News

/

Artikel, Latest News

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

Lebih dari 94 persen lansia yang diperiksa dalam sebuah penelitian di Yogyakarta tidak pernah rutin mengunjungi dokter gigi. Mereka datang ke klinik hanya kalau sudah sakit. Fakta ini mungkin tidak mengejutkan. Yang mengejutkan adalah apa yang ditemukan peneliti ketika mereka menghubungkan kebiasaan itu dengan sesuatu yang lebih dalam: seberapa paham seseorang membaca, memproses, dan bertindak atas informasi kesehatan gigi dan mulutnya sendiri.

Penelitian yang dipublikasikan di Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana edisi Juni 2024 itu menemukan bahwa literasi kesehatan mulut yang rendah berhubungan nyata dengan kondisi gusi yang lebih buruk pada lansia. Studi ini melibatkan 193 responden berusia 60 tahun ke atas dari dua Posyandu Lansia di Kecamatan Gondokusuman dan Mergangsan, Kota Yogyakarta, dan dilaksanakan pada 2023. Penelitian dipimpin oleh Budi Rodestawati, S.Kp.G., M.P.H., dari Departemen Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim dari FKG UGM.

Ketika Usia Bertambah, Gusi Pun Rentan

Proses penuaan membawa perubahan di seluruh sistem tubuh. Kemampuan imun menurun, jaringan gusi menjadi lebih mudah terinfeksi, dan risiko penyakit periodontal meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat bahwa lebih dari 95 persen lansia usia 55 tahun ke atas di Indonesia tidak pernah mendapatkan perawatan dari tenaga medis gigi. Hanya 2,9 persen yang menyikat gigi pada waktu yang tepat.

Kondisi gusi dalam penelitian ini dinilai menggunakan Modified Gingival Index (MGI), sebuah indeks klinis yang mengukur tingkat peradangan gusi mulai dari tidak ada peradangan (skor 0) hingga peradangan berat disertai perdarahan spontan (skor 4). Lima dokter gigi dan terapis gigi terlatih melakukan pemeriksaan langsung ke dalam rongga mulut setiap responden menggunakan kaca mulut, pinset, dan sonde periodontal.

Sementara itu, tingkat literasi kesehatan mulut diukur menggunakan kuesioner HeLD-14, yang terdiri dari 14 pertanyaan dengan skala 1 hingga 5. Kuesioner ini mengukur kemampuan responden dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan gigi untuk mengambil keputusan.

Semakin Paham, Semakin Sehat Gusinya

Hasil uji statistik menunjukkan korelasi yang signifikan antara literasi kesehatan mulut dan status gingiva (p=0,01). Arah korelasinya negatif: semakin tinggi skor literasi seseorang, semakin rendah skor MGI-nya, yang berarti kondisi gusi semakin baik. Kekuatan korelasinya tergolong lemah (r=0,242), namun tetap bermakna secara statistik.

“Literasi kesehatan gigi yang rendah menjadi faktor risiko bagi kesehatan gingiva yang buruk. Lansia dengan literasi kesehatan mulut yang lebih tinggi memiliki hasil kesehatan mulut yang lebih baik,” tulis tim peneliti dalam kesimpulan studinya.

Yang menarik, variabel perilaku seperti frekuensi menyikat gigi, penggunaan produk kebersihan mulut tambahan seperti benang gigi atau obat kumur, serta kebiasaan merokok, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kondisi gusi dalam penelitian ini. Artinya, sekadar tahu bahwa sikat gigi itu penting tidak cukup. Literasi bukan soal pengetahuan semata, melainkan kemampuan untuk memahami, mengolah, dan bertindak berdasarkan informasi kesehatan secara nyata.

Mayoritas responden adalah perempuan (74,6 persen), berpendidikan di atas 9 tahun (76,2 persen), dan aktif dalam kegiatan sosial (95,3 persen). Meski demikian, hampir seluruhnya tidak rutin ke dokter gigi dan tidak menggunakan alat kebersihan mulut tambahan.

Bukan Sekadar Sikat Gigi Dua Kali Sehari

Temuan ini membuka perspektif baru dalam cara kita memandang kesehatan gigi lansia. Selama ini, pesan-pesan kesehatan mulut cenderung berhenti pada anjuran praktis: sikat gigi dua kali sehari, gunakan benang gigi, hindari rokok. Tapi jika seseorang tidak memahami mengapa tindakan itu penting, tidak tahu cara membaca informasi medis, dan tidak mampu menilai kapan harus mencari pertolongan, maka anjuran itu akan berhenti sebagai pengetahuan yang tidak pernah jadi tindakan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menempatkan literasi sebagai salah satu indikator kesehatan paling penting, sejajar dengan usia, pendapatan, dan latar belakang pendidikan. Penelitian ini memperkuat posisi itu di konteks kesehatan gigi lansia Indonesia.

Tim peneliti menyebut perlunya studi lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar dan desain longitudinal, agar perubahan kondisi gusi dan literasi kesehatan dapat dipantau dari waktu ke waktu. Mereka juga mendorong pengembangan program edukasi kesehatan mulut yang dirancang khusus untuk kelompok lansia, bukan sekadar penyuluhan umum, melainkan intervensi yang terukur dan berbasis pemahaman mendalam.

Sebab pada akhirnya, gusi yang sehat bukan hanya soal rajin ke dokter gigi. Ia juga soal apakah seseorang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi di dalam mulutnya sendiri.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Freepik

Sumber DOI: doi.org/10.21460/bikdw.v9i1.919

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

17 July 2026

Bawang Putih di Laboratorium: Saat Herbal Dapur Terbukti Ramah bagi Sel Gusi

en_US