Menandatangani puluhan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ternyata tidak lagi cukup untuk mengangkat reputasi sebuah universitas. Kini, yang dipertaruhkan adalah seberapa besar kerja sama itu melahirkan inovasi, publikasi, pertukaran mahasiswa, hingga pengakuan internasional. Kesadaran itulah yang mewarnai pertemuan Direktorat Kemitraan &Relasi Global UGM dengan FKG UGM, ketika seluruh pemangku kepentingan membedah satu persoalan yang sama, bagaimana mengubah dokumen PKS menjadi dampak nyata?
Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam roadshow Direktorat Kemitraan & Relasi Global (DKRG) UGM ke FKG UGM. Selama hampir sehari, pimpinan universitas, pengelola kerja sama, dan para ketua program studi membedah persoalan yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan dokumen memorandum kerja sama, mulai dari kualitas luaran, mobilitas internasional, hingga lemahnya integrasi data.

Sekretaris DKRG UGM, Prof. Suherman, S.Si., M.Sc., Ph.D., sejak awal menepis anggapan bahwa forum tersebut merupakan ajang penilaian terhadap fakultas.
“Ini bukan rapotan. Kami ingin mendiskusikan bersama bagaimana aktivitas kerja sama dapat dioptimalkan. Apa yang menjadi kendala di fakultas, itulah yang ingin kami bantu selesaikan,” ujarnya.
Pernyataan itu menandai perubahan pendekatan yang sedang ditempuh UGM. Kerja sama tidak lagi dipandang sebagai urusan administratif yang selesai ketika sebuah nota kesepahaman ditandatangani. Kini, setiap kemitraan dituntut menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Perubahan tersebut muncul seiring bergesernya indikator kinerja perguruan tinggi. Bila sebelumnya keberhasilan banyak diukur dari jumlah MoU atau Perjanjian Kerja Sama (PKS), kini yang dinilai adalah luaran nyata yang lahir dari setiap kolaborasi, mulai dari publikasi ilmiah, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga mobilitas mahasiswa dan dosen.
Perubahan indikator itu memaksa perguruan tinggi mengubah cara berpikir. Dokumen kerja sama tidak lagi menjadi tujuan, melainkan hanya pintu masuk bagi kolaborasi yang lebih produktif.
Dalam paparannya, tim DKRG menunjukkan bahwa capaian kerja sama UGM secara umum sedang menghadapi tantangan. Jumlah dokumen kerja sama maupun nilai pendanaan kerja sama mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik penurunan itu, tersimpan potensi yang belum sepenuhnya tercatat karena banyak aktivitas belum terdokumentasi dalam sistem pelaporan universitas.
Masalah berikutnya justru berada pada hal yang tampak sederhana: pemutakhiran data.

Bagi Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama FKG UGM, drg. Trianna Wahyu Utami, M.D.Sc., Ph.D., persoalan itu bukan sekadar masalah administrasi.
“Kami ingin mengembangkan dashboard sendiri agar data di fakultas dan universitas dapat sinkron. Dengan begitu kebutuhan akreditasi, pelaporan, hingga evaluasi dapat dipenuhi secara lebih akurat,” katanya.
Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari tim DRKG UGM. FKG dipersilakan mengembangkan sistem informasi sesuai kebutuhannya, selama tetap dapat terhubung dengan sistem universitas sehingga tidak terjadi penginputan data berulang.
Persoalan data menjadi penting karena hampir seluruh indikator pemeringkatan internasional bertumpu pada akurasi informasi yang dilaporkan.

Direktur Kemitraan & Relasi Global UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., mengingatkan bahwa tantangan terbesar UGM saat ini berada pada indikator International Outlook dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE). Menurut dia, reputasi internasional tidak cukup dibangun melalui banyaknya kerja sama luar negeri.
Yang lebih menentukan adalah seberapa dalam kualitas kolaborasi. Kolaborasi riset dengan peneliti asing, keterlibatan dosen internasional, mahasiswa asing, hingga publikasi bersama menjadi indikator yang dinilai secara ketat dalam pemeringkatan dunia.
“International staff, international students, dan kolaborasi publikasi internasional harus terus diperkuat. Co-authorship dengan peneliti luar negeri menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan reputasi global,” ujar Prof. Puji.

Diskusi juga menyoroti semakin besarnya kebutuhan memperluas mobilitas mahasiswa. Sejumlah program studi mengusulkan kerja sama baru dengan berbagai perguruan tinggi dunia, termasuk Hiroshima University, Peking University, University of Malaya, hingga Mahidol University. Program yang dirancang tidak lagi sebatas kunjungan akademik, tetapi juga student exchange, riset bersama, dan pembimbingan internasional bagi mahasiswa pascasarjana.
Di sisi lain, persoalan klasik seperti beasiswa, asrama mahasiswa internasional, pengakuan kredit akademik, hingga skema pendanaan bersama melalui LPDP juga menjadi bagian dari pembahasan. Bagi para ketua program studi, keberhasilan internasionalisasi tidak hanya ditentukan oleh jaringan kerja sama, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukungnya.
Menariknya, di tengah berbagai tantangan tersebut, FKG UGM justru mencatat meningkatnya antusiasme program studi dalam membangun kemitraan baru. drg. Trianna menggambarkan fenomena itu.
“Yang menggembirakan adalah kesadaran program studi untuk melaksanakan kegiatan berbasis PKS sudah cukup tinggi. Hampir setiap ada kegiatan, selalu diawali dengan permintaan penyusunan PKS,” ujarnya.

Fenomena itu menjadi sinyal bahwa budaya kolaborasi mulai tumbuh. Tantangannya kini bukan lagi mendorong dosen atau program studi untuk bekerja sama, melainkan memastikan setiap kerja sama menghasilkan luaran yang benar-benar memberi dampak.
Di tengah persaingan perguruan tinggi dunia yang semakin ketat, FKG UGM memperlihatkan bahwa reputasi internasional tidak dibangun melalui seremoni penandatanganan nota kesepahaman. Reputasi lahir dari data yang tertata, kolaborasi yang produktif, publikasi yang berkualitas, serta keberanian mengevaluasi institusi secara terbuka.
(Reporter & Fotografer: Zahra, Nanda, Andri Wicaksono)