Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menjalin kemitraan dengan 26 sekolah dasar di Kecamatan Depok, Yogyakarta, menggelar program promosi dan pencegahan penyakit gigi mulut bagi para siswanya. Namun sebuah pertanyaan menggantung: apakah program selama satu dekade lebih itu benar-benar mengubah kondisi gigi anak-anak yang menjadi sasarannya? Dr. drg. Sri Widiati, MPH, dari Departemen Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan FKG UGM mencoba menjawabnya melalui sebuah studi yang hasilnya, ternyata, tidak sesederhana yang diharapkan.
Angka yang Mengejutkan dari Bangku Kelas Lima dan Enam
Studi yang dipublikasikan dalam The Indonesian Journal of Dental Research ini melibatkan 196 siswa kelas lima dan enam. Sebanyak 106 siswa berasal dari sembilan sekolah yang mengikuti program kemitraan dengan FKG UGM, sementara 90 siswa lainnya berasal dari sekolah yang tidak terlibat. Kondisi kesehatan gigi mereka diukur menggunakan dua indikator standar: OHI-S (Oral Hygiene Index Simplified) untuk menilai kebersihan rongga mulut, dan DMF-t untuk menghitung pengalaman karies gigi permanen yang pernah berlubang, ditambal, atau dicabut.
Hasilnya memperlihatkan sesuatu yang menarik sekaligus mengusik. Rata-rata skor OHI-S siswa dari sekolah mitra sedikit lebih baik, yakni 1,096 dibanding 1,201 pada siswa sekolah non-mitra. Skor DMF-t juga sedikit lebih rendah: 3,280 berbanding 3,227. Selisihnya ada, tapi secara statistik perbedaan itu tidak bermakna. Artinya, secara klinis, kondisi kebersihan mulut dan tingkat karies kedua kelompok nyaris setara.
Pengetahuan Naik, Perilaku Belum Ikut
Di sinilah paradoks itu muncul. Meski kondisi fisik gigi kedua kelompok tidak berbeda nyata, pengetahuan dan sikap siswa dari sekolah mitra jauh lebih baik. Rata-rata skor pengetahuan mereka mencapai 12,25, sementara siswa dari sekolah non-mitra hanya 9,76. Untuk sikap terhadap kesehatan gigi, selisihnya juga signifikan: 62,08 berbanding 57,90. Kedua perbedaan ini bermakna secara statistik dengan nilai p kurang dari 0,001.
“Partnership between primary schools in Depok Subdistrict with Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada improved knowledge and attitude concerning oral and dental health, but failed to decrease OHI-S and DMF-t, indicating that more comprehensive interventions are needed.” — Dr. drg. Sri Widiati, MPH
Analisis jalur (path analysis) yang dilakukan lebih lanjut memperlihatkan bahwa kemitraan memang berkontribusi menurunkan OHI-S dan DMF-t, tetapi koefisiennya sangat kecil: masing-masing -0,086 dan -0,076. Ini berarti lebih dari 99 persen variasi kondisi kebersihan mulut dan karies pada anak-anak itu dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diukur dalam studi ini, mulai dari kebiasaan makan, pendidikan orang tua, paparan fluorida, hingga akses ke layanan dokter gigi.
Kesenjangan antara Tahu dan Lakukan
Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia kesehatan gigi masyarakat. Studi serupa dari Korea yang dirujuk dalam penelitian ini menunjukkan bahwa program edukasi kesehatan gigi berhasil meningkatkan pengetahuan, namun gagal menumbuhkan self-efficacy, yakni keyakinan diri bahwa seseorang mampu menjaga kesehatan giginya sendiri. Tanpa keyakinan itu, pengetahuan tidak otomatis berubah menjadi tindakan.
Penelitian lain dari Brasil juga menyebut bahwa faktor sosiodemografis seperti tingkat pendidikan ibu memiliki korelasi yang lebih kuat dengan pengalaman karies pada anak dibanding program edukasi sekolah. Ini mengingatkan bahwa kesehatan gigi anak bukan semata urusan sekolah atau klinik, melainkan terbentuk dari ekosistem yang jauh lebih luas.
Intervensi yang Lebih Dalam dari Sekadar Penyuluhan
Studi Dr. drg. Sri Widiati, MPH ini tidak berakhir sebagai kritik, melainkan sebagai peta jalan. Program kemitraan FKG UGM terbukti efektif membangun fondasi kognitif dan sikap positif pada anak-anak. Itu modal yang tidak kecil. Namun untuk mengubah kondisi gigi secara nyata, dibutuhkan intervensi yang lebih konkret dan menyentuh perilaku sehari-hari: latihan menyikat gigi yang benar langsung di sekolah, aplikasi fluorida secara rutin, pembatasan konsumsi gula, hingga pelayanan diagnosis dan perawatan gigi dasar yang tersedia di lingkungan sekolah.
Dua belas tahun kemitraan telah mengajarkan satu hal penting: memberitahu anak-anak tentang pentingnya menjaga gigi itu perlu, tapi belum cukup. Yang dibutuhkan adalah intervensi yang mengubah kebiasaan, bukan sekadar menambah pengetahuan. Karena pada akhirnya, gigi yang sehat bukan dibangun dari apa yang diketahui anak, melainkan dari apa yang mereka lakukan setiap hari.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik