Seseorang datang ke dokter gigi dengan keluhan tambalan gigi yang sudah mulai retak dan berubah warna. Dokter menyarankan untuk tidak langsung mencabut tambalannya, melainkan menumpuk bahan baru di atasnya, sebuah prosedur yang dikenal sebagai repair atau perbaikan tambalan komposit. Tapi seberapa kuatkah sambungan antara bahan lama dan baru itu? Pertanyaan inilah yang mendorong drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama koleganya, untuk menguji secara ilmiah kekuatan ikatan tambalan komposit yang diperbaiki, hasilnya dipresentasikan dalam konferensi internasional di Bandung pada November 2011.
Resin komposit adalah bahan tambalan gigi yang paling umum digunakan saat ini, baik untuk gigi depan maupun belakang. Namun seperti benda lainnya, tambalan ini bisa rusak seiring waktu. Warnanya memudar, pinggirnya terkikis, bahkan retak atau patah. Alih-alih mengganti seluruh tambalan yang berarti membuang lebih banyak struktur gigi asli, dokter gigi bisa memilih jalur yang lebih konservatif, menambahkan lapisan komposit baru di atas yang lama.
Masalahnya, komposit yang sudah lama berada di mulut sudah mengalami penuaan akibat paparan suhu, kelembapan, dan tekanan kunyah yang terus-menerus. Permukaan lamanya tidak lagi segar dan reaktif seperti saat baru dipasang. Ikatan antara lapisan lama dan baru pun menjadi titik yang paling rentan.
Untuk mengatasinya, ada dua metode penyiapan permukaan yang lazim digunakan. Pertama, intermediate adhesive resin application (IAR), yaitu cukup mengoleskan bahan perekat khusus; kedua, silica-coating and silanization (SC), yaitu melapisi permukaan lama dengan partikel silika melalui sandblasting lalu menambahkan agen kimia pengikat sebelum perekat dioleskan. Pertanyaannya: mana yang lebih andal, dan bagaimana cara terbaik mengukurnya?
Penelitian ini membandingkan dua metode pengujian kekuatan ikatan yang umum dipakai di laboratorium kedokteran gigi. Pertama adalah uji shear bond strength (SBS), yang mengukur kekuatan ikatan terhadap gaya geser, yaitu gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan sambungan. Kedua adalah uji microtensile bond strength (MTBS), yang mengukur kekuatan terhadap gaya tarik pada area sambungan yang sangat kecil (1×1 mm).
Tim peneliti menggunakan dua jenis komposit, yaitu nanohybrid (Tetric EvoCeram) dan nanofilled (Filtek Supreme XT), lalu membagi spesimen menjadi dua kelompok: yang tidak mengalami penuaan buatan dan yang sudah menjalani thermocycling, yaitu proses simulasi penuaan dengan cara merendam spesimen secara bergantian dalam air bersuhu 5°C dan 55°C sebanyak 5.000 siklus, meniru kondisi mulut selama bertahun-tahun.
Hasilnya cukup mengejutkan. Nilai kekuatan geser rata-rata hanya berkisar 7 hingga 28 MPa, sementara nilai tarik mikro jauh lebih tinggi, antara 32 hingga 53 MPa. Perbedaannya hampir tiga kali lipat. Jadi apakah berarti uji tarik mikro lebih baik? Tidak sesederhana itu.
Di sinilah penelitian ini menawarkan sudut pandang yang lebih dalam. Tim peneliti tidak hanya membandingkan angka rata-rata kekuatan ikatan, tetapi juga menganalisis Weibull modulus, yaitu ukuran statistik yang menggambarkan seberapa konsisten atau dapat dipercaya suatu ikatan. Nilai Weibull yang tinggi berarti hasil pengujian seragam dan dapat diandalkan; nilai rendah berarti hasilnya tersebar luas dan sulit diprediksi.
Ternyata, nilai Weibull modulus untuk kedua metode pengujian sama-sama rendah. Ini berarti meski nilai rata-rata uji tarik mikro tampak lebih mengesankan, tingkat keandalannya tidak lebih baik dari uji geser.
“Mengingat tingginya persentase kegagalan kohesif pada uji geser dan rendahnya nilai Weibull modulus, studi ini menunjukkan bahwa mata rantai terlemah dalam ikatan komposit-ke-komposit adalah bahan komposit itu sendiri, bukan antarmuka perekatnya.” drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., et al.
Temuan ini penting secara klinis. Kegagalan kohesif artinya bahan komposit itu sendiri yang patah, bukan bagian perekatnya. Ini seolah mengatakan bahwa memperkuat perekat saja tidak akan banyak membantu jika material tambalannya sendiri yang menjadi batas kekuatan.
Dari perspektif klinis, gigi lebih banyak mengalami gaya geser daripada gaya tarik saat mengunyah. Itulah mengapa penelitian ini menyimpulkan bahwa uji geser lebih relevan untuk menggambarkan kondisi nyata di mulut, terlepas dari angkanya yang lebih kecil dibandingkan uji tarik mikro.
Soal metode penyiapan permukaan, SC-application secara umum menghasilkan ikatan yang sedikit lebih kuat dibandingkan IAR-application, terutama pada komposit yang sudah mengalami penuaan. Namun ketika nilai Weibull dipertimbangkan, keunggulan ini tidak selalu konsisten di semua kondisi.
Yang paling menarik untuk diterapkan dalam praktik sehari-hari: perbaikan tambalan komposit memang bisa dilakukan dan lebih hemat struktur gigi dibanding mengganti seluruh tambalan. Namun dokter gigi perlu memahami bahwa kekuatan ikatan perbaikan tidak pernah setara dengan tambalan baru yang dipasang pada gigi segar. Penuaan material adalah faktor nyata yang tidak bisa diabaikan.
Penelitian ini juga membuka pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya: bila komposit itu sendiri yang menjadi titik lemah, apakah inovasi pada formula bahan komposit, bukan hanya pada teknik perlekatannya, yang lebih perlu dikejar? Jawabannya mungkin tersimpan di generasi penelitian berikutnya.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik