Berbicara di depan kelas menjadi aktivitas sehari-hari bagi seorang guru. Namun, kehilangan gigi membuat sebagian guru merasa kurang nyaman saat mengajar maupun berinteraksi dengan siswa.
Rudi Hartanto, Guru SMAN 3 Yogyakarta, merasakan kondisi tersebut. Ia mengaku beberapa giginya mudah kropos dan ada yang telah hilang. Saat mengikuti pemeriksaan kesehatan gigi dalam program “Balikin Senyum Guru Indonesia”, dokter gigi menemukan masih ada sisa akar gigi yang perlu dicabut sebelum proses pembuatan gigi tiruan dilakukan.
“Memang saya ada masalah di gigi. Ada beberapa yang hilang juga,” ujar Rudi saat ditemui di sela kegiatan, Senin (26/5).
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bekerja sama dengan PT Haleon menggelar pemeriksaan kesehatan gigi bagi guru-guru di wilayah Kota Yogyakarta. Program tersebut menjadi tahap awal sebelum para guru menjalani proses pembuatan gigi tiruan.
Bagi Rudi, kegiatan seperti ini masih jarang ditemui. Ia mengatakan layanan kesehatan sering diberikan kepada guru, tetapi program yang fokus pada pembuatan gigi tiruan belum banyak tersedia.
“Kalau pemeriksaan kesehatan umum mungkin sering, tapi untuk gigi seperti ini saya baru pertama kali ikut,” katanya.
Guru yang hadir tidak langsung menjalani pencetakan gigi tiruan. Dokter gigi terlebih dahulu memeriksa kondisi rongga mulut masing-masing guru. Beberapa guru masih memerlukan scaling, penambalan, hingga pencabutan sisa akar gigi sebelum masuk tahap berikutnya.







Dosen sekaligus dokter gigi dari Departemen Prostodonsia FKG UGM, drg. Mohammad Fadyl Yunizar, M.PH., Ph.D, mengatakan kasus yang paling banyak ditemukan pada guru adalah karies dan karang gigi. Selain itu, beberapa guru ternyata sudah menggunakan gigi tiruan, tetapi kondisinya sudah tidak lagi optimal.
“Ada yang warna gigi tiruannya sudah berubah dan posisi gigitannya juga mulai bergeser, jadi memang perlu diperbarui,” ujarnya.
Program ini melibatkan Departemen Prostodonsia FKG UGM bersama mahasiswa profesi dokter gigi. Mahasiswa koas ikut membantu proses screening dan pemeriksaan pasien di bawah supervisi dokter.
Menurut drg. Fadyl, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa profesi. Selain mendapatkan pengalaman klinis, mahasiswa dapat bertemu langsung dengan berbagai kondisi pasien di masyarakat.
Di sisi lain, PT Haleon Indonesia melihat guru sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan besar terhadap layanan gigi tiruan. Perwakilan Haleon area Yogyakarta, Apt. Fauzia, mengatakan guru memiliki intensitas komunikasi yang tinggi saat mengajar di kelas.
“Guru setiap hari berbicara di depan murid. Kalau ada kehilangan gigi, kadang rasa percaya dirinya ikut berkurang,” ujarnya.
Melalui program ini, Haleon bersama FKG UGM menargetkan guru-guru di Kota Yogyakarta yang membutuhkan gigi tiruan. Dari sekitar 170 guru yang mendaftar, mereka akan menjalani tahapan pemeriksaan sebelum masuk proses pencetakan gigi tiruan.
Rencananya, pencetakan gigi tiruan dilakukan secara massal pada Juli 2026, sementara pemasangan dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Author: Fajar Budi Harsakti
Photo: Fajar Budi Harsakti