Pernahkah kamu menambal gigi depan yang berlubang, lalu beberapa tahun kemudian warnanya berubah jadi kekuningan atau kusam? Masalah tambalan gigi yang berubah warna ini sering kali bikin kita jadi kurang percaya diri saat tersenyum lebar.
Untungnya, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) punya solusi cerdas untuk masalah ini. Dipimpin oleh drg. Margareta Rinastiti, Ph.D., bersama drg. Andina Widyastuti, S.K.G., Sp.KG., menemukan bahwa memberikan sebuah lapisan pelindung tipis khusus (berteknologi nanofiller) di atas tambalan gigi bisa menahan perubahan warna secara drastis. Bahkan, lapisan ini terbukti ampuh melindungi tambalan dari serangan air liur dan minuman bersoda yang sering kita konsumsi sehari-hari.
Riset yang diterbitkan dalam Odonto: Dental Journal ini menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang mendambakan gigi sehat, rapi, dan estetis tanpa perlu bolak-balik ke dokter gigi hanya untuk memperbaiki warna tambalan.
Saat ini, bahan tambalan yang paling populer di klinik gigi adalah komposit resin. Bahan ini sangat disukai karena warnanya bisa disesuaikan persis dengan warna gigi asli kita, sehingga saat dipakai menambal, hasilnya tidak akan terlihat.
Namun, rongga mulut manusia sebenarnya adalah lingkungan yang cukup kejam bagi bahan tambalan. Setiap hari, tambalan gigi harus menghadapi perubahan suhu dari makanan panas atau es, tekanan saat mengunyah, hingga paparan zat kimia dari apa yang kita konsumsi.
Secara ilmiah, perubahan warna pada tambalan gigi bisa terjadi melalui dua cara:
Faktor Luar (Eksternal): Zat pewarna dari makanan dan minuman yang kita konsumsi (seperti kopi, teh, bumbu kunyit, atau soda) meresap dan menempel pada permukaan tambalan yang mulai kasar.
Faktor Dalam (Internal): Terjadi reaksi kimia di dalam bahan tambalan itu sendiri akibat terus-menerus terkena air liur.
Ketika permukaan tambalan mulai mengeras atau terkikis, akan muncul celah-celah super kecil yang tidak kasatmata. Celah-celah inilah yang kemudian menjadi tempat bersarangnya zat warna dan kuman. Jika warna tambalan sudah telanjur rusak atau menguning, pasien biasanya akan meminta dokter untuk membongkar dan menggantinya dengan yang baru. Masalahnya, bongkar pasang tambalan ini membutuhkan biaya lagi dan bisa mengikis jaringan gigi asli yang sebenarnya masih sehat.
Untuk membuktikan kehebatan lapisan pelindung nanofiller ini, perlu menyiapkan ratusan sampel dari dua jenis bahan tambalan komposit yang paling sering digunakan dokter gigi: jenis flowable (cair/encer untuk celah kecil) dan jenis packable (padat/kaku untuk lubang besar). Sebagian sampel tambalan dilapisi dengan cairan pelindung nanofiller (mirip seperti mengoleskan top coat bening pada cat kuku), sedangkan sebagian lainnya dibiarkan polos tanpa pelindung.
Semua sampel tersebut kemudian direndam selama 7 hari di dalam dua jenis cairan. Air liur buatan dan minuman berkarbonasi (cola). Mengapa cola? Karena cola memiliki tingkat keasaman (pH) yang sangat rendah, yaitu sekitar 2,52. Keasaman yang tinggi seperti ini adalah salah satu musuh terbesar yang bisa merusak dan mengikis kekuatan tambalan gigi. Setelah direndam, peneliti mengukur perubahan warna dan tingkat kekasaran permukaan tambalan menggunakan alat sensor khusus yang sangat akurat.
Hasil pengujian laboratoriumnya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara tambalan yang diberi pelindung dan yang tidak. Perubahan Warna, Tambalan yang tidak diberi pelindung mengalami perubahan warna yang cukup besar hingga bisa terlihat oleh mata telanjang. Sebaliknya, tambalan yang dilapisi oleh pelindung nanofiller perubahannya sangat minim dan warnanya tetap cerah. Kekasaran Permukaan, Tambalan padat tanpa pelindung menjadi sangat kasar setelah direndam cola, bahkan tingkat kekasarannya melewati batas aman medis sehingga kuman dan plak sangat mudah menempel. Sementara itu, tambalan yang diberi lapisan pelindung permukaannya tetap halus dan rata.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa tambalan jenis cair (flowable) ternyata lebih mudah berubah warna dibanding jenis padat. Hal ini karena bahan cair mengandung lebih banyak komponen yang bersifat suka air, sehingga zat warna makanan lebih mudah terserap masuk ke dalamnya. Namun, ketika diberikan lapisan pelindung nanofiller, kelemahan bahan cair ini berhasil diatasi dengan baik.
Rahasia kehebatan lapisan pelindung ini terletak pada teknologi partikel ukuran nano di dalamnya. Cairan pelindung ini dioleskan di atas tambalan, lalu partikel-partikel super kecilnya akan langsung bergerak mengisi celah-celah mikro atau pori-pori yang tidak rata pada permukaan tambalan.
Proses ini menciptakan sebuah dinding pelindung yang sangat padat, halus, dan seragam. Lapisan bening inilah yang bertugas memblokir jalan masuknya air, air liur, maupun zat pewarna dari luar. Karena zat luar tidak bisa menembus masuk, maka kerusakan kimia di dalam tambalan bisa dicegah, dan zat pewarna makanan pun akan meluncur begitu saja tanpa bisa menempel.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik
Sumber DOI : https://doi.org/10.30659/odj.10.1.28-36