News

/

Artikel, Latest News

Zat Pewarna Batik dan Ancaman Tersembunyi di Balik Mukosa Mulut Pekerja

Lebih dari lima tahun mereka bekerja di divisi pewarnaan, mencelupkan kain ke dalam larutan azo setiap hari — tanpa tahu bahwa zat sintetis itu perlahan mengubah sel-sel di mukosa pipi mereka. Penelitian Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menawarkan bukti ilmiah yang mengkhawatirkan: paparan azo, pewarna utama industri batik, terbukti meningkatkan ekspresi Sitokeratin 19 secara signifikan pada sel epitel mukosa bukal pekerja batik.

Temuan ini dipublikasikan dalam Medical Journal of the Islamic Republic of Iran edisi Maret 2018, bersama drg. Lisdrianto Hanindriyo dari Departemen Preventive and Community Dentistry FKG UGM.

Ketika Pewarna Batik Masuk ke Sel Epitel

Azo adalah senyawa turunan benzena yang digunakan luas sebagai pewarna sintetis di industri batik. Ia bisa masuk ke tubuh melalui tiga jalur: inhalasi, penelanan, maupun kontak langsung dengan kulit. Dalam lingkungan kerja pewarnaan batik rumahan di Yogyakarta, ketiga jalur ini nyaris tidak terhindarkan.

Sitokeratin adalah protein filamen intermediat yang menyusun sitoskeleton sel epitel. Ia bukan sekadar “rangka” sel — ia juga berperan sebagai penanda diferensiasi sel dan, dalam kondisi patologis, menjadi sinyal peringatan awal. Ekspresi Sitokeratin 8, 18, dan 19 yang berlebihan diketahui berkaitan erat dengan hiperproliferasi sel epitel, leukoplakia, bahkan karsinoma sel skuamosa pada mukosa mulut.

Pertanyaannya: apakah paparan azo pada pekerja batik cukup untuk memicu perubahan pola ekspresi sitokeratin tersebut?

Tiga Puluh Pria, Dua Kelompok, Satu Temuan Mengejutkan

Penelitian ini melibatkan 30 pria berusia 18 hingga 40 tahun, dibagi rata menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 15 pekerja di divisi pewarnaan batik rumahan Yogyakarta yang telah terpapar azo minimal lima tahun. Kelompok kedua adalah 15 orang kontrol tanpa paparan azo. Seluruh partisipan memiliki skor Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) yang baik, untuk memastikan variabel kebersihan mulut tidak mengaburkan hasil.

Sel epitel mukosa bukal diambil menggunakan teknik sitologi eksfoliatif dengan cytobrush, kemudian diperiksa ekspresi Sitokeratin 19-nya melalui pewarnaan imunohistokimia. Metode ini dipilih karena mampu mendeteksi perubahan seluler pada tingkat molekuler tanpa prosedur invasif.

Hasilnya tajam. Kelompok kontrol menunjukkan ekspresi negatif. Kelompok terpapar mencatat rerata ekspresi positif sebesar 97,600 ± 2,063, berbanding 3,133 ± 1,641 pada kontrol. Uji t independen mengonfirmasi perbedaan yang sangat bermakna (p < 0,001).

“Ekspresi Sitokeratin 19 yang sangat tinggi pada sel epitel mukosa bukal mengindikasikan kemungkinan hiperproliferasi berlebihan pada sel epitel akibat paparan azo.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dalam artikel penelitian tersebut

Deteksi Dini yang Bisa Menyelamatkan

Implikasi temuan ini melampaui konteks laboratorium. Sel epitel mukosa bukal adalah lini pertahanan pertama tubuh terhadap partikel yang masuk melalui inhalasi maupun ingesti. Perubahan pada sel-sel ini bisa menjadi sinyal paling awal sebelum lesi pramaligna terbentuk secara klinis.

Penelitian ini menempatkan ekspresi Sitokeratin 19 sebagai indikator deteksi dini yang potensial untuk perubahan pola diferensiasi sel pada pekerja yang terpapar bahan kimia. Teknik sitologi eksfoliatif yang digunakan pun relatif sederhana dan tidak menyakitkan, membuka peluang untuk diterapkan sebagai skrining rutin di lingkungan kerja berisiko tinggi.

Penelitian ini didukung oleh Hibah Penelitian Fundamental dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia (No: 015/SP2H/LT/DRPM/II/2016) dan telah mendapat persetujuan komite etik FKG UGM (No: 00586/KKEP/FKG-UGM/EC/2016).

Temuan Prof. Juni Handajani menyambung rangkaian studi sebelumnya dari laboratorium yang sama, yang telah mendokumentasikan peningkatan frekuensi mikronukleus, kariолisis, pikнosis, hingga ekspresi Sitokeratin 5 pada pekerja batik. Bersama-sama, data ini membangun gambaran yang semakin utuh tentang apa yang sesungguhnya terjadi di dalam mulut orang-orang yang setiap hari bergelut dengan pewarna batik — jauh sebelum gejala klinis apapun muncul.

Sumber DOI : https://doi.org/10.14196/mjiri.32.23

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik ( magnific )

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Inovasi EcoDenMap Tawarkan Tekan Polusi Praktik Kedokteran Gigi

16 July 2026

Mahasiswa Dental Summer Course 2026 Paparkan Sikat Gigi dari Limbah Sekam Padi

16 July 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

en_US