Bayangkan jaringan gusi yang seharusnya kokoh menopang gigi, perlahan hancur dari dalam. Bukan karena kecelakaan, bukan karena tumor, melainkan karena serangkaian reaksi berantai yang dipicu oleh satu jenis bakteri. Inilah yang ditemukan dr. Dyah Listyarifah, M.Sc., D.Med.Sci., peneliti dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim riset internasionalnya. Studi imunohistologi yang mereka lakukan dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional ini mengungkap bagaimana bakteri Treponema denticola memicu kematian sel, memperparah peradangan, dan membuka jalan bagi kerusakan jaringan periodontal yang lebih luas — sebuah proses yang selama ini belum sepenuhnya dipahami.
Treponema denticola: Penyusup yang Masuk Jauh ke Dalam Jaringan
Periodontitis adalah penyakit radang pada jaringan pendukung gigi, yang bila dibiarkan dapat berujung pada tanggalnya gigi. Penyakit ini bukan sekadar masalah kebersihan mulut biasa. Di balik peradangan yang tampak di permukaan, ada perang biologis yang berlangsung di tingkat sel.
Dalam penelitian ini, tim yang melibatkan para ahli dari Universitas Helsinki, Karolinska Institutet Swedia, dan Université Laval Kanada menganalisis sampel jaringan gusi dari dua kelompok pasien: sepuluh penderita periodontitis dan lima penderita gingivitis (radang gusi yang lebih ringan). Setiap sampel diperiksa dengan teknik pewarnaan imunohistokimia dan imunofluoresensi — metode yang memungkinkan peneliti melacak keberadaan protein dan sel tertentu secara langsung di dalam jaringan.
Hasilnya mengejutkan. Treponema denticola ditemukan di seluruh sampel jaringan periodontitis tanpa terkecuali. Bakteri ini masuk ke dalam lapisan epitel sulkular (lapisan sel yang melapisi celah antara gusi dan gigi) dan menembus lebih dalam ke jaringan ikat di bawahnya, yang disebut lamina propria. Enzim proteolitik yang dihasilkan bakteri ini, yang dikenal sebagai chymotrypsin-like proteinase (CTLP), terdeteksi tidak hanya di dalam sel, tetapi juga di ruang ekstraseluler — tanda bahwa bakteri ini sudah betul-betul menginvasi jaringan.
Sel yang Mati Justru Memperparah Peradangan
Salah satu temuan paling menarik dari studi ini berkaitan dengan apoptosis, atau kematian sel terprogram. Dalam kondisi normal, apoptosis adalah mekanisme tubuh untuk menyingkirkan sel yang rusak secara tertib dan terkontrol. Namun pada periodontitis, proses ini justru berbalik menjadi bahan bakar bagi peradangan.
Tim peneliti mengukur kadar caspase-3, protein penanda apoptosis yang aktif, dan menemukan jumlahnya meningkat signifikan pada jaringan periodontitis dibandingkan gingivitis. Konfirmasi tambahan datang dari pewarnaan TUNEL, metode yang mendeteksi fragmentasi DNA — ciri khas sel yang sedang mati. Sel-sel apoptotik ini ditemukan menumpuk terutama di area epitel jungsional, yaitu zona perlekatan antara gusi dan gigi yang menjadi pintu masuk utama bakteri.
Yang lebih mengkhawatirkan: makrofag, sel imun yang bertugas “memakan” sel-sel mati agar tidak memicu peradangan, justru ikut mengalami apoptosis dalam jumlah besar. Akibatnya, sel-sel mati yang seharusnya dibersihkan dibiarkan menumpuk, kehilangan integritas membrannya, dan akhirnya pecah melepaskan isi selnya ke jaringan sekitar — termasuk molekul berbahaya yang disebut damage-associated molecular patterns (DAMPs).
Sinyal Bahaya yang Memperkuat Lingkaran Peradangan
Di sinilah peran HMGB1 (High Mobility Group Box 1) menjadi krusial. Dalam kondisi normal, HMGB1 adalah protein yang bekerja di dalam inti sel untuk membantu proses transkripsi genetik. Namun saat sel mengalami stres berat atau kematian, HMGB1 bermigrasi keluar dari inti sel ke sitoplasma, lalu dilepaskan ke ruang ekstraseluler, di mana ia berubah fungsi menjadi sinyal bahaya yang memicu respons imun.
Pada jaringan periodontitis, peneliti menemukan pergeseran nyata dalam pola ekspresi HMGB1. Protein ini yang pada gingivitis masih terpusat di inti sel, pada periodontitis sudah banyak ditemukan di sitoplasma dan bahkan di luar sel. Ekspresi HMGB1 di sitoplasma pada kelompok periodontitis secara statistik lebih tinggi dibandingkan gingivitis.
“Kehadiran Treponema denticola (terutama CTLP-nya), apoptosis, HMGB1, dan penanda inflamasi menunjukkan keterlibatan potensial mereka dalam patogenesis periodontitis.”
HMGB1 yang terlepas ini kemudian mengikat reseptornya, terutama TLR4 (Toll-like receptor 4), yang ekspresinya juga meningkat secara signifikan pada jaringan periodontitis. Ikatan HMGB1 dengan TLR4 mendorong sel-sel imun untuk memproduksi sitokin proinflamasi, yakni IL-1β dan IL-8 — dua molekul yang dikenal sebagai pemicu utama kerusakan jaringan lunak dan tulang pada periodontitis. Lingkaran ini bersifat mandiri: semakin banyak sel yang mati, semakin banyak HMGB1 yang terlepas, semakin kuat peradangan yang terjadi, dan semakin banyak sel yang akhirnya mati.
Implikasi bagi Diagnosis dan Pengobatan Periodontitis
Penelitian ini memang masih memiliki keterbatasan: jumlah sampel yang relatif kecil dan perbedaan usia yang cukup jauh antara kelompok periodontitis dan gingivitis. Para peneliti sendiri mengakui bahwa diperlukan studi lanjutan dengan skala lebih besar, termasuk uji in vitro dan uji coba pada hewan, untuk memastikan mekanisme ini secara lebih rinci.
Namun temuan ini membuka perspektif baru yang penting. Selama ini penanganan periodontitis berfokus pada eliminasi bakteri — melalui pembersihan karang gigi, penggunaan antibiotik, atau pembedahan periodontal. Studi ini menyiratkan bahwa memutus rantai sinyal HMGB1 atau mencegah akumulasi sel apoptotik yang berlebihan bisa menjadi strategi terapeutik tambahan yang menjanjikan.
Periodontitis bukan sekadar penyakit gusi. Ia adalah sebuah ekosistem peradangan yang kompleks, di mana bakteri, sel yang sekarat, dan molekul sinyal bekerja sama memperparah kerusakan. Memahami cara kerja ekosistem itu adalah langkah pertama untuk benar-benar menghentikannya.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik