Satu sel makrofag mampu menelan hingga 35 partikel sekaligus. Angka itu bukan rekor laboratorium biasa — itu hasil yang diperoleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, tatkala ia menguji efek minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.) terhadap aktivitas fagositosis sel makrofag yang terpapar bakteri periodontal Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mampu memfagosit sekitar 12 partikel, selisih itu bicara keras.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Dentika Dental Journal (Vol. 17, No. 3, 2013) ini bukan sekadar menguji herbal lokal. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: bisakah opsonisasi serum — proses pelabelan patogen oleh protein imun agar lebih mudah dikenali sel fagosit — semakin menguatkan efek imunomodulator yang sudah diberikan oleh tanaman rempah yang selama ini akrab di dapur dan jamu Indonesia?
Bakteri Periodontal sebagai Provokator
A. actinomycetemcomitans bukan tamu asing di rongga mulut. Bakteri Gram-negatif fakultatif berbentuk batang ini lazim ditemukan di plak gigi, poket periodontal, dan sulkus gingiva. Dalam kondisi tertentu, ia bisa memicu endokarditis, abses otak, hingga penyakit periodontal progresif. Kehadirannya di gingiva tikus Wistar dalam eksperimen ini bukan kebetulan — ia dipilih sebagai stimulator inflamasi yang relevan secara klinis.
Sepuluh ekor tikus Wistar jantan dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok perlakuan menerima minyak atsiri temu putih dosis 30,6 μl/ml secara oral selama 14 hari; kelompok kontrol hanya diberi akuabides. Pada hari ke-7, gingiva anterior rahang bawah semua tikus diolesi suspensi A. actinomycetemcomitans sebanyak 100 μl dalam CMC 2%, dan pengolesan ini diulang selama tujuh hari berturut-turut. Seluruh prosedur dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM dengan persetujuan etik resmi dari Komite Etik Penelitian FKG UGM.
Pada hari ke-15, darah diambil dari plexus retroorbitalis untuk pembuatan serum. Latex beads berdiameter 3 μm — pengganti partikel bakteri dalam uji fagositosis nonspesifik — kemudian diinkubasi dalam serum tersebut selama satu jam sebelum dipaparkan ke makrofag peritoneal. Sel-sel makrofag yang telah dikultur 24 jam kemudian diwarnai dengan Giemsa 20% dan diamati di bawah mikroskop cahaya.
Serum sebagai Penentu Akhir
Di sinilah letak kebaruan penelitian ini. Juni Handajani tidak hanya mengukur apakah minyak atsiri temu putih meningkatkan aktivitas makrofag secara langsung — pertanyaan yang sebagian sudah dijawab oleh riset-riset sebelumnya. Ia menambahkan satu lapisan variabel: apakah serum dari tikus yang telah diberi minyak atsiri tersebut turut membawa “sinyal imun” yang mampu memperkuat proses opsonisasi?
Hasilnya menegaskan: ya. Uji-t menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,00) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Persentase fagositosis mencapai 126,86%, yang berarti induksi minyak atsiri temu putih meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag terhadap latex beads teropsonisasi hingga lebih dari satu kali lipat dibanding kontrol.
“Opsonisasi serum mampu meningkatkan aktivitas fagositosis sel makrofag yang telah diinduksi minyak atsiri temu putih.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, Dentika Dental Journal, 2013
Mekanisme yang diduga mendasari temuan ini melibatkan produksi Tumour Necrosis Factor-α (TNF-α), sitokin pleiotropik yang mengaktivasi makrofag melalui jalur respiratory burst-dependent and NO-dependent killing. Minyak atsiri temu putih, dengan kandungan seskuiterpen seperti furanodiene dan furanodienone, diduga memacu produksi protein larut ini secara in vivo, sehingga serum yang dihasilkan sudah mengandung molekul-molekul aktivasi makrofag yang bekerja secara autocrine and paracrine.
Dari Rimpang Kuning ke Imunologi Klinis
Temu putih bukan tanaman baru dalam khazanah pengobatan Indonesia. Rimpangnya telah lama digunakan sebagai bahan jamu pascamelahirkan, tonikum, hingga penawar luka. Yang membedakan penelitian Juni Handajani adalah upayanya mendudukkan kearifan lokal itu dalam kerangka imunologi molekuler yang ketat — lengkap dengan kontrol, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan protokol etik hewan coba yang terstandar.
Minyak atsiri temu putih yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui destilasi di LPPT UGM. Dari 2.833 gram rimpang segar, hanya diperoleh 3 ml minyak atsiri konsentrasi 100% — angka yang menggambarkan betapa padatnya kandungan aktif yang tersimpan dalam rimpang itu.
Temuan ini membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut: apakah minyak atsiri temu putih berpotensi dikembangkan sebagai agen imunomodulator berbasis herbal untuk mendukung pertahanan jaringan periodontal? Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Namun satu sel makrofag yang mampu menelan 35 partikel sekaligus — dibanding 12 pada kelompok tanpa perlakuan — adalah titik awal yang sulit diabaikan.
Sumber DOI : https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1702
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik ( magnific )