Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Biji Kelor Melawan Bakteri Pembandel di Saluran Akar Gigi

Natrium hipoklorit sudah lama menjadi andalan dokter gigi untuk membilas saluran akar. Ia efektif, murah, dan mudah didapat. Tapi ada harga yang harus dibayar: larutan ini bersifat toksik terhadap jaringan periapeks, menimbulkan rasa dan bau yang menyengat, dan kerap membuat pasien anak-anak tidak nyaman di kursi perawatan. Pertanyaan yang kemudian menggantung di kalangan peneliti adalah: adakah alternatif dari alam yang sama ampuhnya, namun lebih ramah?

Penelitian terbaru dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menawarkan jawaban yang mengejutkan: biji kelor.

Musuh Tersembunyi di Balik Perawatan yang Gagal

Perawatan saluran akar bukan sekadar mencabut saraf. Ia adalah prosedur berlapis yang menuntut kebersihan menyeluruh hingga ke celah-celah terkecil dalam sistem kanal. Dan justru di sanalah masalah sering bermula.

Enterococcus faecalis, bakteri Gram-positif yang terkenal bandel, kerap ditemukan bertahan hidup setelah perawatan saluran akar selesai dilakukan. Ia mampu bertahan dalam kondisi minim nutrisi dan resisten terhadap banyak obat-obatan. Studi sebelumnya mencatat bahwa dalam 24 hingga 77 persen kasus kegagalan perawatan saluran akar, bakteri inilah yang menjadi tersangka utama. Keberadaannya menghambat penyembuhan jaringan di sekitar ujung akar gigi.

Irigasi saluran akar yang efektif menjadi kunci. Dan selama ini, natrium hipoklorit 2,5% adalah standar emas yang digunakan. Tapi standar itu belum tentu yang terbaik untuk semua pasien, terutama anak-anak.

Dari Pohon Tropis ke Laboratorium

Tim peneliti yang terdiri dari Ririn Dwi Pratiwi sebagai mahasiswa pascasarjana, bersama Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. dan Rinaldi Budi Utomo dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, memilih biji Moringa oleifera sebagai subjek uji. Bukan tanpa alasan. Biji kelor diketahui mengandung senyawa aktif 4-(α-L-rhamnosyloxy) benzyl isothiocyanate, serta sejumlah senyawa fitokimia penting seperti saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi sebagai agen antimikroba.

Ekstrak etanol biji kelor dibuat melalui proses maserasi, kemudian diuji pada empat konsentrasi: 37,5%, 50%, 62,5%, dan 75%. Sebagai pembanding, digunakan natrium hipoklorit 2,5% sebagai kontrol positif dan DMSO 10% sebagai kontrol negatif. Aktivitas antibakteri diukur menggunakan metode difusi cakram kertas pada media Mueller Hinton Agar, dengan mengamati diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar cakram.

Hasilnya ditampilkan dalam angka yang berbicara sendiri.

Zona Hambat yang Tumbuh Seiring Konsentrasi

Semakin pekat ekstrak yang digunakan, semakin lebar zona bening yang terbentuk di sekitar cakram. Ekstrak 37,5% hanya menghasilkan zona hambat rata-rata 4,42 mm, masuk kategori lemah menurut klasifikasi Davis dan Stout. Konsentrasi 50% dan 62,5% menghasilkan zona hambat 7,35 mm dan 10,44 mm, keduanya masuk kategori sedang.

Yang menarik adalah konsentrasi 75%. Ia membentuk zona hambat rata-rata 13,51 mm, masuk kategori kuat. Angka ini memang masih di bawah natrium hipoklorit 2,5% yang menghasilkan zona hambat 16,38 mm, namun perbedaannya tidak menganga terlalu lebar.

“Ethanol extract of M. oleifera seeds at 37.5%, 50%, 62.5% and 75% had antibacterial effects against E. faecalis, with the 75% had the strongest antibacterial effect compared to other extract concentrations.”

Uji statistik satu arah ANOVA mengonfirmasi bahwa perbedaan antarkelompok signifikan secara statistik (p<0,001). Uji LSD lanjutan menunjukkan bahwa setiap konsentrasi berbeda bermakna satu sama lain, termasuk terhadap kontrol positif.

Mekanisme di balik efek ini sudah mulai terungkap. Senyawa 4-(α-L-rhamnosyloxy) benzyl isothiocyanate bekerja dengan merusak membran sel bakteri, menurunkan integritasnya, meningkatkan permeabilitas membran, serta mengganggu metabolisme energi dan replikasi DNA. Semakin tinggi konsentrasinya, semakin masif kerusakan yang ditimbulkan pada dinding sel bakteri.

Jalan Panjang Menuju Irigasi Alami

Penelitian ini belum mengklaim biji kelor siap menggantikan natrium hipoklorit. Masih ada syarat teknis yang harus dipenuhi: larutan irigasi yang ideal harus memiliki tegangan permukaan rendah dan laju alir tinggi agar bisa menembus tubulus dentin. Uji toksisitas terhadap jaringan periapeks juga belum dilakukan.

Namun temuan ini membuka lorong yang layak ditelusuri lebih jauh. Bahwa tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah, yang buahnya kerap masuk ke dalam sayur bening, ternyata menyimpan potensi farmakologis yang relevan untuk kedokteran gigi modern.

Bagi pasien anak yang selama ini mengeluhkan bau menyengat natrium hipoklorit, atau bagi klinisi yang mencari alternatif dengan profil toksisitas lebih rendah, riset ini adalah awal dari percakapan yang lebih panjang. Satu yang jelas: pohon kelor belum habis kejutannya.

Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.30659/odj.10.2.180-187

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Ketika Gigi Anak Bisa Bercerita Tentang Usianya

15 Juli 2026

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

15 Juli 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

id_ID