News

/

Artikel, Latest News

Sirih Merah Melawan Bakteri Perusak Gigi: Temuan dari Laboratorium FKG UGM

Bayangkan tanaman merambat berdaun merah keunguan yang tumbuh di pot-pot halaman rumah nenek — ternyata menyimpan senjata melawan salah satu penyakit gigi paling umum di Indonesia. Itulah yang dibuktikan oleh Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D., dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dalam penelitian yang dipublikasikan di Dentika Dental Journal pada 2013.

Hasilnya cukup mengejutkan: rebusan daun sirih merah (Piper crocatum) pada konsentrasi 10% terbukti mampu menekan produksi asam dan memperlambat pertumbuhan bakteri Streptococcus sobrinus, salah satu biang keladi utama karies gigi.

Musuh Kecil di Dalam Mulut

Karies bukan sekadar “gigi berlubang” biasa. Ia adalah penyakit infeksi kronis yang angkanya di Indonesia masih mengkhawatirkan. Data Riset Kesehatan Dasar 2007 mencatat prevalensi karies aktif penduduk Indonesia mencapai 43,4 persen, sementara pengalaman karies — artinya pernah mengalami karies sepanjang hidup — menyentuh 67,2 persen.

Streptococcus sobrinus adalah salah satu pelaku utamanya. Bakteri gram positif berbentuk bulat ini hidup di rongga mulut dan memiliki dua kemampuan berbahaya: ia dapat menghasilkan asam organik (acidogenic) yang mengikis lapisan email gigi, sekaligus tetap bertahan hidup dalam lingkungan asam yang dibuatnya sendiri (aciduric). Individu dengan kadar S. sobrinus tinggi dalam saliva cenderung memiliki lebih banyak lesi karies. Bahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bakteri ini lebih kuat memproduksi asam dibanding kerabatnya, Streptococcus mutans.

Untuk mengendalikan bakteri semacam ini, obat kumur antiseptik adalah pilihan yang logis. Namun harganya kerap tidak terjangkau oleh masyarakat luas, dan produk komersial seperti Listerine, meski efektif membunuh bakteri, memiliki pH di bawah 5,5 — yang berpotensi menyebabkan erosi email bila digunakan dalam jangka panjang. Kondisi inilah yang mendorong pencarian alternatif dari bahan alami.

Dari Dapur ke Laboratorium

Secara tradisional, daun sirih merah sudah lama digunakan masyarakat untuk mengatasi gusi berdarah, sariawan, bau mulut, hingga gigi berlubang. Prof. Tetiana dan timnya ingin membuktikan apakah klaim tradisional itu punya dasar ilmiah yang kuat.

Metode yang digunakan cukup ketat. Rebusan konsentrasi 10% dibuat dengan merebus 10 gram daun sirih merah dalam 200 ml air hingga tersisa 100 ml. Konsentrasi 5% diperoleh dengan mengencerkannya separuh. Kedua larutan ini kemudian diuji pada media brain heart infusion broth yang mengandung glukosa 1%, diinokulasi dengan 10⁶ sel bakteri S. sobrinus, dan diinkubasi pada suhu 37°C — kondisi yang meniru suasana rongga mulut manusia. Sebagai pembanding, digunakan akuades (kontrol negatif) dan Listerine (kontrol positif).

Pengamatan dilakukan pada jam ke-1, 2, 4, 6, dan 8 untuk mengukur pH dan kekeruhan media, serta pada jam ke-24 untuk menghitung jumlah koloni bakteri yang masih tumbuh.

Angka yang Bicara

Hasilnya berbicara dengan cukup tegas. Pada jam ke-6 dan ke-8, pH media kultur pada kelompok yang terpapar rebusan sirih merah 10% secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok lain — termasuk kelompok 5% dan akuades. Artinya, bakteri menghasilkan lebih sedikit asam. Ini penting, karena asam itulah yang melarutkan mineral email gigi dan memulai proses karies.

Dari sisi pertumbuhan bakteri, rebusan 10% menunjukkan efek yang setara dengan Listerine pada jam ke-4 dan ke-6: absorbansi media tidak meningkat, menandakan pertumbuhan S. sobrinus terhambat. Setelah 24 jam, jumlah koloni bakteri pada kelompok rebusan sirih merah 10% lebih sedikit secara bermakna dibanding kontrol negatif.

“Rebusan daun sirih merah konsentrasi 10% mempunyai potensi antikariogenik karena mempunyai kemampuan dalam menurunkan produksi asam dan laju pertumbuhan S. sobrinus.” — Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D., Departemen Biologi Oral FKG UGM

Mekanismenya diduga berasal dari kandungan aktif daun sirih merah: flavonoid, tanin, dan saponin. Flavonoid dan tanin bekerja dengan merusak membran sel bakteri, menyebabkan kebocoran ion dan makromolekul hingga sel lisis. Saponin bertindak seperti deterjen alami yang meningkatkan permeabilitas membran, merampas nutrisi esensial yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup.

Ada satu catatan penting: efek rebusan sirih merah 10% belum sepenuhnya menyamai Listerine. Pada pengamatan 24 jam, jumlah koloni bakteri di kelompok sirih merah masih lebih banyak dibanding kontrol positif. Listerine memang lebih mematikan, tapi datang dengan risiko erosi email. Sirih merah menawarkan jalan tengah yang menarik.

Warisan yang Menunggu Dioptimalkan

Penelitian ini membuka pertanyaan yang lebih besar daripada jawabannya. Jika rebusan sederhana dari 10 gram daun yang banyak tumbuh di pekarangan Indonesia sudah mampu menekan bakteri kariogenik, apa yang bisa dicapai dengan ekstraksi senyawa aktifnya secara lebih presisi? Bagaimana formulasinya bila dikembangkan menjadi obat kumur yang stabil, terjangkau, dan aman untuk pemakaian jangka panjang?

Bagi masyarakat yang selama ini memanfaatkan sirih merah secara turun-temurun, penelitian ini bukan sekadar konfirmasi. Ia adalah titik awal dari percakapan panjang antara pengetahuan lokal dan sains modern — percakapan yang tampaknya baru saja dimulai.

Sumber DOI : https://doi.org/10.32734/dentika.v17i4.1781

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US