Isu keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan limbah medis menjadi perhatian dunia seiring meningkatnya penggunaan peralatan kesehatan sekali pakai dan bertambahnya jumlah limbah yang dihasilkan sektor kesehatan. Menjawab tantangan tersebut, pakar lingkungan dan teknologi dari Asian Institute of Technology (AIT), Thailand, Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, B.Tech., M.Engg., PhD, mengajak sivitas akademika dan praktisi kesehatan untuk mulai menerapkan prinsip ekonomi sirkular (circular economy) dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan dan kedokteran gigi.
Dalam seminar internasional yang diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan tenaga kesehatan tersebut, Prof. Chettiyappan menjelaskan bahwa keberlanjutan di sektor kesehatan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa proses pelayanan tersebut tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.
Menurutnya, sektor kesehatan merupakan salah satu sektor yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar, terutama limbah plastik dari alat kesehatan sekali pakai, kemasan medis, dan berbagai peralatan steril. Penggunaan material sekali pakai bahkan meningkat tajam sejak pandemi COVID-19 karena tingginya kebutuhan terhadap standar keamanan dan pencegahan infeksi. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru dalam pengelolaan limbah medis di berbagai negara.
Prof. Chettiyappan menuturkan bahwa sebagian besar material yang digunakan dalam sektor kesehatan sebenarnya masih memiliki nilai guna dan potensi untuk dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Namun, karena adanya regulasi dan standar keamanan yang ketat, material tersebut tidak dapat digunakan kembali secara langsung sebagai alat kesehatan. Sebagai alternatif, material plastik tersebut dapat diproses dan dimanfaatkan menjadi produk lain di sektor nonmedis sehingga tetap memberikan nilai ekonomi dan mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan.
Ia juga menjelaskan bahwa konsep ekonomi sirkular tidak hanya berfokus pada kegiatan mendaur ulang, tetapi lebih luas lagi, yaitu bagaimana menjaga nilai suatu produk atau material agar dapat digunakan selama mungkin, mengurangi penggunaan sumber daya baru, dan meminimalkan timbulan limbah. Sejumlah institusi dan organisasi di berbagai negara telah mulai menerapkan konsep tersebut melalui inovasi dalam pengelolaan limbah, penggunaan kembali material, serta pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Dalam sesi diskusi, para peserta turut membahas peluang penerapan prinsip keberlanjutan di bidang kedokteran gigi. Berbagai topik yang diangkat antara lain pengelolaan limbah peralatan medis, penggunaan material yang lebih berkelanjutan, hingga pengembangan teknologi kesehatan yang dapat mengurangi dampak lingkungan. Menurut Prof. Chettiyappan, dunia kedokteran gigi memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam penerapan praktik kesehatan berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi lintas disiplin.
Ia juga menekankan bahwa negara berkembang, termasuk Indonesia, masih memiliki tantangan besar dalam meningkatkan akses dan pemerataan layanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Oleh karena itu, penerapan konsep keberlanjutan harus dilakukan secara bertahap dan seimbang tanpa mengesampingkan prioritas utama, yaitu menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Prof. Chettiyappan menyampaikan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mewujudkan transformasi menuju sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat menjadi pusat pengembangan inovasi, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada solusi terhadap berbagai permasalahan lingkungan. Melalui pendidikan dan kolaborasi internasional, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Di akhir sesi, ia mengajak seluruh peserta untuk mulai melakukan perubahan dari hal-hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah, serta mengembangkan inovasi yang mendukung keberlanjutan. Menurutnya, masa depan kesehatan tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi medis, tetapi juga dari kemampuan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan dan lingkungan. “Untuk orang yang lebih sehat di planet yang lebih kuat”
(Reporter: Nanda Ayu, Any & Andri Wicaksono)