News

/

Artikel, Latest News

Inovasi Kedokteran Gigi: Cairan Berbahan Cangkang Kepiting Terbukti Lebih Aman untuk Perawatan Saluran Akar

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG, bersama tim peneliti dari Tokushima University di Jepang, berhasil menemukan terobosan baru dalam perawatan gigi. Mereka berhasil menguji trimethyl chitosan (TMC), senyawa turunan kitosan yang berasal dari bahan alami seperti cangkang udang dan kepiting sebagai cairan irigasi alternatif untuk perawatan saluran akar gigi.

Hasil penelitian penting ini telah diterbitkan dalam Journal of Dental Sciences edisi 2026. Temuan tersebut menunjukkan bahwa TMC tidak hanya terbukti mampu membunuh bakteri dan merusak lapisan biofilm Enterococcus faecalis (bakteri penyebab kegagalan perawatan gigi), tetapi juga jauh lebih aman bagi sel jaringan tubuh manusia dibandingkan cairan pembersih standar kimiawi yang saat ini umum digunakan di klinik gigi.

Perawatan saluran akar gigi, atau yang dikenal sebagai perawatan endodontik, bertujuan membersihkan bakteri dari dalam saluran akar agar infeksi tidak berlanjut. Masalahnya, saluran akar memiliki anatomi yang rumit, berliku dan bercabang kecil, sehingga bakteri yang bersembunyi di dalamnya sulit dijangkau hanya dengan alat mekanis.

Salah satu musuh utama yang paling bandel adalah Enterococcus faecalis. Bakteri ini masuk dalam daftar sepuluh mikroorganisme yang paling sering ditemukan pada infeksi saluran akar yang gagal diobati. Kemampuannya menembus pori-pori gigi (tubulus dentin), bertahan di lingkungan yang ekstrem, dan membentuk lapisan pelindung tebal bernama biofilm menjadikannya ancaman utama yang menyebabkan perawatan saluran akar berulang kali gagal.

Selama ini, dokter gigi mengandalkan cairan natrium hipoklorit (NaOCl) atau bahan kimia pemutih untuk membunuh bakteri ini. Cairan ini memang sangat efektif membunuh kuman, tetapi punya kelemahan serius: bersifat racun (toksik) terhadap jaringan di sekitar akar gigi, berbau menyengat, dan dapat melemahkan struktur asli gigi. Jika cairan kimia ini bocor melewati ujung akar, jaringan ikat di sekitarnya bisa meradang dan proses penyembuhan pasien justru terhambat.

Di sinilah inovasi berbasis bahan alam dari UGM dan mitranya hadir menjadi solusi. Kitosan adalah polimer alami yang diperoleh dari proses pengolahan cangkang hewan laut seperti udang dan kepiting. Tim peneliti kemudian memodifikasinya secara kimia menjadi trimethyl chitosan (TMC) agar lebih mudah larut dalam air dan lebih aktif membasmi kuman.

Secara ilmiah, TMC memiliki muatan listrik positif yang kuat. Muatan positif ini memungkinkannya menarik dan merusak dinding sel bakteri yang bermuatan negatif bekerja seperti magnet yang saling menarik, lalu menghancurkan sasarannya dari dalam.

Dalam eksperimen laboratorium, tim drg. Raras menguji efektivitas TMC dalam melawan bakteri yang tumbuh di atas permukaan yang menyerupai gigi manusia. Hasilnya sangat konsisten di semua metode pengujian. Melalui pengamatan mikroskop elektron, struktur pelindung (biofilm) bakteri yang diberi cairan TMC tampak hancur lebur dan menjadi sangat jarang, berbanding terbalik dengan kondisi bakteri kontrol yang terlihat padat, rapat, dan subur.

Melalui publikasi resminya, tim peneliti menegaskan signifikansi dari inovasi ini:

“Temuan ini menyoroti potensi TMC sebagai bahan irigasi baru berkat aktivitas antibakteri dan antibiofilmnya terhadap E. faecalis serta kompatibilitasnya dengan sel jaringan periodontal manusia.” drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG, dan tim peneliti, Journal of Dental Sciences, 2026

Keunggulan terbesar dari senyawa berbasis cangkang kepiting ini terletak pada tingkat keamanannya bagi tubuh pasien. Tim peneliti menguji cairan TMC langsung pada sel hidup yang membungkus akar gigi manusia (sel fibroblas ligamen periodontal). Sel inilah yang biasanya paling rentan rusak dan meradang jika cairan pembersih gigi yang dipakai dokter bocor ke dalam gusi.

Hasil uji laboratorium membuktikan bahwa sel-sel hidup tersebut mampu bertahan dengan sangat baik dan tetap sehat selama pengamatan hingga 72 jam. Kondisi ini jauh lebih aman dan tidak beracun jika dibandingkan dengan cairan kimia NaOCl standar yang dalam waktu singkat sudah menekan kelangsungan hidup sel jaringan secara drastis. Berdasarkan standar internasional (ISO 10993-5), tingkat keamanan cairan alami ini berhasil melewati ambang batas aman yang disyaratkan. Meski demikian, para peneliti memberikan catatan bahwa konsentrasi dan waktu kontak cairan ini masih perlu diatur secara cermat agar bakteri tidak memberikan respons stres yang justru memicu mereka menjadi kebal.

Penelitian kolaboratif berskala internasional ini memberikan pembuktian konsep (proof of concept) yang kuat bahwa limbah cangkang hewan laut yang selama ini dibuang ternyata menyimpan jawaban atas tantangan besar dalam dunia kedokteran gigi. Meskipun masih memerlukan tahapan uji lanjutan sebelum resmi digunakan secara luas oleh dokter gigi di klinik, inovasi dari UGM ini memberikan harapan konkret bagi masyarakat luas. Di masa depan, proses pembersihan saluran akar gigi diharapkan dapat berjalan jauh lebih nyaman, aman bagi gusi, serta berbasis pada bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jds.2025.06.022

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US