News

/

Artikel, Latest News

Tulang Rahang Perempuan Menopause Bicara Lewat Citra CBCT: Studi Azhari, Diba, dan Kolega

Osteoporosis sering disebut “penyakit diam”. Ia menggerogoti tulang tanpa gejala, tanpa nyeri, tanpa tanda-tanda yang bisa dirasakan — hingga suatu hari tulang itu patah. Pada perempuan pascamenopause, ancaman ini berlipat ganda: penurunan estrogen mempercepat resorpsi tulang, dan kerusakan bisa terjadi jauh sebelum seseorang tahu ia sedang dalam bahaya. Pertanyaannya: apakah ada cara yang lebih awal, lebih mudah, dan lebih terjangkau untuk mendeteksinya?

Sebuah penelitian yang melibatkan drg. Silviana Farrah Diba, Sp. RKG. Subsp. RP (K) dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mencoba menjawab pertanyaan itu — bukan dengan pemindai tulang konvensional, melainkan dengan alat yang sudah ada di klinik gigi: cone-beam computed tomography (CBCT).

Rahang sebagai Cermin Kondisi Tulang Seluruh Tubuh

Studi ini diterbitkan dalam World Journal of Dentistry pada 2020, dipimpin oleh Prof. Azhari dari Universitas Padjadjaran, dengan drg. Silviana Farrah Diba sebagai salah satu peneliti utama yang bertanggung jawab atas akuisisi data serta analisis dan interpretasi hasil.

Sebanyak 17 perempuan pascamenopause berusia 50 hingga 84 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran menjadi subjek penelitian. Dari 17 subjek itu, tim mengambil 34 titik pengamatan — dua sisi rahang bawah dari masing-masing subjek — lalu menganalisisnya menggunakan citra CBCT beresolusi tinggi.

Yang diukur bukan hanya satu parameter, melainkan enam sekaligus. Untuk tulang kortikal, tim menggunakan tiga indeks berbasis rasio ketebalan korteks terhadap jarak tertentu dari foramen mentale — titik anatomis di rahang bawah tempat saraf keluar. Untuk tulang trabekuler, mereka mengukur fraksi volume tulang (BV/TV), ketebalan trabekula (Tb.Th), dan jarak antar-trabekula (Tb.Sp) menggunakan perangkat lunak BoneJ.

Satu hari setelah pemindaian CBCT, subjek menjalani pengambilan darah setelah berpuasa 12 jam. Dari sampel darah itu, tim mengukur kadar beta-crosslaps (β-CTx) — penanda biokimia yang mencerminkan seberapa cepat tubuh memecah kolagen tipe I, komponen utama matriks tulang. Semakin tinggi β-CTx, semakin tinggi laju resorpsi tulang.

Sinyal yang Bisa Dibaca dari Citra Tiga Dimensi

Hasilnya cukup meyakinkan. Baik parameter trabekuler maupun kortikal menunjukkan korelasi positif dan signifikan terhadap kadar β-CTx. Parameter trabekuler berkorelasi dengan nilai r = 0,477 (p = 0,049), sementara parameter kortikal dengan r = 0,411 (p = 0,038).

Angka-angka itu mungkin terdengar teknis, tapi maknanya konkret: perempuan dengan kadar β-CTx lebih tinggi — yang berarti resorpsi tulang lebih aktif — cenderung memiliki kondisi trabekula dan korteks rahang yang lebih buruk pula, dan hal itu bisa terlihat dalam citra CBCT.

“Cone-beam computed tomography dapat digunakan untuk menilai kualitas tulang kortikal dan trabekula mandibula yang berkorelasi dengan kadar β-CTx pada perempuan pascamenopause sebagai deteksi dini penurunan kualitas tulang.”

Temuan ini penting karena CBCT sudah lazim digunakan di klinik gigi untuk berbagai keperluan — mulai dari perencanaan implan hingga diagnosis kelainan rahang. Artinya, alat yang sudah ada itu berpotensi memberikan informasi tambahan tentang risiko osteoporosis, tanpa perlu pemeriksaan terpisah yang lebih mahal.

Deteksi Lebih Awal, Sebelum Tulang Benar-Benar Rapuh

Implikasi klinis dari studi ini bukan sekadar akademis. Dokter gigi berada di posisi unik: mereka melihat pasien secara rutin, sering kali lebih sering daripada dokter umum, dan mereka sudah menggunakan radiografi sebagai bagian dari pemeriksaan standar. Jika perubahan pada tulang rahang bisa dijadikan sinyal awal osteoporosis, maka kunjungan ke dokter gigi bisa menjadi titik deteksi pertama — sebelum pasien mengalami patah tulang yang baru menyadarkan mereka bahwa ada masalah serius.

Studi ini juga menegaskan nilai β-CTx sebagai penanda yang praktis. Tidak seperti penanda biokimia lain, β-CTx tidak perlu koreksi kreatinin dan tidak diekskresi ginjal, sehingga langsung mencerminkan degradasi matriks tulang tanpa gangguan faktor luar.

Tentu ada keterbatasan. Jumlah subjek relatif kecil — 17 orang — dan perangkat lunak analisis yang digunakan hanya mampu menampilkan irisan citra, bukan merekonstruksi struktur trabekula secara penuh. Para peneliti sendiri menyebut perlunya studi lanjutan dengan sampel lebih besar dan perangkat yang lebih canggih.

Namun justru di situlah studi ini menemukan relevansinya: bukan sebagai kata akhir, melainkan sebagai pembuka percakapan yang lebih serius tentang peran radiologi kedokteran gigi dalam deteksi dini penyakit sistemik. Rahang, ternyata, bukan hanya tentang gigi. Ia menyimpan cerita tentang seluruh tubuh — dan CBCT bisa membantu membacanya.

Sumber DOI : http://10.5005/jp-journals-10015-1704

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US