya.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Gigi Lebih Putih, Behel Lebih Kuat: Misteri di Balik Agen Desensitisasi Pasca Bleaching

23 July 2026

Nanorod ZnO dan Masa Depan Baterai Lithium: Riset Dosen FKG UGM yang Menembus Jurnal Internasional

23 July 2026

Gigi Putih, Kawat Gigi Kuat: Solusi untuk Pasien yang Ingin Keduanya Sekaligus

en_US