News

/

Artikel, Latest News

Minum Antibiotik Sendiri untuk Gusi Sakit: Murah dan Praktis, tapi Berbahaya

Lebih dari separuh warga yang diteliti di Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta, memilih membeli antibiotik sendiri di apotek tanpa resep dokter saat gusi mereka bermasalah. Alasannya sederhana: lebih murah, lebih cepat, dan tidak perlu antre. Temuan ini muncul dari penelitian yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) UGM edisi Desember 2022, yang dipimpin oleh drg. Mayu Winnie Rachmawati, M.Sc., Ph.D., dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM. Penelitian ini melibatkan 203 responden di Godean sepanjang tahun 2022 dan menyoroti perilaku swamedikasi antibiotika untuk penyakit periodontal — kondisi peradangan pada gusi dan jaringan penyangga gigi yang kasusnya mencapai 60% dari populasi Indonesia.

Gusi Sakit, Apotek Jadi Andalan

Penyakit periodontal bukan sekadar gusi bengkak biasa. Kondisi ini mencakup peradangan kronis yang bisa merusak gusi, tulang penyangga gigi, bahkan ligamen periodontal — jaringan yang mengikat gigi ke tulang rahang. Jika dibiarkan, dampaknya bisa berujung pada gigi tanggal.

Namun banyak warga tidak tahu sejauh itu. Rasa malu untuk memeriksakan kondisi gusi ke dokter gigi, minimnya informasi tentang bahaya penyakit ini, serta jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan membuat banyak orang memilih jalan pintas: membeli antibiotik sendiri.

Dari 203 responden yang diteliti, 44,6% menyatakan setuju melakukan swamedikasi antibiotika saat mengalami penyakit periodontal. Sebesar 18,2% menyebut alasan utamanya adalah karena lebih murah, cepat, dan praktis. Sementara 32,1% mengaku tidak suka pergi ke dokter gigi.

“Swamedikasi menjadi pilihan masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan dalam pengobatan,” tulis Rachmawati dan tim dalam paper tersebut.

Siapa yang Paling Banyak Melakukannya?

Data penelitian menggambarkan profil yang cukup spesifik. Perempuan mendominasi praktik swamedikasi ini, mencapai 81,2% dari responden yang setuju melakukannya. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa perempuan memang lebih rentan mengalami masalah periodontal — perubahan hormonal sepanjang siklus hidup perempuan, mulai dari pubertas hingga kehamilan, meningkatkan sensitivitas jaringan gusi.

Kelompok usia 17–25 tahun menjadi yang terbanyak, yakni 22,6%. Usia remaja akhir ini cenderung mandiri dalam mencari informasi kesehatan lewat internet atau aplikasi konsultasi daring, lalu mengambil keputusan pengobatan sendiri tanpa verifikasi dari tenaga medis.

Yang menarik, bukan kelompok berpendidikan rendah yang paling banyak melakukan swamedikasi. Justru sebaliknya — responden berpendidikan SMA mendominasi (23,1%), diikuti lulusan perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa menjadi kelompok pekerjaan dengan kecenderungan swamedikasi tertinggi, mencapai 51,7%. Pengetahuan yang cukup tentang obat-obatan rupanya tidak selalu berujung pada keputusan yang tepat; kadang justru membuat seseorang merasa cukup percaya diri untuk mengobati diri sendiri.

Dari sisi pendapatan, kelompok dengan penghasilan di atas Rp2.000.000 per bulan justru paling banyak melakukan swamedikasi (16,7%). Ini berlawanan dengan asumsi umum bahwa swamedikasi hanya dilakukan oleh kelompok ekonomi bawah yang tidak mampu membayar dokter.

Bahaya yang Tersembunyi di Balik Kepraktisan

Ada harga yang harus dibayar dari kepraktisan ini. Antibiotik yang dikonsumsi tanpa diagnosis yang tepat bukan hanya tidak efektif, tetapi bisa berbahaya. Dalam penanganan penyakit periodontal, antibiotik sebenarnya hanya bersifat terapi tambahan yang mendukung tindakan mekanis seperti scaling and root planing — bukan pengobatan utama yang bisa berdiri sendiri.

Mengonsumsi antibiotik sembarangan, terutama tanpa dosis dan durasi yang tepat, mempercepat munculnya bakteri yang kebal obat. Penelitian di Yogyakarta yang dikutip dalam paper ini menunjukkan bahwa amoksisilin adalah antibiotik yang paling banyak dibeli tanpa resep (77%), dengan durasi konsumsi rata-rata hanya lima hari — yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan klinis masing-masing pasien.

Resistensi antibiotika bukan ancaman masa depan yang abstrak. Ini sudah terjadi, dan setiap pil antibiotik yang diminum tanpa indikasi yang tepat berkontribusi pada masalah kesehatan global yang semakin serius.

Angka yang Mengkhawatirkan di Balik Kebiasaan Sehari-hari

Data BPS 2019 mencatat bahwa 71,46% masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi — angka yang terus naik dari tahun ke tahun. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Survei Sosial Ekonomi Nasional 2021 menunjukkan 80,68% warga mengobati diri sendiri. Sementara prevalensi penyakit gigi dan mulut di DIY mencapai 65,6%, dengan periodontitis sebesar 74,1% — namun hanya 16,4% kasus yang ditangani oleh tenaga kesehatan gigi.

Kesenjangan antara angka penderita dan angka yang benar-benar mendapat penanganan profesional itu yang menjadi akar masalah. Selama akses ke dokter gigi masih terasa jauh, mahal, atau merepotkan, apotek akan terus menjadi “klinik pertama” bagi banyak orang yang giginya bermasalah.

Pertanyaannya kini bukan hanya soal pengetahuan masyarakat, melainkan juga soal seberapa mudah sistem kesehatan membuat warga merasa tidak perlu mengambil jalan pintas yang berisiko itu.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Pexels

Sumber DOI: https://doi.org/10.1186/2047-2994-1-38

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Berlian Nano Jadi Mata untuk Mengintip Radikal Bebas di Dalam Sel Hidup

16 July 2026

Rahasia Tulang Leher: Kunci Tepat Waktu Perawatan Ortodonti pada Anak

16 July 2026

Gigi Patah, Pulpa Terbuka: Kisah Penanganan Darurat pada Bocah 4 Tahun di RSGM Prof. Soedomo

en_US