Bukan obat kimia mahal. Bukan teknologi mutakhir dari laboratorium Eropa. Yang diuji kali ini adalah biji ketumbar — rempah yang selama ini lebih akrab dengan aroma masakan dapur — sebagai kandidat terapi gingivitis. Dan hasilnya mengejutkan: gel ekstrak biji ketumbar 8% ternyata bekerja setara dengan klorheksidin, obat kumur yang selama ini dianggap standar emas dalam penanganan radang gusi.
Itulah temuan utama penelitian yang diterbitkan dalam Interdental Jurnal Kedokteran Gigi edisi Agustus 2025, oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada: Devita Sanjaya, Asikin Nur, dan Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM.
Musuh Tersembunyi di Balik Gusi Merah
Gingivitis adalah peradangan gingiva — jaringan gusi yang mengelilingi gigi — dan merupakan tahap awal penyakit periodontal. Gejalanya tampak sederhana: gusi memerah, bengkak, mudah berdarah. Tapi bila dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi periodontitis yang merusak tulang alveolar secara permanen.
Penyebabnya adalah plak bakteri. Ketika plak menumpuk di area subgingival, tubuh merespons dengan mengirimkan neutrofil — pasukan pertama sistem imun — ke jaringan gusi yang terinfeksi. Neutrofil bertugas memfagositosis bakteri, namun kehadirannya yang berkepanjangan justru memperpanjang fase inflamasi. Barulah ketika neutrofil mulai surut, fibroblas mengambil alih peran: memproduksi kolagen, membangun kembali jaringan ikat, dan memulihkan gingiva.
Masalahnya, pada anak-anak, kemampuan menyikat gigi secara efektif masih terbatas. Plak sulit dikendalikan sepenuhnya secara mekanis. Klorheksidin memang efektif, tetapi pemakaian jangka panjang membawa risiko: perubahan warna gigi menjadi kekuningan-kecokelatan, erosi mukosa mulut, dan gangguan pengecapan sementara.
Di sinilah biji ketumbar (Coriandrum sativum) masuk sebagai alternatif yang menjanjikan.
Dari Dapur ke Laboratorium LPPT UGM
Tim peneliti menyiapkan gel dari fraksi etil asetat ekstrak biji ketumbar dengan konsentrasi 8%. Proses ekstraksi dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta menggunakan teknik maserasi, lalu difraksinasi dengan etil asetat untuk mengisolasi senyawa aktif utama: d-linalool. Senyawa monoterpen inilah yang menjadi bintang penelitian ini — ia hadir sebanyak 70,57% dalam ekstrak, dan dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi, antibakteri, bahkan antikanker.
Tiga puluh enam tikus Wistar jantan dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok gel ekstrak biji ketumbar 8%, kelompok gel klorheksidin (kontrol positif), dan kelompok gel plasebo. Gingivitis diinduksi dengan mengikat benang silk ligatur di area subgingival gigi insisivus bawah selama tujuh hari. Setelah peradangan terbentuk, gel diaplikasikan dua kali sehari sebanyak 0,05 ml per aplikasi.
Pengamatan histologis dilakukan pada hari ke-1, 3, 5, dan 7. Jaringan gingiva diwarnai dengan Hematoxylin-Eosin dan diamati di bawah mikroskop Optilab dengan pembesaran 400 kali. Yang dihitung: jumlah neutrofil (penanda inflamasi) dan fibroblas (penanda penyembuhan).
Angka yang Bicara Sendiri
Pada hari pertama, semua kelompok menunjukkan puncak infiltrasi neutrofil — kondisi yang mencerminkan fase akut peradangan. Yang menarik terjadi mulai hari ketiga.
Di hari ke-3, persentase penurunan neutrofil pada kelompok gel ekstrak ketumbar mencapai 45,43%, lebih rendah dari kelompok plasebo yang masih bertahan di 51,67%. Perbedaan ini signifikan secara statistik (p<0,05). Artinya, gel ketumbar lebih cepat meredam respons inflamasi dibanding tanpa perlakuan aktif.
Sisi lain dari pemulihan — peningkatan fibroblas — juga memberikan gambaran serupa. Pada hari ke-5, persentase peningkatan fibroblas di kelompok ketumbar mencapai 5.410%, jauh melampaui kelompok plasebo yang hanya 4.470%. Pada hari ke-7, angka itu melonjak hingga 8.463,33% di kelompok ketumbar, dibanding 7.953,33% di kelompok plasebo.
“Gel ekstrak biji ketumbar 8% secara signifikan menurunkan jumlah neutrofil dan meningkatkan jumlah fibroblas dalam proses penyembuhan gingivitis.”
Yang paling mencolok: tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok ketumbar dan kelompok klorheksidin pada seluruh hari pengamatan. Keduanya bekerja dalam jalur yang hampir identik.
Mekanisme di Balik Rempah
Mengapa d-linalool bisa bekerja sekuat klorheksidin? Jawabannya terletak pada cara senyawa ini berinteraksi dengan kaskade inflamasi. D-linalool menghambat produksi nitric oxide dengan berinteraksi pada enzim Nitric Oxide Synthase (NOS), tanpa mengurangi sintesis enzim itu sendiri. Nitric oxide adalah mediator kunci yang mengatur vasodilatasi, pembentukan edema, dan rekrutmen sel imun di lokasi inflamasi.
Lebih dari itu, d-linalool juga menekan jalur proinflamasi melalui penghambatan NF-κB, TNF-α, IL-6, dan IL-1β — deretan sitokin yang bertanggung jawab memperpanjang dan memperparah peradangan. Ketika jalur ini ditekan, neutrofil lebih cepat surut, dan fibroblas lebih leluasa bermigrasi untuk memulai fase proliferasi.
Di sisi antibakteri, d-linalool merusak membran sel bakteri — baik gram positif maupun gram negatif — hingga menyebabkan kematian bakteri. Berkurangnya beban bakteri berarti berkurangnya stimulus inflamasi, dan penyembuhan pun berjalan lebih cepat.
Temuan ini membuka prospek yang menarik bagi kedokteran gigi anak, di mana penggunaan agen kimia jangka panjang seperti klorheksidin perlu dipertimbangkan lebih hati-hati. Gel berbasis bahan alam dengan efikasi setara, tanpa efek samping perubahan warna gigi, bisa menjadi pilihan yang lebih ramah bagi pasien muda — asalkan penelitian lanjutan dengan parameter yang lebih beragam terus dilakukan untuk memperkuat bukti ini.
Sebuah biji kecil yang selama ini hanya dikenal sebagai bumbu, kini sedang menunggu giliran menjadi bagian dari formularium klinik.
Sumber DOI : http://10.46862/interdental.v21i2.9724
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels