News

/

Latest News

Inovasi EcoDenMap Tawarkan Tekan Polusi Praktik Kedokteran Gigi

Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa satu klinik gigi yang beroperasi penuh dapat menghasilkan sekitar 27 hingga 35 ton emisi karbon dioksida setiap tahunnya. Polusi ini sebagian besar datang dari jejak karbon perjalanan pasien serta tingginya konsumsi air selama tindakan medis berlangsung.

Melihat masalah nyata tersebut, sekelompok inovator muda resmi memperkenalkan sebuah sistem inovasi bertajuk EcoDenMap. Karya ini dipaparkan secara lugas dalam acara presentasi ilmiah yang digelar di Gedung Dental Learning Center (DLC) UGM pada kamis  (16/07/26)

Dalam implementasinya di dunia nyata, Adinda menjelaskan bahwa program EcoDenMap akan dibawa ke tiga level strategis: Level Kebijakan: Mengajukan rekomendasi tertulis kepada pemerintah agar indikator keberlanjutan dan penggunaan alat hemat air dimasukkan ke dalam standar pelayanan kedokteran gigi Indonesia. Level Komunitas: Menyusun panduan kesehatan masyarakat dengan jargon menarik: “The Prevent Today, Save Tomorrow” (Cegah Hari Ini, Selamatkan Hari Esok). Kampanye ini mengedukasi warga bahwa rutin melakukan scaling sejak dini bisa mencegah penyakit gigi parah, sehingga mereka tidak perlu melakukan operasi cabut atau tanam gigi yang memakan banyak energi dan material di masa depan. Level Media Sosial: Gencar melakukan promosi informasi di berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, serta situs resmi.

Menjawab Tantangan Kritis Dewan Juri

Sesi presentasi di Gedung DLC UGM sempat menghangat ketika salah satu dewan juri memberikan masukan kritis. Juri mempertanyakan keefektifan program jika hanya sebatas memberi tahu data konsumsi air, mengingat pasien yang datang ke klinik tidak bisa dibatasi atau ditolak hanya karena kuota air klinik habis. Juri menyarankan agar tim mengembangkan solusi yang jauh lebih konkret untuk mengurangi penggunaan air secara langsung.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan tim menjelaskan bahwa tujuan utama dari basis data EcoDenMap bukan untuk membatasi tindakan medis, melainkan mengubah pola pikir masyarakat melalui edukasi. Dengan mendorong tindakan pencegahan dini yang jauh lebih hemat air daripada tindakan kuratif (penyembuhan), konsumsi air di klinik gigi secara otomatis akan berkurang dengan sendirinya.

Untuk menghadapi tantangan lain seperti keterbatasan anggaran dan rendahnya keterikatan pemangku kepentingan, Anggi menegaskan bahwa mereka akan berkolaborasi erat dengan universitas, klinik, serta memprioritaskan program-program yang berbiaya rendah namun berdampak besar.

Melalui tema besar “Kedokteran Gigi Berkelanjutan: Mengintegrasikan Pencegahan, Inovasi, dan Tanggung Jawab Lingkungan”, EcoDenMap tidak hadir untuk mengubah standar medis yang sudah ada. Inovasi ini menjadi langkah awal bagi masa depan dunia kedokteran gigi yang lebih hijau, hemat biaya, dan ramah lingkungan.

(Reporter: Nanda, Andri Wicaksono, Foto: Andri Wicaksono)

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Mahasiswa Dental Summer Course 2026 Paparkan Sikat Gigi dari Limbah Sekam Padi

16 July 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

16 July 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

en_US