Musim kemarau sering berdampak pada berkurangnya air bersih. Masyarakat biasanya mengandalkan air sumur atau air PDAM. Namun pasokan air tanah terus menipis setiap tahun. Banyak pihak mulai mencari sumber air alternatif. Apakah air hujan aman untuk dikonsumsi?
Rabu (22/7), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menerima kunjungan dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Pertemuan ini membahas bagaimana sistem pemanen air hujan (rain water harvesting) yang ingin diadopsi oleh FEB UGM.
Pada tahun 2022, FKG UGM memulai untuk memanen air hujan pada gedung Dental Learning Center (DLC). Wulansari, S.S selaku Kepala Kantor FKG UGM menyebut proses panen air hujan adalah menangkap air melalui atap gedung. Talang air menyalurkan limpahan air tersebut ke tangki bawah tanah.
“Gedung DLC menggunakan air ini untuk keperluan mandi, cuci, kakus. Dan juga sebagai cadangan air saat musim kemarau datang,” ucap Wulansari.
Pengelola Sarana dan Prasarana Magister Manajemen (MM) FEB UGM, Teguh Sulistiyono, yang hadir dalam kunjungan tersebut mengungkapkan niat fakultasnya untuk mereplikasi sistem ini guna memperkuat ketahanan kawasan kampus FEB UGM saat musim kemarau tiba.
“Memang di FEB sudah ada perencanaan terkait pemanfaatan air hujan ini, namun infrastruktur yang kami miliki belum lengkap. Saya rasa di sini (FKG) sudah banyak hal bagus yang bisa kami pelajari untuk diterapkan FEB UGM,” ungkap Teguh.




Ketertarikan FEB UGM untuk mereplikasi instalasi tersebut sangat beralasan. Tercatat, sistem Rainwater Harvesting di Gedung DLC mengandalkan tangki bawah tanah berkapasitas 600 meter kubik (600.000 liter). Melalui infrastruktur ini, Gedung DLC telah berhasil beroperasi selama 4 tahun terakhir tanpa menyedot pasokan air sumur sama sekali.
Selain digunakan untuk MCK, awal tahun 2026 air tadah hujan ini sudah layak untuk diminum. Pengelola Sarana dan Prasarana FKG UGM, Buana Yaksa menjelaskan air hujan yang ditampung sudah melewati beberapa tahap penyaringan.
Sistem pompa menarik air dari tangki menuju ruang pemrosesan. Air hujan tersebut wajib melewati delapan tahap penyaringan. Filter pasir dan filter karbon menyaring kotoran secara maksimal. Sedangkan sinar ultraviolet (UV) membunuh bakteri dan kuman penyakit. Pada tahap terakhir, mesin Reverse Osmosis (RO) memurnikan air hingga siap untuk dikonsumsi.
“Dari segi penghematan, mesin RO yang ada mampu memproduksi air bersih 100 galon per hari. Angka ini dapat memangkas pengeluaran pembelian air galon komersial seharga Rp15.000 per buah,” kata Buana.
Keberhasilan inilah yang membuat Gedung Dental Learning Center FKG UGM meraih predikat Gold Sertifikasi Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI) pada Februari 2026 lalu. Ke depan, sistem pengolahan air minum ini rencananya akan diperluas ke gedung lain yang ada di FKG UGM.
Author and Photo: Fajar Budi Harsakti