Tujuh dari sepuluh orang Indonesia mengalami masalah pada jaringan periodontal, yakni gusi dan tulang penyangga gigi. Angka itu bukan perkiraan, melainkan temuan Riset Kesehatan Dasar 2018 yang mencatat 74,10% kasus periodontitis di seluruh pelosok negeri. Di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal kebersihan gigi, tapi juga soal air yang diminum setiap hari. Apakah kandungan mineral dalam air sumur yang digunakan warga selama ini turut berperan dalam munculnya penyakit gusi? Itulah yang ingin dijawab oleh Bekti Nur’aini, S.Kp.G., M.P.H. bersama timnya dari Program Studi Higiene Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, melalui penelitian yang diterbitkan di Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia pada Oktober 2023.
Mineral dalam Air, Karang Gigi, dan Penyakit Gusi
Logikanya terdengar masuk akal: air sumur mengandung kalsium dan mineral lain. Mineral itu masuk ke tubuh, larut dalam air liur (saliva), lalu membantu pembentukan karang gigi atau yang dalam istilah kedokteran gigi disebut kalkulus. Kalkulus yang menumpuk di permukaan gigi dan di bawah garis gusi menjadi iritan kronis yang memicu peradangan gingiva, dan bila dibiarkan, berkembang menjadi periodontitis, kondisi serius yang bisa merusak tulang penyangga gigi hingga menyebabkan gigi tanggal.
Dua parameter kualitas air yang menjadi fokus penelitian ini adalah kesadahan dan kadar fluorida. Kesadahan air menggambarkan konsentrasi ion kalsium dan magnesium, semakin tinggi kandungannya, semakin “keras” air tersebut. Fluorida, di sisi lain, dikenal luas sebagai mineral pelindung gigi yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab plak, sekaligus memperkuat email gigi.
Wilayah Pundong dipilih bukan tanpa alasan. Kecamatan ini memiliki topografi beragam, dari dataran rendah hingga perbukitan, sehingga warganya mengandalkan sumur gali, mata air, dan air PDAM sebagai sumber air bersih. Kondisi ini menciptakan variasi kualitas air yang menarik untuk diteliti.
Apa yang Ditemukan di Lapangan
Tim peneliti menggunakan desain case control, membandingkan 60 pasien yang terdiagnosis penyakit periodontal dengan 60 orang tanpa diagnosis tersebut, semuanya tercatat di rekam medis Puskesmas Pundong tahun 2016. Sampel air bersih diambil langsung dari sumur masing-masing responden, lalu diuji di Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta dalam waktu kurang dari 24 jam agar kandungan kimianya tidak berubah.
Hasilnya cukup mengejutkan. Meski sebagian besar sampel air termasuk kategori sangat sadah, secara statistik kesadahan air tidak terbukti berhubungan dengan kejadian penyakit periodontal (nilai p = 0,698). Begitu pula dengan fluorida, tidak ada hubungan bermakna yang ditemukan (nilai p = 0,1664).
Satu temuan yang menarik perhatian: seluruh sampel air di Pundong mengandung fluorida dalam kategori rendah, di bawah 0,6 mg/l. Padahal, untuk suhu udara rata-rata Bantul yang mencapai 29°C, rekomendasi kadar fluorida dalam air minum seharusnya berada di kisaran 0,6 hingga 1,4 mg/l. Rendahnya kadar fluorida ini kemungkinan berkaitan dengan lokasi Pundong yang tidak berada di zona aktivitas geothermal atau vulkanik, tidak seperti sebagian wilayah lain di Jawa yang lapisannya kaya mineral vulkanik.
Mengapa Hasilnya Berbeda dari Dugaan Awal
Para peneliti menduga ada beberapa penjelasan. Pertama, karena seluruh sampel air berada dalam rentang fluorida yang sama-sama rendah, variasi data menjadi terlalu sempit untuk mendeteksi perbedaan yang bermakna secara statistik. Ini berbeda dengan penelitian di daerah yang memiliki air dengan kadar fluorida lebih bervariasi, di mana hubungan dengan kondisi periodontal lebih mudah terlihat.
Kedua, penyakit periodontal sendiri bersifat multifaktorial. Faktor-faktor lain seperti kebiasaan menyikat gigi, frekuensi kunjungan ke dokter gigi, pola makan, kebiasaan merokok, hingga kondisi penyakit sistemik seperti diabetes, semuanya turut berperan dan tidak dikendalikan dalam penelitian ini.
“Meskipun secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar fluorida dengan penyakit jaringan periodontal, namun sesungguhnya air minum yang mengandung fluorida dapat mempengaruhi penyakit periodontal melalui mekanisme langsung atau tidak langsung.”
Mekanisme langsung terjadi saat fluorida menekan pertumbuhan plak bakteri. Secara tidak langsung, fluorida melindungi gigi dari karies, yang pada gilirannya mengurangi kebutuhan perawatan restorasi yang bisa memperparah kondisi periodontal.
Rendahnya Fluorida: Masalah yang Perlu Diperhatikan
Temuan soal rendahnya kadar fluorida di seluruh wilayah Pundong justru menjadi catatan paling penting dari penelitian ini. Fluorida bukan hanya soal gigi, mineral ini juga berperan dalam kesehatan tulang secara umum. Kadar yang terlalu rendah dalam air minum bisa menjadi celah yang selama ini luput dari perhatian program kesehatan masyarakat.
Tim peneliti merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan asupan fluorida melalui makanan, salah satunya ikan laut yang kaya kandungan mineral ini. Selain itu, menyikat gigi dengan pasta gigi berfluorida minimal dua kali sehari, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur, tetap menjadi langkah paling praktis dan terjangkau.
Untuk penelitian selanjutnya, tim menyarankan cakupan yang lebih luas: lebih banyak responden, wilayah dengan topografi lebih tinggi, dan daerah yang memiliki aktivitas geothermal, agar variasi kadar fluorida dalam air bisa benar-benar diuji pengaruhnya terhadap kesehatan gusi.
Air yang mengalir dari sumur setiap pagi mungkin terasa bersih dan segar. Tapi apa yang tidak terlihat di dalamnya, baik yang ada maupun yang seharusnya ada, bisa jadi lebih penting dari yang kita bayangkan.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.14710/jkli.22.3.252-258