News

/

Artikel, Latest News

Tangani Pulpitis Ireversibel, Pakar Konservasi Gigi FKG UGM Terapkan Metode Perawatan Saluran Akar Efisien

Tim dokter gigi dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) berhasil memulihkan fungsi kunyah gigi seorang pasien laki-laki berusia 47 tahun yang mengalami pulpitis ireversibel atau radang pulpa gigi yang tidak bisa sembuh sendiri. Melalui kombinasi perawatan saluran akar satu kunjungan (one-visit root canal treatment) dan restorasi resin komposit yang diperkuat pasak logam, perawatan gigi yang kompleks ini berhasil diselesaikan dengan cepat, efisien, dan ekonomis.

Penanganan kasus ini dilakukan langsung oleh pakar konservasi gigi UGM, drg. Pribadi Santosa, M.S., Sp.KG.(K), bersama drg. Gunawan Raharjo, Sp.KG dari Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi FKG UGM di klinik Konservasi Gigi RSGM Prof. Soedomo UGM.

Pasien awalnya datang ke RSGM Prof. Soedomo UGM pada 26 Februari 2014 dengan keluhan yang sudah lama ia tahan, gigi belakang kanan bawah berlubang, sering kemasukan makanan, dan terasa nyeri setiap kali minum dingin. Kondisi gigi molar kedua kanan mandibula (gigi 47) tersebut belum pernah ditambal dan rasa tidak nyaman yang timbul secara tiba-tiba sudah sangat mengganggu aktivitas makannya sehari-hari.

Setelah melalui pemeriksaan mendalam, tim dokter menegakkan diagnosis pulpitis ireversibel. Alih-alih menerapkan perawatan saluran akar konvensional yang membutuhkan pasien datang berulang kali untuk penggantian obat, tim FKG UGM memilih pendekatan satu kunjungan langsung selesai.

Pemeriksaan radiografis menunjukkan kavitas yang sudah mencapai pulpa di sisi distal gigi, namun tidak ada area gelap (radiolusen) di sekitar ujung akar yang menandakan infeksi sudah menyebar ke jaringan tulang. Saluran akar pun relatif lurus dan tidak tersumbat. Kondisi inilah yang menjadi dasar pertimbangan bahwa kasus ini memenuhi syarat untuk perawatan satu kunjungan. Seluruh tahapan mulai dari pembersihan dan pembentukan saluran akar (cleaning and shaping), pemberian obat (medikasi), hingga pengisian saluran akar (obturasi) diselesaikan dalam satu sesi demi meminimalkan risiko kontaminasi bakteri antar-kunjungan.

Dua minggu pasca-perawatan saluran akar, tepatnya pada 14 Maret 2014, pasien kembali ke klinik tanpa ada keluhan nyeri. Untuk mengembalikan fungsi gigi yang berlubang besar tersebut, dokter gigi menerapkan restorasi direk resin komposit yang diperkuat dengan pasak logam khusus.

Karena perluasan kavitas mencapai dinding distal, diputuskan untuk menggunakan pasak parallel self-threading tipe Radix Anchor dari Dentsply sebagai penguat sebelum penumpatan resin komposit. Pasak jenis ini berbentuk paralel dengan sistem ulir (lamella) dan terbuat dari nikel titanium. Bentuknya memungkinkan gaya kunyah yang bekerja pada gigi diteruskan ke arah akar secara merata, sehingga gigi memiliki ketahanan terhadap fraktur yang lebih tinggi. Selain itu, pasak ini memiliki sistem ventilasi yang mencegah tekanan berlebihan pada dinding saluran akar saat dipasang.

Bahan restorasi yang dipilih adalah jenis packable yang ditumpat lapis demi lapis menggunakan teknik inkremental demi mengikuti anatomi gigi asli pasien. Pemilihan jenis restorasi ini didasarkan pada sisa struktur gigi pasien yang masih cukup kuat untuk mempertahankan restorasi langsung.

“Jaringan keras gigi yang masih tersisa menjadi pertimbangan utama dalam memilih jenis restorasi. Pada kasus ini, sisa jaringan masih cukup sehingga restorasi direk dengan resin komposit yang diperkuat pasak parallel self-threading menjadi pilihan yang tepat dan ekonomis,” tulis Raharjo dan Santosa dalam laporan kasus yang dipublikasikan di Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK).

Pada kunjungan evaluasi terakhir tanggal 21 Maret 2014, pasien menyatakan sudah tidak merasakan sakit sama sekali saat makan atau minum. Pemeriksaan objektif secara klinis mengonfirmasi bahwa restorasi gigi dalam kondisi utuh, tidak ada peradangan pada jaringan gusi di sekitarnya, serta fungsi gigitan (oklusi) berjalan normal.

Keberhasilan penanganan kasus di FKG UGM ini mematahkan persepsi lama di masyarakat bahwa perawatan saluran akar gigi harus selalu menyita waktu dan menyakitkan. Kombinasi metode satu kunjungan dan restorasi komposit berpasak membuktikan bahwa gigi yang hampir tak terselamatkan pun bisa pulih dan fungsional kembali hanya dalam dua kali kedatangan ke rumah sakit gigi. Langkah ini sekaligus menjadi alternatif restorasi yang jauh lebih terjangkau dan ekonomis bagi pasien dibandingkan dengan pembuatan mahkota tiruan penuh (full crown).

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.4103/JCD.JCD_602_20

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Gigi Depan Anak Gigis? Strip Crown Bisa Jadi Jawaban

16 July 2026

Inovasi EcoDenMap Tawarkan Tekan Polusi Praktik Kedokteran Gigi

16 July 2026

Mahasiswa Dental Summer Course 2026 Paparkan Sikat Gigi dari Limbah Sekam Padi

en_US