Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) UGM mengungkap bahwa lebih dari separuh lansia penghuni panti wredha di Yogyakarta mengalami kondisi gusi yang buruk. Penelitian yang melibatkan 67 lansia berusia 60 tahun ke atas di Panti Tresna Wredha Abiyoso, Sleman ini menjadi salah satu upaya pemetaan mengenai kesehatan mulut pada lansia panti wreda di Indonesia. Penelitian ini melibatkan Bagas Khoiru Rizal Mahasiswa Program Studi Higiene Gigi (PSHG) FKG UGM, bersama Prayudha Benni Setiawan dosen Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, dan drg. Iffah Mardhiyah, M.Biomed dosen Departemen Konservasi Gigi.
Penelitian menggunakan Modified Gingival Index (MGI), sebuah metode pengukuran visual non-invasif (tanpa memasukan alat kedalam butuh) yang dinilai ramah untuk lansia dibanding prosedur probing konvensional. Tim peneliti menemukan bahwa 52,2% responden berada dalam kategori radang gusi yang berat.
Prayudha Benni Setiawan menyebut dari delapan variabel sosio-demografis dan klinis yang diuji, ditemukan bahwa hanya 2 variabel yang terbukti berhubungan signifikan dengan kondisi gusi, yaitu jenis kelamin dan status penggunaan gigi tiruan. Lansia perempuan tercatat memiliki kondisi gusi yang lebih sehat dibandingkan laki-laki, sebuah pola yang mencerminkan orientasi kesehatan preventif yang secara kultural lebih kuat ada pada perempuan. Data juga menunjukkan lebih dari 60% responden perempuan memiliki perilaku menjaga kebersihan mulut yang baik, melampaui laki-laki yang hanya 20%.
Sementara itu, penggunaan gigi tiruan juga terbukti memiliki hubungan kuat dengan kondisi gusi yang memburuk. Tercatat 7 dari 8 pengguna gigi tiruan mengalami peradangan gusi kategori parah, jauh lebih besar dibandingkan lansia yang tidak menggunakan gigi tiruan. “Gigi tiruan yang tidak dilepas atau dibersihkan sesuai aturan yang benar dapat menciptakan retensi plak tambahan yang memicu peradangan,” ucap Benni (6/7).
Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Salah satu temuan menarik adalah tidak ada hubungan positif antara pengetahuan, sikap, dan perilaku (Knowledge, Attitude, Practice/KAP) dengan kondisi gusi lansia. Padahal, secara teoritis, kerangka KAP meyakini bahwa pengetahuan yang baik akan membentuk sikap positif yang kemudian mendorong perilaku menjaga kesehatan mulut yang lebih baik.
Lebih lanjut Benni menjelaskan, kesenjangan ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, kemampuan lansia di panti wreda untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata kerap terhambat oleh penurunan fungsi motorik halus, ketergantungan pada tenaga pendamping, serta keterbatasan fasilitas perawatan gigi yang tersedia di panti.
Kedua, penggunaan kuesioner berbasis laporan mandiri dalam penelitian ini turut membuka peluang munculnya bias (social desirability bias), yakni kecenderungan responden menjawab sesuai norma yang dianggap baik, bukan mencerminkan kondisi sebenarnya.
Ketiga, perbedaan metode pengukuran turut berperan, mengingat Modified Gingival Index (MGI) yang digunakan bersifat sepenuhnya visual tanpa pemeriksaan/probing, berbeda dengan indeks periodontal lain yang lebih objektif.
Temuan ini mengungkap bahwa pada lansia yang tinggal di panti, kesehatan gusi mereka tidak serta merta bagus dipengaruhi oleh literasi kesehatan mulut atau perilaku individu, melainkan ada faktor lain yang lebih kompleks dan multidimensi.
Rekomendasi Program Kesehatan Gigi di Panti Wredha
Berdasarkan temuan tersebut, Benni dan tim merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menjaga kesehatan gusi lansia, khususnya di lingkungan panti wredha:
- Edukasi perawatan gigi tiruan perlu dijadikan komponen rutin dalam program kesehatan mulut, tidak hanya terbatas pada instruksi menyikat gigi semata, mengingat kuatnya asosiasi antara penggunaan gigi tiruan yang tidak dirawat dengan baik dan peradangan gusi.
- Perlu ada program intervensi yang lebih intensif dan tertarget bagi lansia laki-laki, mengingat kesenjangan perilaku mulut yang cukup lebar dibandingkan lansia perempuan.
- Dukungan terhadap kemandirian fungsional lansia, termasuk bantuan tenaga pendamping dalam praktik kebersihan mulut sehari-hari, dinilai lebih penting daripada sekadar transfer pengetahuan semata.
- Pendekatan promotif-preventif kesehatan gusi pada lansia institusional perlu dirancang secara multifaktor, dengan mempertimbangkan aspek fungsional, klinis, dan diferensiasi program berdasarkan jenis kelamin, bukan hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan.
Judul Penelitian: Profil kesehatan gingiva dan determinannya pada lansia panti wredha di Yogyakarta
Kontributor: Prayudha Benni Setiawan, S.Kp.G., M.P.H.
Penyunting Naskah: Fajar Budi Harsakti
Foto: Magnific