News

/

Latest News

Dengarkan Murottal Al-Quran Terbukti Redakan Cemas Anak Saat Cabut Gigi

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menemukan bahwa terapi audio berupa lantunan murottal Al-Qur’an terbukti efektif meredakan rasa cemas pada pasien anak yang menjalani prosedur cabut gigi. Penurunan rasa cemas ini terpantau jelas dari melambatnya denyut nadi anak secara bertahap sejak ia duduk di kursi pemeriksaan hingga proses pencabutan selesai.  

Penelitian ini berangkat dari temuan di klinik anak RSGM UGM Prof. Soedomo mengenai tingginya angka kegagalan perawatan gigi pada anak akibat rasa takut. Pakar Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, drg. Ign. Sulistiyo Jatmiko, Sp.K.G.A., memaparkan bahwa pasien anak kerap mengalami kecemasan ketika berhadapan dengan situasi atau alat-alat asing di ruang tindakan.

“Bahkan gara-gara cemas, membuat perawatan gigi gagal dilakukan. Sehingga, mahasiswa kami melakukan studi eksperimental mendistraksi atau mengalihkan perhatian pasien anak dengan memperdengarkan murottal Al-Qur’an,” terang drg. Igna, Selasa (7/7).

Penelitian yang digagas oleh mahasiswa Program Studi Higiene Gigi, Ummi Mukarromah, melibatkan 32 pasien anak berusia 9 hingga 12 tahun yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pendengar murottal (kelompok perlakuan) dan kelompok yang tidak mendengarkan (kelompok kontrol).

Guna mendapatkan data kecemasan yang objektif, alat pengukur nadi (oksimeter) dipasangkan di jari pasien untuk merekam detak jantung pada tiga fase berurutan, yakni saat di ruang tunggu, saat mulai duduk di kursi gigi, dan sesaat ketika tang menyentuh gigi. Metode distraksi ini dilakukan secara terus-menerus dan terbukti membuat anak jauh lebih tenang.

Kelompok perlakukan diperdengarkan Murottal Al-Qur’an surah Ar-Rahman yang dilantunkan oleh Muzamil Hasballah bertempo 79,8 beat per minute (bpm). Tempo ini termasuk dalam kategori tempo lambat, mengingat tempo 79,8 bpm berada dalam rentang klinis 60 sampai 120 bpm.

Hasil eksperimen menunjukkan perbedaan yang sangat kontras antara kedua kelompok tersebut. Pada kelompok anak yang diperdengarkan murottal, rata-rata denyut nadi mereka secara konsisten turun dari 89,69 denyut per menit (bpm) saat di ruang tunggu, menjadi 80,44 bpm di kursi gigi, dan semakin rileks di angka 78,25 bpm sewaktu tindakan berlangsung. Sebaliknya, minimnya pengalihan perhatian pada kelompok kontrol justru memicu lonjakan detak jantung dari 86,13 bpm menjadi 95,69 bpm pada titik paling mendebarkan.

Mekanisme penurunan denyut nadi ini berkaitan erat dengan respons sistem saraf terhadap rangsangan suara. Secara fisiologis, ritme lambat yang dihasilkan dari audio tersebut mampu merangsang otak untuk menekan produksi hormon penyebab stres (adrenalin), dan sebaliknya memicu pelepasan hormon endorfin yang membuat tubuh merasa nyaman. Keberhasilan metode ini dinilai dapat menjadi solusi praktis bagi dokter gigi.

“Ke depan anak-anak yang memang berpotensi takut, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan distraksi,” pungkas drg. Igna.

Author: Fajar Budi Harsakti
Photo: FKG UGM Public Relations Documentation

Judul Penelitian: Pengaruh distraksi murottal Al-Qur’an terhadap denyut nadi anak selama prosedur ekstraksi gigi: studi quasi-eksperimental

Tags

Share News

Related News
9 July 2026

Prof. Dr. Chettiyappan Visvanathan, Tekankan Pentingnya Economy Circular di Sektor Kesehatan

9 July 2026

Minyak Zaitun Berozon, Senjata Baru Melawan Kerusakan Tulang Akibat Radang Gusi

9 July 2026

Transformasi Radiologi Kedokteran Gigi Digital, Wujudkan Kedokteran Gigi Berkelanjutan

en_US