Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke Klinik Gigi Konservasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada dengan keluhan yang tidak biasa. Giginya sudah ditangani oleh dua dokter gigi berbeda, namun rasa sakit masih terus muncul. Pemeriksaan klinis mengungkap sesuatu yang mengkhawatirkan, ada bercak hitam di dasar ruang pulpa gigi geraham bawah kirinya. Itulah perforasi furkasi, sebuah lubang yang terbentuk secara tidak sengaja akibat prosedur perawatan gigi sebelumnya. Kasus inilah yang kemudian didokumentasikan oleh drg. Henytaria Fajrianti, Sp.KG bersama tim dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM dalam sebuah laporan kasus ilmiah.

Perforasi furkasi adalah komplikasi yang bisa terjadi saat dokter gigi melakukan perawatan saluran akar. Furkasi sendiri adalah area percabangan akar gigi, dan di sinilah lubang tersebut terbentuk. Bayangkan seperti atap rumah yang bocor karena proses perbaikan yang kurang tepat. Lubang ini membuka jalur buatan antara saluran akar dan jaringan di sekitar akar gigi, yang bila dibiarkan dapat memicu peradangan serius.

Pada kasus ini, foto rontgen memperlihatkan area radiolusen kecil di daerah furkasi gigi geraham kiri bawah (gigi 36). Pasien merasakan nyeri saat menggigit, meski tidak ada pembengkakan dan gigi tidak goyang. Diagnosis yang ditegakkan adalah nekrosis pulpa dengan periodontitis apikal simtomatik. Artinya, jaringan saraf di dalam gigi sudah mati dan peradangan telah merambat ke jaringan penyangga di sekitar ujung akar.

“Perforasi pada furkasi merupakan komplikasi iatrogenik yang paling sering terjadi dan dapat memperburuk prognosis perawatan saluran akar,” tulis tim peneliti dalam laporan kasus tersebut.

Istilah iatrogenik merujuk pada kondisi yang justru timbul akibat tindakan medis itu sendiri, bukan dari penyakit aslinya. Ini bukan berarti dokter lalai, melainkan risiko yang memang bisa terjadi, terutama pada gigi dengan anatomi saluran akar yang rumit dan visibilitas yang terbatas.

Tantangan utama dalam menangani perforasi furkasi adalah aksesibilitas. Lubang itu berada di posisi yang sulit dijangkau dan sulit dilihat. Tim dokter memilih pendekatan non-bedah, artinya tidak perlu membuka gusi atau melakukan operasi. Kunci keberhasilan pendekatan ini adalah penggunaan mikroskop endodontik dan material bernama Mineral Trioxide Aggregate, atau disingkat MTA.

MTA bukan material biasa. Terbuat dari partikel halus trikalcium silikat, silikon oksida, dan trikalcium oksida, material ini memiliki sifat yang jarang dimiliki bahan lain secara bersamaan, biokompatibel, bersifat antibakteri, mampu mengeras meski dalam kondisi lembap, dan yang paling istimewa, mampu merangsang pembentukan jaringan keras seperti sementum dan tulang di area yang rusak.

Proses perawatannya berlangsung dalam beberapa kunjungan. Pertama, saluran akar dibersihkan dan dibentuk menggunakan file rotari dengan teknik crown down, lalu diisi dengan medikamen kalsium hidroksida selama seminggu. Setelah gigi bebas gejala, saluran akar diirigasi dengan larutan natrium hipoklorit 2,5%, EDTA 17%, dan klorheksidin 2%, kemudian dilakukan obturasi menggunakan sealer berbahan resin epoksi dengan teknik continuous wave compaction.

Tahap paling kritis adalah penutupan perforasi. Di bawah pembesaran mikroskop endodontik, area perforasi dibersihkan, lalu MTA ditempatkan tepat di atas lubang menggunakan alat khusus hingga tertutup rapat. Kapas lembap diletakkan di ruang pulpa agar MTA mengeras secara optimal, dan gigi ditutup sementara.

Setelah MTA mengeras sempurna, pekerjaan belum selesai. Gigi yang telah menjalani perawatan saluran akar kehilangan banyak struktur, sehingga rentan retak jika tidak direstorasi dengan baik. Di sinilah komposit bulk-fill dan komposit diperkuat serat digunakan untuk mengganti struktur dentin yang hilang.

Restorasi akhir yang dipilih adalah onlay komposit dengan teknik semi-direk. Teknik ini menjadi solusi cerdas karena menggabungkan keunggulan dua metode sekaligus. Onlay dibuat di atas cetakan silikon di luar mulut pasien, sehingga penyusutan polimerisasi terjadi sebelum pemasangan. Hasilnya, adaptasi tepi lebih baik, risiko kebocoran mikro lebih kecil, dan kekuatan restorasi meningkat. Dibanding teknik indirect yang memerlukan laboratorium, teknik semi-direk lebih hemat biaya dan bisa selesai dalam satu kunjungan tambahan.

Hasil akhir perawatan menunjukkan keberhasilan. Gigi bebas gejala, tidak ada pembengkakan, dan gambaran radiografis memperlihatkan penutupan perforasi yang rapat. Laporan kasus ini menegaskan bahwa perforasi furkasi yang tampak menakutkan sekalipun dapat ditangani secara konservatif, tanpa harus melalui prosedur bedah yang lebih invasif.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : pixabay

Sumber DOI : https://doi.org/10.22146/teknosains.111732

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

id_ID