News

/

Artikel, Latest News

Kontrasepsi Hormonal Ternyata Mengubah Kondisi Saliva Wanita

Tiga puluh wanita dari dusun-dusun di Kecamatan Prambanan dan Ngemplak, Sleman, duduk bergantian, menundukkan kepala sekitar 45 derajat, membiarkan saliva mengalir pelan ke dalam pot kecil. Bukan prosedur yang rumit. Tapi dari satu menit pengumpulan cairan itu, sebuah temuan menarik muncul: wanita yang mengonsumsi pil KB memiliki pH dan volume saliva yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal sama sekali.

Penelitian yang diterbitkan dalam Dentika Dental Journal edisi Juli 2010 ini digagas oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, bersama tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Temuannya sederhana secara statistik, tapi implikasinya menyentuh jutaan perempuan Indonesia yang setiap hari menelan pil atau mendatangi bidan untuk suntikan KB.

Saliva Bukan Sekadar Air Ludah

Sebelum memahami mengapa temuan ini penting, perlu dipahami dulu apa yang sebenarnya dilakukan saliva di dalam mulut. Cairan ini bukan sekadar pelembab. Saliva bekerja keras: membersihkan sisa makanan secara mekanis, melumasi gigi-geligi, menetralisir asam melalui kapasitas buffer, hingga menghambat kolonisasi bakteri patogen.

pH saliva normal berada di kisaran 6,7 hingga 7,3. Angka ini bukan statis. Ia berfluktuasi mengikuti ritme sirkadian, jenis diet, bahkan kondisi psikis seseorang. Diet tinggi karbohidrat menurunkan kapasitas buffer karena bakteri menghasilkan lebih banyak asam; diet kaya protein justru menaikkannya karena bakteri mengurai protein menjadi senyawa basa seperti amonia.

Volume saliva dalam 24 jam berkisar antara 1.000 hingga 1.500 ml. Dalam keadaan tidak terstimulasi, sekresi berlangsung sekitar 0,32 ml per menit. Dalam keadaan terstimulasi, angka itu bisa melompat hingga 3-4 ml per menit.

Angka yang Berbicara

Dalam studi ini, 30 subjek dibagi menjadi tiga kelompok: pengguna kontrasepsi pil, pengguna kontrasepsi suntik, dan kelompok kontrol tanpa kontrasepsi hormonal. Semua subjek berusia 20-35 tahun, dalam kondisi sehat, tidak sedang dalam perawatan ortodonsi, dan telah menggunakan kontrasepsi lebih dari tiga bulan.

Pengambilan saliva dilakukan sore hari antara pukul 16.00-17.00 WIB dengan metode tanpa stimulasi, kondisi yang dianggap paling mewakili keadaan fisiologis rutin. Hasilnya tertuang dalam data yang cukup tegas.

“Pemakaian kontrasepsi hormonal jenis pil dan suntik dapat mengakibatkan peningkatan nilai pH dan volume saliva pada wanita pemakainya.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, et al., Dentika Dental Journal, 2010

Kelompok pil mencatat rerata pH saliva 7,19 dengan volume 2,15 ml per menit. Kelompok suntik memperoleh pH 6,92 dan volume 1,41 ml per menit. Sementara kelompok kontrol hanya mencapai pH 6,59 dengan volume 0,81 ml per menit. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, baik untuk pH maupun volume saliva, dengan nilai p = 0,000 untuk keduanya.

Hormon, Kortisol, dan Rantai Sebab-Akibat

Lalu bagaimana kontrasepsi hormonal bisa mengubah komposisi saliva? Jawabannya terletak pada jalur yang lebih panjang dari yang dibayangkan.

Pil KB mengandung hormon steroid sintetis berupa estrogen dan progesteron. Suntik KB mengandung progesteron saja. Kedua hormon ini, ketika masuk ke sirkulasi, diduga meningkatkan kadar kortisol dalam plasma darah. Kortisol kemudian mempengaruhi sistem saraf simpatis melalui reseptor adrenergik, yang pada akhirnya mendorong peningkatan sekresi saliva kaya protein dari kelenjar salivarius.

Ada pula penjelasan lain yang saling mendukung. Kandungan estradiol dan progesteron diketahui memperparah inflamasi gingiva, menyebabkan gingivitis yang lebih mudah terpicu. Kondisi radang pada gingiva itu sendiri, menurut literatur yang dikutip dalam penelitian ini, merupakan stimulan bagi sekresi saliva. Semakin banyak saliva yang disekresikan, semakin tinggi pula konsentrasi ion bikarbonat, yang berbanding lurus dengan kenaikan pH.

Menariknya, meski kortisol meningkat, penelitian ini tidak menemukan penurunan sistem imun pada subjek. Para peneliti menduga hal ini terjadi karena peningkatan kortisol diimbangi oleh penurunan kortison dalam plasma, serta peran enzim 11β-hydroxysteroid dehydrogenase pada kelenjar saliva yang mengubah kortisol menjadi kortison.

Relevansi yang Tidak Bisa Diabaikan

Indonesia adalah salah satu negara dengan program Keluarga Berencana yang dinilai berhasil. Pil dan suntik KB bukan barang asing. Efektivitasnya mencapai 99,6 persen, harganya relatif terjangkau, dan mudah diakses hingga ke tingkat dusun. Jutaan perempuan Indonesia menggunakannya setiap hari, tanpa menyadari bahwa hormon sintetis yang mereka konsumsi mungkin sedang mengubah kondisi rongga mulut mereka secara diam-diam.

Perubahan pH dan volume saliva bukan tanpa konsekuensi. Saliva yang lebih banyak dan lebih basa bisa memengaruhi keseimbangan flora oral, kecepatan pembentukan plak, bahkan potensi karies. Penelitian ini belum menjawab semua pertanyaan itu. Para peneliti sendiri menyebut perlunya studi lanjutan yang mengendalikan faktor diet dan mengukur total protein saliva untuk memahami korelasinya secara lebih utuh.

Yang sudah jelas: tubuh perempuan merespons kontrasepsi hormonal jauh lebih kompleks dari sekadar mencegah kehamilan. Dan rongga mulut, yang sering luput dari perhatian dalam konteks kesehatan reproduksi, ternyata ikut menjadi panggung dari perubahan itu.

Sumber DOI : https://doi.org/10.32734/dentika.v15i1.1678

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pixels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 July 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 July 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

en_US