Banyak orang ingin gigi lebih putih, tapi tidak semua tahu bahwa proses pemutihan gigi bisa membuat permukaan email menjadi lebih kasar dan rentan berlubang. Penelitian dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan dalam jurnal MKGK UGM edisi Agustus 2022 membuktikan bahwa jenis pasta gigi yang digunakan setelah bleaching menentukan seberapa cepat dan seberapa baik permukaan gigi bisa pulih. Penelitian yang dipimpin oleh drg. Andina Widyastuti, Sp.KG(K) ini dilakukan di Laboratorium Riset Terpadu FKG UGM dan Laboratorium Teknologi Mekanik Universitas Sanata Dharma, menggunakan 20 gigi premolar rahang atas yang telah diekstraksi, dan hasilnya cukup mengejutkan, pasta gigi tanpa fluorida hampir tidak memberikan manfaat apa pun bagi pemulihan email pasca bleaching.
Home bleaching atau pemutihan gigi mandiri di rumah memang kian digemari. Harganya lebih terjangkau dibanding prosedur di klinik, mudah digunakan, dan tidak perlu berkali-kali datang ke dokter gigi. Bahan yang paling umum dipakai adalah karbamid peroksida konsentrasi rendah, termasuk yang berkadar 10% hingga 20%. Namun ada konsekuensi yang jarang disadari pengguna. Kandungan peroksida dalam gel pemutih gigi bekerja dengan cara melarutkan ion kalsium dan fosfat dari permukaan email. Proses ini disebut demineralisasi: mineral gigi berkurang, email menjadi lebih berpori, dan permukaannya menjadi lebih kasar dari sebelumnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko karies, sensitivitas gigi, bahkan fraktur email.
Dalam penelitian ini, seluruh spesimen gigi diberi perlakuan bleaching menggunakan karbamid peroksida 20% selama empat jam per hari dalam kurun 14 hari, mensimulasikan pemakaian nyata di rumah. Pengukuran kekasaran permukaan dilakukan tiga kali: sebelum bleaching, setelah bleaching, dan setelah penyikatan. Hasilnya konsisten, bleaching meningkatkan kekasaran permukaan email secara signifikan pada semua kelompok.
Setelah fase bleaching selesai, 20 spesimen dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan penyikatan: menggunakan akuades saja, pasta gigi nonfluorida, pasta gigi fluorida, dan pasta gigi low-abrasive fluoridated. Penyikatan dilakukan dengan mesin otomatis sebanyak 6.720 kali, setara enam bulan pemakaian nyata.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang nyata. Kelompok yang disikat dengan pasta gigi fluorida dan low-abrasive fluoridated mencatat nilai kekasaran permukaan yang jauh lebih rendah dibanding kelompok akuades maupun pasta gigi nonfluorida. Angka kekasaran pada kedua kelompok ini bahkan mendekati kondisi sebelum bleaching dilakukan.
“Pasta gigi fluorida dan pasta gigi low-abrasive fluoridated direkomendasikan untuk digunakan pada pasien pasca perawatan bleaching.” drg. Andina Widyastuti, Sp.KG(K) dan tim peneliti, MKGK UGM 2022
Mekanismenya dapat dijelaskan secara ilmiah. Ion fluorida dalam pasta gigi berperan dalam proses remineralisasi, yaitu pengembalian mineral yang hilang akibat demineralisasi. Fluorida membentuk ikatan fluoroapatit pada permukaan email, yang lebih tahan terhadap asam dibanding ikatan hidroksiapatit alami. Hasilnya, pori-pori mikro pada email tertutup kembali, dan permukaan gigi menjadi lebih halus.
Pasta gigi low-abrasive fluoridated menunjukkan hasil terbaik di antara semua kelompok. Selain mengandung fluorida, pasta jenis ini memiliki partikel abrasif yang lebih kecil dibanding pasta fluorida biasa, sehingga tidak menambah kerusakan mekanis pada permukaan email yang sedang dalam proses pemulihan.
Temuan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah performa pasta gigi nonfluorida. Dalam penelitian ini, pasta gigi herbal tanpa kandungan fluorida menunjukkan kekasaran permukaan yang lebih tinggi dibanding kelompok fluorida, dan secara statistik tidak berbeda bermakna dengan kelompok yang hanya disikat menggunakan akuades.
Ini berarti menyikat gigi dengan pasta herbal tanpa fluorida, meski dilakukan rutin, tidak memberikan manfaat signifikan dalam membantu pemulihan email pasca bleaching. Bukan karena pasta herbaL tidak baik secara umum, tetapi karena tidak adanya kandungan fluorida membuat proses remineralisasi tidak berjalan optimal.
Temuan ini penting mengingat tren produk perawatan gigi berbahan alami terus meningkat di Indonesia. Bagi konsumen yang baru saja menjalani prosedur pemutihan gigi, memilih pasta gigi herbal tanpa fluorida bisa berarti membiarkan email gigi dalam kondisi lebih rentan lebih lama dari yang seharusnya.
Penelitian ini memang dilakukan secara laboratoris menggunakan gigi yang telah diekstraksi, bukan langsung pada pasien. Namun temuan ini memberi landasan ilmiah yang cukup kuat bagi para klinisi untuk memberikan rekomendasi spesifik kepada pasien yang menjalani home bleaching.
Untuk pasien yang ingin mempertahankan hasil pemutihan sekaligus menjaga kesehatan email, pasta gigi low-abrasive fluoridated tampak menjadi pilihan yang paling menguntungkan, fluoridanya membantu remineralisasi, sementara partikel abrasif yang halus tidak memperparah kekasaran yang sudah terjadi akibat bleaching. Keinginan memiliki gigi putih bersih adalah hal yang wajar. Tapi jalan menuju senyum yang sehat tidak berhenti di akhir sesi bleaching, melainkan dimulai dari apa yang kita oleskan ke sikat gigi setiap pagi dan malam.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik