Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, peran kehumasan di perguruan tinggi memuliki peran sentral dalam menjaga citra institusi, salah satunya melalui pemberitaan ataupun siaran pers. Tidak lagi sekadar menyampaikan agenda kegiatan fakultas maupun universitas, humas dituntut mampu mengolah informasi menjadi narasi jurnalistik yang bernilai publik, akurat, berdampak luas.
Hal ini mengemuka dalam workshop jurnalistik yang diselenggarakan oleh Biro Transformasi Digital UGM yang menghadirkan pembicara Kepala Biro Harian Kompas Jateng-DIY, Haris Firdaus yang menekankan pentingnya pendekatan jurnalistik dalam komunikasi institusi berbasis laman resmi institusi.
“Tidak semua informasi layak menjadi berita. Ada parameter dan nilai yang harus dipenuhi agar sebuah informasi menarik dan relevan bagi publik,” paparnya.
Dari Informasi ke Berita: Proses yang Tidak Sederhana
Dalam praktik jurnalistik, informasi mentah harus melalui proses panjang: verifikasi, konfirmasi silang, hingga penyuntingan. Bahkan di media besar, satu berita bisa melewati tiga hingga empat tahap pemeriksaan sebelum dipublikasikan.
“Jangan sampai satu orang menulis berita lalu langsung dipublikasikan tanpa pengecekan. Risiko kesalahan sangat besar, apalagi jika membawa nama institusi,” tegasnya.
Ia menambahkan, kesalahan dalam publikasi institusi bukan hanya berdampak internal, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi luas ketika dikutip oleh media.
“Media bisa saja mengutip dari website resmi. Jika ada kesalahan, proses klarifikasi atau ralat itu tidak mudah,” ungkapnya.
Nilai Berita dan Kepentingan Publik
Pelatihan ini juga menyoroti pentingnya news value. Informasi internal kampus tidak serta-merta menarik bagi publik jika tidak dikaitkan dengan isu yang lebih luas.
Misalnya, pembangunan fasilitas kampus tidak cukup dilaporkan sebagai kegiatan rutin. Namun harus dikaitkan dengan isu seperti keberlanjutan, energi terbarukan, atau dampaknya bagi masyarakat.
“Kalau hanya melaporkan kegiatan internal, orang luar tidak akan tertarik. Tapi kalau dikaitkan dengan kepentingan publik, itu menjadi berita,” jelasnya.
Dominasi Straight News dan Disiplin 5W1H
Mayoritas produk humas masih berupa straight news, berita langsung yang singkat, padat, dan jelas. Dalam konteks ini, prinsip 5W1H menjadi fondasi utama.
“Minimal 4W: what, who, when, where itu tidak boleh hilang. Itu adalah dasar,” katanya.
Selain itu, teknik piramida terbalik ditekankan sebagai struktur utama penulisan, di mana informasi paling penting ditempatkan di awal.
Antara Siaran Pers dan Berita: Batas yang Kian Kabur
Fenomena menarik muncul ketika produk humas kini kerap diperlakukan seperti berita oleh media. Batas antara siaran pers dan produk jurnalistik menjadi semakin tipis.
“Siaran pers adalah pernyataan institusi, sementara berita adalah hasil aktivitas jurnalistik. Tapi sekarang sering kali keduanya bercampur,” jelas narasumber.
Ia menekankan pentingnya kutipan narasumber dalam berita untuk menjaga kredibilitas.
“Dalam berita, yang berbicara adalah individu, bukan institusi. Kutipan harus jelas sumbernya,” tegasnya.
Strategi Menghadapi Banjir Informasi
Dalam era digital, media tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga dengan platform seperti media sosial.
“Kami bersaing dengan TikTok, Instagram, bahkan Twitter. Semua itu merebut perhatian audiens,” ungkapnya.
Karena itu, humas didorong untuk tidak pasif menunggu agenda, tetapi aktif merespons isu yang sedang berkembang.
“Kalau ada isu besar, segera cari relevansinya dengan keilmuan di kampus. Wawancarai dosen, angkat perspektif akademik,” sarannya.
Memperkenalkan Pakar Melalui Narasi
Salah satu strategi efektif adalah memperkenalkan dosen sebagai pakar melalui media.
“Saya mengenal beberapa ahli justru dari rilis humas. Setelah itu, mereka menjadi rujukan media,” katanya.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat keilmuan di ruang publik.
AI Memasuki Ruang Redaksi Humas
Transformasi digital juga menjadi sorotan, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan dalam proses penulisan berita.
UGM memperkenalkan sistem berbasis AI yang membantu humas menyusun draft berita, mengelola struktur, hingga mengkategorikan konten berdasarkan SDGs.
“AI itu membantu, tapi tidak menggantikan manusia. Ia tidak punya intuisi,” tegas narasumber lain dalam sesi tersebut.
Sistem ini memungkinkan penulis menghasilkan dua versi artikel secara cepat, sekaligus membantu mempercepat proses produksi konten.
“Kalau kita bisa mempercepat proses, itu sudah sebuah keberhasilan,” ujarnya.
SDGs sebagai Kerangka Narasi Baru
Menariknya, setiap berita kini didorong untuk dikaitkan dengan 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs). Namun pendekatan ini lebih pada kategorisasi, bukan pembatasan.
“Apapun yang kita lakukan sebenarnya bisa dikaitkan dengan SDGs. Tinggal bagaimana kita mengemasnya,” jelasnya.
Menjaga Kredibilitas di Tengah Arus Opini
Di tengah maraknya isu sensitif dan opini publik, humas dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara narasi positif dan objektivitas.
“Terus beritakan hal baik, tapi tetap faktual dan berbasis data. Jangan reaktif, tapi juga jangan diam,” pesannya.

Jurnalistik Sebagai Basis Komunikasi Publik Suatu Institusi
Bagi Unit Humas FKG UGM, Pelatihan ini menegaskan bahwa jurnalistik bukan sekadar keterampilan teknis, tapi juga pondasi penting dalam membangun kredibilitas institusi. Dibutuhkan insan humas yang mempunyai intuisi tajam & peka dalam merasakan denyut dinamika kehidupan Fakultasnya.
Di era di mana setiap orang bisa menjadi produsen informasi, kualitas, akurasi, dan kedalaman menjadi pembeda utama.
Komunikasi yang baik bukan hanya mendukung citra positif institusi, tetapi juga memberi makna & warna bagi publik.
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos, M.I.Kom., Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)