Bayangkan sebotol obat kumur yang terbuat dari tanaman pemanis alami. Bukan sekadar klaim pemasaran, melainkan hasil uji laboratorium yang terukur. Itulah yang coba dibuktikan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang menemukan bahwa ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) mampu menghambat pembentukan biofilm Streptococcus sanguinis — salah satu bakteri pelopor plak gigi — dengan efektivitas yang setara dengan klorheksidin glukonat 0,2%, standar emas obat kumur harian.
Ketika Pemanis Alami Berubah Menjadi Senjata Anti-Plak
Streptococcus sanguinis bukan nama yang akrab di telinga awam, tapi bakteri gram-positif ini memainkan peran krusial di rongga mulut. Ia adalah “pionir” — bakteri pertama yang menempel ke permukaan gigi, membuka jalan bagi koloni bakteri lain untuk membentuk plak, yang ujungnya berkontribusi pada karies dan penyakit periodontal.
Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat bahwa 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan mulut. Penyakit periodontal sendiri menduduki posisi kedua masalah kesehatan terbesar di masyarakat, dengan proporsi mencapai 70%. Angka yang tidak kecil.
Selama ini, klorheksidin menjadi andalan untuk menekan pertumbuhan biofilm oral. Tapi pemakaian jangka panjang punya konsekuensi: gangguan rasa, sensasi terbakar di mulut, hingga perubahan warna gigi. Kondisi inilah yang mendorong Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D., bersama tim penelitinya dari Departemen Biologi Oral FKG UGM untuk mencari alternatif yang lebih ramah.
Pilihannya jatuh pada stevia — tanaman asal Paraguay yang kini tumbuh subur di Bandung dan Tawangmangu. Selain dikenal sebagai pemanis alami dengan tingkat kemanisan 300 kali lipat sukrosa, daun stevia mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin yang secara teoritis memiliki sifat antibakteri dan anti-adhesi.
Uji Laboratorium: Dari Tawangmangu ke Microplate
Daun stevia yang digunakan dalam penelitian ini dipetik langsung dari Tawangmangu, Jawa Tengah. Setelah melewati proses pencucian, pengeringan, penggilingan, dan ekstraksi dengan etanol 70% melalui metode maserasi, peneliti menghasilkan ekstrak pekat berbentuk gel. Proses ini bukan sekadar menyeduh teh — butuh rotary evaporator, vacuum filter, dan serangkaian prosedur standar laboratorium untuk memastikan kemurnian ekstrak.
Bakteri S. sanguinis ATCC 10556 kemudian diuji dalam microplate 96 sumur, diinkubasi selama 24 jam bersama berbagai konsentrasi ekstrak stevia: 0,67%, 1,34%, 2,68%, dan 5,36%. Sebagai pembanding, digunakan klorheksidin glukonat 0,2% sebagai kontrol positif dan larutan PBS sebagai kontrol negatif.
Hasilnya dibaca melalui microplate reader pada panjang gelombang 540 nm setelah biofilm diwarnai dengan kristal violet. Semakin rendah nilai absorbansi, semakin banyak biofilm yang berhasil dihambat.
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun Stevia rebaudiana Bertoni M. dengan konsentrasi 5,36% memiliki efektivitas yang sama dengan klorheksidin glukonat 0,2% dalam menghambat pembentukan biofilm S. sanguinis ATCC 10556.”
Uji statistik One-Way ANOVA mengonfirmasi perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,05). Uji Post-Hoc LSD selanjutnya memperlihatkan bahwa konsentrasi 5,36% ekstrak stevia tidak berbeda bermakna dibandingkan klorheksidin 0,2% — artinya, keduanya bekerja pada level yang sebanding.
Flavonoid, Alkaloid, Tanin: Tiga Penjaga di Balik Khasiat Stevia
Angka-angka statistik itu punya penjelasan biologis yang konkret. Flavonoid dalam ekstrak stevia bekerja dengan menghambat mekanisme adhesi antarsel bakteri melalui jalur gen Ica, serta merusak aktivitas enzim glikosiltransferase (GTF) yang dibutuhkan bakteri untuk memproduksi matriks biofilm. Tanpa matriks, biofilm tak bisa terbentuk.
Alkaloid mengambil jalur berbeda: senyawa ini merusak komponen peptidoglikan dinding sel bakteri dan mendenaturasi protein membran. Akibatnya, permeabilitas sel meningkat, komponen intraseluler bocor keluar, dan bakteri mati.
Tanin, sementara itu, bertindak sebagai anti-adhesi dengan cara membentuk ikatan kompleks bersama protein, menonaktifkan adhesin bakteri — semacam “mengelem” kait yang biasa dipakai bakteri untuk menempel ke permukaan gigi. Tanin juga menurunkan hidrofobisitas permukaan bakteri, yang turut mempersulit proses penempelan.
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin banyak senyawa aktif yang tersedia, dan semakin efektif hambatan yang diberikan. Rata-rata persentase inhibisi biofilm pada konsentrasi 0,67% tercatat 51,84%, meningkat menjadi 67,48% pada 1,34%, lalu 78,53% pada 2,68%, dan mencapai 84,97% pada konsentrasi tertinggi 5,36% — mendekati efektivitas klorheksidin yang mencapai 91,10%.
Potensi Besar, Satu Catatan Penting
Temuan ini membuka peluang menarik: stevia, yang selama ini lebih dikenal sebagai pengganti gula, ternyata menyimpan potensi sebagai bahan aktif produk kesehatan mulut. Apalagi, steviosida dalam daun stevia telah dinyatakan tidak toksik oleh WHO, dan senyawa pemanis dalam daun ini tidak dapat difermentasi oleh bakteri oral — sehingga tidak bersifat kariogenik.
Namun, para peneliti sendiri menegaskan satu batasan penting dari studi ini: belum ada uji biokompatibilitas, termasuk uji sitotoksisitas, yang dilakukan terhadap ekstrak stevia. Tanpa data itu, penentuan dosis yang aman untuk aplikasi klinis pada manusia masih belum bisa dilakukan.
Penelitian ini baru menjawab pertanyaan “apakah bisa menghambat biofilm?” di lingkungan laboratorium. Pertanyaan berikutnya — apakah aman, seberapa stabil, dan dalam formulasi seperti apa ia paling efektif — masih menunggu untuk dijawab. Tapi sebagai titik awal, stevia telah membuktikan dirinya layak diteliti lebih jauh, jauh melampaui sekadar pemanis di cangkir teh.
Sumber DOI : doi.org/10.21460/bikdw.v10i1.1120
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pixels