Lebih dari 200 juta perempuan di seluruh dunia hidup dengan osteoporosis, dan angka itu diproyeksikan terus naik tajam. Di FKG Universitas Gadjah Mada, dr. Rini Maya Puspita, M.Sc. mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar: seberapa besar olahraga bisa membantu melindungi tulang perempuan yang kehilangan estrogen? Jawabannya ia temukan melalui systematic review dan meta-analisis yang diterbitkan di jurnal internasional Physiology International pada April 2026, melibatkan 29 studi dari berbagai penjuru dunia yang menguji berbagai jenis latihan fisik pada tikus model osteoporosis pascamenopause.
Tulang yang Kehilangan Pelindungnya
Ketika perempuan memasuki masa menopause, kadar estrogen dalam tubuh turun drastis. Hormon ini bukan sekadar pengatur siklus reproduksi; ia juga pelindung tulang. Estrogen menekan aktivitas osteoklas, sel yang mengikis tulang, sekaligus mendorong kerja osteoblas, sel yang membangun tulang baru. Begitu estrogen berkurang, keseimbangan ini goyah. Tulang lebih banyak dihancurkan daripada dibangun, dan kepadatan tulang, atau yang disebut bone mineral density (BMD), mulai merosot.
Kondisi inilah yang disebut osteoporosis pascamenopause. Di Amerika Serikat saja, 54 juta orang dewasa di atas 50 tahun mengalaminya, dengan perempuan menyumbang 80 persen kasus. Patah tulang panggul akibat osteoporosis membawa angka kematian 20 persen dalam satu tahun pertama. Biaya perawatannya mencapai 17,9 miliar dolar AS per tahun hanya di satu negara.
Obat-obatan seperti bifosfonat dan denosumab memang ada, mampu menekan risiko patah tulang hingga 40–70 persen. Tapi kurang dari 30 persen pasien berisiko tinggi benar-benar mendapatkannya, karena biaya, efek samping, atau sekadar tidak patuh minum obat. Maka pendekatan non-farmakologis, terutama olahraga, menjadi semakin menarik untuk diteliti lebih serius.
Tikus Betina Tanpa Ovarium sebagai Model Penelitian
Untuk meneliti osteoporosis pascamenopause di laboratorium, para ilmuwan menggunakan tikus betina yang diangkat ovariumnya, atau disebut ovariectomized (OVX). Prosedur ini meniru kondisi menopause: tanpa ovarium, tubuh tikus berhenti memproduksi estrogen, dan tulang pun mulai menipis dengan pola yang mirip pada manusia.
Dr. Rini dan tim, yang juga melibatkan Prof. Denny Agustiningsih dari Departemen Fisiologi FK-KMK UGM dan Prof. Nunuk Purwanti dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM, menelusuri tiga database ilmiah besar, yakni Scopus, PubMed, dan ScienceDirect. Dari 1.264 artikel yang ditemukan, hanya 29 studi yang memenuhi kriteria ketat untuk dianalisis secara kualitatif, dan 14 di antaranya menyediakan data cukup untuk meta-analisis statistik.
Studi-studi tersebut menguji lima jenis latihan: lari di treadmill (55%), renang (14%), latihan resistansi seperti panjat tangga (7%), latihan lompat atau plyometric (17%), dan lari menurun (downhill running, 7%). Durasi intervensi bervariasi antara 4 hingga 36 minggu.
“Exercise interventions significantly mitigate OVX-induced bone loss, improve BMD, and positively influence biomarkers of bone remodeling, supporting its role as a potential non-pharmacological strategy for managing postmenopausal osteoporosis.” — dr. Rini Maya Puspita, M.Sc., beserta tim, dalam kesimpulan penelitian
Apa yang Terjadi di Dalam Tulang
Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa tikus OVX tanpa intervensi mengalami penurunan BMD yang nyata di tiga lokasi tulang: vertebra (tulang belakang), femur (tulang paha), dan tibia (tulang kering). Selisih rata-rata yang terukur berkisar 0,03–0,04 g/cm², dengan nilai p jauh di bawah 0,0001, yang berarti perbedaan ini bukan kebetulan statistik.
Olahraga berhasil membalikkan sebagian kehilangan itu. Peningkatan BMD yang signifikan terlihat di vertebra dan femur setelah intervensi latihan. Treadmill intensitas sedang memberikan efek paling kuat pada vertebra dan femur, sementara latihan lompat menghasilkan manfaat konsisten di kedua lokasi tersebut. Prinsipnya masuk akal secara mekanik: benturan dan beban yang dihasilkan saat melompat atau berlari memberikan rangsangan fisik pada tulang, mendorong osteoblas bekerja lebih aktif.
Lebih dari sekadar mengubah kepadatan tulang, olahraga juga memengaruhi penanda biologis (biomarker) yang mencerminkan proses pembentukan dan perusakan tulang. Penanda resorpsi tulang seperti TRAP, CTX-1, dan NTX, yang melonjak akibat operasi pengangkatan ovarium, turun mendekati kadar normal setelah latihan fisik. Sebaliknya, penanda pembentukan tulang seperti osteocalcin (OCN), alkaline phosphatase (ALP), dan P1NP mengalami normalisasi. Olahraga juga mengaktifkan kembali jalur sinyal Wnt/β-catenin yang tertekan akibat defisiensi estrogen, menekan ekspresi RANKL yang memicu aktivitas osteoklas, dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan SOD untuk melawan stres oksidatif.
Satu temuan menarik lain: olahraga merangsang ekspresi enzim CYP19 aromatase di sel-sel tulang. Enzim ini mengubah androgen menjadi estrogen di jaringan lokal, sehingga tulang tetap mendapat pasokan estrogen meski ovarium sudah tidak berfungsi.
Bukti yang Menjanjikan, tapi Masih Perlu Kehati-hatian
Tim peneliti jujur tentang keterbatasan temuan mereka. Seluruh data berasal dari model hewan, bukan manusia, dan ada jarak fisiologis yang tidak bisa diabaikan begitu saja antara tikus laboratorium dan perempuan pascamenopause. Penilaian menggunakan kerangka GRADE menempatkan kekuatan bukti pada kategori Very Low to Low, terutama karena banyak studi tidak melaporkan prosedur randomisasi dan pembutaan (blinding) secara transparan.
Meski demikian, arah temuannya konsisten. Dari berbagai jenis latihan, intensitas, dan lokasi tulang yang diteliti, olahraga selalu menunjukkan efek yang menguntungkan, bukan merugikan. Ini memperkuat argumen bahwa aktivitas fisik layak diposisikan sebagai strategi pelengkap, bukan sekadar alternatif, dalam penanganan osteoporosis pascamenopause.
Pertanyaan yang tersisa kini bukan lagi apakah olahraga membantu, melainkan berapa dosis yang paling efektif, jenis latihan mana yang paling optimal untuk kelompok pasien tertentu, dan bagaimana cara merancang program latihan yang bisa dijalankan secara konsisten oleh perempuan lanjut usia dalam kehidupan nyata. Itu adalah agenda riset berikutnya, dan FKG UGM tampaknya tidak akan berhenti di sini.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.1556/2060.2026.00710