Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Sediakan Air Minum Gratis dari Olahan Air Hujan

Kesibukan jadwal kuliah dan praktikum sering kali membuat mahasiswa lengah terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, salah satunya menjaga kecukupan cairan tubuh. Padahal, kurang minum dapat memicu dehidrasi yang berujung pada menurunnya konsentrasi dan timbulnya rasa lelah. Bagi calon dokter gigi yang membutuhkan tingkat fokus tinggi, menjaga hidrasi tubuh merupakan sebuah keharusan agar seluruh aktivitas akademik dan praktik berjalan lancar.

Memahami kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menghadirkan fasilitas air minum gratis bagi seluruh sivitas akademika. Berbeda dari penyedia air minum pada umumnya, instalasi di FKG UGM ini memanfaatkan air tadah hujan. Air hujan diolah menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) dan sinar ultraviolet (UV) untuk menghasilkan air siap konsumsi yang higienis.

Kepala Unit Sarana dan Prasarana FKG UGM, Buana Yaksa, menyebut instalasi tersebut mampu memproduksi 100 galon air minum per hari. Pihaknya telah menguji kualitas air secara langsung di Balai Besar Labkemas Yogyakarta untuk memastikan air olahan memenuhi standar kelayakan konsumsi.

“Fasilitas pengolahan air ini mulai beroperasi pada 12 Januari 2026, bertepatan dengan rangkaian Dies Natalis ke-78 FKG UGM,” ucap Buana (13/5).

Sistem instalasi menyaring air hujan melalui beberapa tahapan. Talang gedung mengalirkan air hujan menuju bak kontrol guna memisahkan partikel berat. Air kemudian masuk dan tersimpan di dalam ground tank. Instalasi melanjutkan penyaringan menggunakan filter pasir dan karbon aktif untuk memangkas kadar polutan hingga 48 persen.

Setelah itu, air melewati paparan sinar UV untuk membunuh kuman. Mesin RO bekerja dengan tekanan tinggi membuang 95 hingga 99 persen garam, mineral, bakteri, dan berbagai kontaminan lain. Hasil akhir penyaringan ini masuk ke tandon atas sebelum mengalir ke titik-titik keran air minum.

Lebih lanjut Buana mengatakan, perawatan mesin secara berkala dilakukan untuk menjaga kualitas air. “Perawatan rutin untuk mesin UV dan filter idealnya kami lakukan setiap tiga bulan sekali, namun tetap menyesuaikan dengan intensitas pemakaian,” tambahnya.

Ia juga merencanakan penambahan titik instalasi pada gedung baru FKG pada masa mendatang. Langkah ini menjadi alternatif pemenuhan air minum bagi sivitas akademika, mengingat tagihan operasional layanan air minum sebelumnya terus menunjukkan tren peningkatan.

Pakar Hidrologi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., mengonfirmasi kelayakan air hujan sebagai sumber air minum. Hasil penelitiannya pada lebih dari 50 titik menunjukkan air hujan di Indonesia memiliki pH netral dan tingkat kejernihan tinggi. “Air hujan itu murni. Kalau ditampung dengan benar lalu diolah, kualitasnya sangat aman untuk diminum,” jelas Prof. Agus.

Penyediaan air minum gratis ini turut mendorong kebiasaan penggunaan botol minum isi ulang guna menekan jumlah sampah plastik kemasan di area kampus. Kehadiran fasilitas ini mendapat tanggapan positif dari sivitas akademika. Laboran FKG UGM, Oktaviani, merasa terbantu karena lokasi instalasi air minum berada dekat dengan ruang kerjanya.

“Kalau mau minum tinggal ambil pakai tumbler. Airnya juga sejuk menyegarkan,” ucap Oktaviani.

Sementara itu Zahra, mahasiswa koas, juga rutin mengonsumsi air olahan tersebut. Ia menilai penempatan fasilitas sangat strategis karena berada di ruang terbuka tempat mahasiswa biasa mengerjakan tugas.

Penulis: Fajar Budi Harsakti
Foto: Fajar Budi Harsakti

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
12 Mei 2026

Penganugerahan Prestasi Mahasiswa FKG UGM 2025

11 Mei 2026

Prestasi Gemilang Residen KGA FKG UGM dalam Ajang Ilmiah Internasional

11 Mei 2026

SMA Negeri 3 Boyolali, Menyeduh Asa di FKG UGM

id_ID