News

/

Artikel, Latest News

Membran Amnion Manusia Dapat Percepat Penyembuhan Luka Gusi?

Selaput tipis yang membungkus janin dalam kandungan ternyata menyimpan potensi besar untuk menyembuhkan luka gusi. Itulah temuan riset yang diterbitkan dalam International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery pada 2006, oleh drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta menggunakan model kelinci, dan hasilnya menunjukkan bahwa transplantasi membran amnion manusia mampu mempercepat pemulihan jaringan gingiva secara bermakna, jauh lebih cepat dibanding penyembuhan alami tanpa penutup luka.

Membran amnion adalah lapisan paling dalam dari selaput yang melindungi janin selama kehamilan. Lapisan ini mengandung komponen membran basal, faktor pertumbuhan, dan senyawa penghambat enzim proteinase. Kombinasi ini membuatnya istimewa: ia tidak hanya melindungi, tetapi juga aktif mendorong regenerasi jaringan. Sebelum penelitian ini, membran amnion sudah digunakan sebagai pembalut luka bakar dan ulkus kulit. Di bidang mata, transplantasinya terbukti mempercepat epitelisasi kornea dan menekan peradangan.

Jaringan gingiva, atau gusi, memiliki keunikan tersendiri. Penyembuhannya secara alami lebih cepat dan menghasilkan bekas luka lebih sedikit dibandingkan kulit. Namun pada kondisi tertentu, seperti setelah prosedur bedah periodontal atau rekonstruksi jaringan lunak, dorongan tambahan tetap dibutuhkan.

Para dokter membagi 30 ekor kelinci jantan berusia 3 hingga 4 bulan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dibiarkan sembuh secara alami setelah dibuat luka biopsi pada gingiva bukal, yaitu sisi gusi yang menghadap pipi, di antara gigi seri dan premolar atas. Kelompok kedua mendapat penutup berupa lima lapis membran amnion manusia yang dijahit dengan benang vicryl 5-0. Membran amnion yang digunakan berasal dari Bank Jaringan dan Pusat Biomaterial RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga, Surabaya, yang telah melalui proses beku-kering (freeze-dried). Sampel jaringan gingiva diambil pada hari ke-1, 3, 5, 7, dan 10 setelah tindakan, lalu diproses untuk pengamatan histologis.

Ada empat hal utama yang dievaluasi: jumlah sel PMN (sel radang polimorfonuklear), jumlah fibroblas, jumlah pembuluh darah baru, serta ketebalan lapisan epitel dan kepadatan serat kolagen. Hasilnya konsisten dan signifikan secara statistik. Kelompok yang mendapat membran amnion menunjukkan jumlah sel PMN lebih rendah sejak hari pertama, yang berarti respons peradangan lebih terkendali. Pembuluh darah baru sudah terbentuk pada hari ke-3, sedangkan pada kelompok kontrol baru muncul pada hari ke-5. Fibroblas lebih banyak mulai hari ke-3 hingga hari ke-10. Lapisan epitel lebih tebal secara bermakna pada hari ke-5 sampai ke-10. Serat kolagen lebih padat dan terorganisir dengan baik pada hari ke-10.

“Transplantasi membran amnion tampaknya mendorong epitelisasi cepat, pembentukan jaringan granulasi, dan produksi kolagen, sekaligus menekan inflamasi, sehingga mempercepat penyembuhan luka gingiva pada kelinci dibandingkan penyembuhan sekunder,” tulis tim peneliti dalam publikasi tersebut.

Temuan ini bukan kebetulan. Membran amnion mengandung faktor pertumbuhan seperti bFGF, EGF, dan TGF-β, yang diketahui merangsang proliferasi fibroblas dan pembentukan pembuluh darah baru. Selain itu, membran ini juga mengandung laminin, substrat yang memudahkan sel epitel menempel dan bermigrasi ke area luka. Soal peradangan, membran amnion diduga menekan migrasi sel PMN melalui beberapa jalur: menginduksi apoptosis sel radang, menghambat produksi sitokin proinflamasi, bahkan mencegah kontaminasi bakteri karena kemampuannya melekat rapat pada permukaan luka.

Yang menarik, kepadatan serat kolagen pada kelompok membran amnion bukan sekadar lebih banyak, tetapi juga lebih terorganisir. Pada kelompok kontrol, serat kolagen di hari ke-10 masih tampak imatur dan tidak beraturan. Sementara pada kelompok membran amnion, seratnya sudah padat dan tersusun rapi, tanda jaringan yang lebih matang dan fungsional.

Implikasi klinisnya cukup menjanjikan. Membran amnion manusia yang telah dikriopreservasi memiliki imunogenisitas rendah, karena mengekspresikan sedikit molekul MHC kelas II dan lebih banyak molekul imunoregulatori seperti Fas ligand dan HLA-G. Ini berarti risiko penolakan oleh tubuh penerima, baik dalam konteks allograft maupun xenograft, relatif kecil, terlepas dari latar belakang genetik pasien. Jika hasil pada kelinci ini bisa dikonfirmasi pada manusia, membran amnion berpotensi menjadi alternatif bahan biologis untuk prosedur bedah periodontal, rekonstruksi gingiva, dan penanganan luka pascaoperasi di rongga mulut.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.ijom.2005.09.012

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US