News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Sayatan Kecil, Dampak Besar: Misteri Desain Flap dalam Pencabutan Gigi Bungsu

Selama bertahun-tahun, pasien yang menjalani odontektomi — operasi pencabutan gigi bungsu rahang bawah yang terpendam — sering pulang dengan keluhan serupa: pipi bengkak, mulut susah dibuka, nyeri yang bertahan berhari-hari. Yang jarang mereka tahu adalah bahwa pengalaman pascaoperasi itu bisa sangat berbeda, tergantung pada satu keputusan teknis yang dibuat dokter bedah di awal prosedur: bagaimana insisi flap dirancang.

Pertanyaan itulah yang mendorong tim peneliti dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk melakukan tinjauan sistematis komprehensif. Hasilnya dipublikasikan dalam Indonesian Dentistry Magazine edisi Desember 2025, menyimpulkan bahwa pilihan desain flap bukan sekadar preferensi teknis — ia secara nyata memengaruhi perjalanan penyembuhan dan tingkat komplikasi pasien.

Gigi yang Terpendam, Risiko yang Mengintai

Gigi molar ketiga mandibula, atau yang awam kenal sebagai gigi bungsu, kerap tumbuh dalam posisi miring atau sama sekali tidak bisa erupsi sempurna. Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika. Plak yang menumpuk di sekitar gigi terpendam dapat memicu peradangan gusi yang, bila dibiarkan, berkembang menjadi infeksi bakteri serius — bahkan abses yang menyebar ke area leher, dagu, atau submandibula.

Odontektomi adalah solusi baku untuk kondisi ini. Namun operasi ini tidak bebas risiko. Nyeri pascaoperasi, pembengkakan, dan trismus — keterbatasan membuka mulut — adalah komplikasi yang hampir pasti dialami pasien dalam derajat yang berbeda-beda. Penelitian yang dipimpin oleh Astrodita Adya Seta bersama drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) dan Erdananda Haryosuwandito ini menelaah 21 studi randomized controlled trial (RCT) yang diterbitkan antara tahun 2000 hingga 2024, mencari jawaban atas pertanyaan yang tampaknya sederhana: apakah desain flap benar-benar membuat perbedaan?

Dua Pemain Utama, Dua Karakter Berbeda

Dari 21 studi yang dianalisis menggunakan panduan PRISMA, dua jenis flap mendominasi literatur: envelope flap and triangular flap. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan yang saling melengkapi — bukan menggantikan.

Envelope flap dibuat dengan insisi sepanjang sulkus gingiva tanpa sayatan vertikal tambahan. Teknik ini lebih minim invasif, memberikan pasokan darah yang baik, dan memudahkan penjahitan. Namun kekurangannya juga jelas: insisi sulkular dapat mengganggu ligamen periodontal, meningkatkan aktivitas osteoklastik saat refleksi flap, dan memunculkan risiko wound dehiscence — terbukanya luka jahitan akibat tegangan flap di sisi anterior. Beberapa studi juga mengaitkan envelope flap dengan kejadian dry socket atau alveolar osteitis.

Triangular flap, di sisi lain, menambahkan satu sayatan vertikal yang memberikan akses bedah lebih luas. Visualisasi lapangan operasi lebih baik, dan teknik ini mendukung penutupan luka primer yang lebih optimal. Namun luas sayatan yang lebih besar berarti area luka yang lebih besar pula — faktor yang dikaitkan dengan nyeri pascaoperasi lebih tinggi dan risiko dry socket yang tidak dapat diabaikan.

“Pemilihan dan penggunaan flap dalam prosedur pencabutan gigi molar ketiga mandibula harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi spesifik setiap kasus.”

Pernyataan itu bukan sekadar klausul kehati-hatian. Ia adalah simpulan utama dari seluruh analisis komparatif yang dilakukan.

Inovasi Flap: Mencari yang Terbaik dari Dua Dunia

Di luar dua desain konvensional itu, tinjauan ini juga menyoroti sejumlah modifikasi yang menarik. Pedicle flap terbukti lebih efektif mencegah dry socket dan alveolar osteitis dibandingkan envelope flap, meski risiko dehiscence tetap ada. Reverse triangular flap — modifikasi yang pernah diteliti langsung oleh drg. Pingky Krisna Arindra bersama koleganya pada 2018 — memungkinkan refleksi flap segitiga pendek yang memfasilitasi penutupan luka primer dan meningkatkan visibilitas pada aspek distal gigi impaksi. Kelemahannya: risiko perdarahan dan potensi cedera nervus lingualis, terutama bila trigonum retromolar tipis atau insisi tidak tepat di atas tulang.

Temuan paling menarik datang dari perbandingan lingual-based and buccal-based triangular flap. Studi oleh Rajendran (2023) dan Yolcu (2015) menunjukkan bahwa flap triangular berbasis lingual unggul dalam mengendalikan nyeri, pembengkakan, dan trismus pascaoperasi, sekaligus meminimalkan perdarahan dibandingkan varian berbasis bukal. Sementara Shahi dkk. (2024) menemukan hasil yang sedikit berbeda: buccal-based triangular flap justru lebih baik dalam mereduksi nyeri dan bengkak, meski keduanya tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam hal pembukaan mulut atau insiden trismus.

Kontradiksi ini bukan kelemahan penelitian — justru ia memperlihatkan betapa kompleksnya anatomi dan respons jaringan tiap individu, dan mengapa konsensus universal soal flap ideal belum pernah benar-benar tercapai.

Bukan Soal Pilihan Favorit, Melainkan Presisi Klinis

Dari keseluruhan analisis, satu pesan mengemuka dengan jernih: tidak ada desain flap tunggal yang superior untuk semua situasi. Envelope flap cocok untuk kasus impaksi kelas A dan B dengan pendekatan minim invasif. Triangular flap memberikan akses bedah lebih baik dengan hasil penyembuhan luka yang setara, meski dengan profil komplikasi yang berbeda. Modifikasi seperti modified triangular flap and pedicle flap menawarkan solusi untuk kasus-kasus spesifik di mana kontrol komplikasi menjadi prioritas utama.

Yang sesungguhnya menentukan hasil akhir adalah kemampuan dokter bedah membaca kondisi klinis pasien secara cermat, lalu memilih teknik yang paling sesuai. Dalam dunia bedah mulut, insisi yang tepat bukan sekadar soal estetika sayatan — ia adalah keputusan yang pasien rasakan dampaknya selama berhari-hari setelah mereka meninggalkan kursi operasi.

Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.111285

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 July 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 July 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

en_US