Dari 1.191 siswa kelas lima di 45 sekolah dasar negeri Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ditemukan fakta yang mengejutkan: siswi perempuan rata-rata memiliki indeks DMF-T (Decayed, Missing, Filled Teeth) lebih tinggi dibanding siswa laki-laki, yakni 1,93 berbanding 1,56. Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan di Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) pada September 2016, diketuai Dr. drg. Sri Widiati, MPH dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGP dan KGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan mendasar: faktor apa yang paling menentukan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah dasar?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang selama ini diasumsikan.
Rajin Sikat Gigi Saja Tidak Cukup
Selama ini, pesan kesehatan gigi yang paling sering disampaikan kepada anak-anak adalah: sikat gigi dua kali sehari, kurangi makanan manis, dan rutin ke dokter gigi. Logis, terdengar benar. Namun penelitian ini menemukan sesuatu yang mengusik asumsi tersebut.
Setelah menganalisis data dari lebih dari seribu siswa menggunakan model regresi statistik, tim peneliti menemukan bahwa perilaku kesehatan gigi dan mulut, seperti kebiasaan menyikat gigi, menghindari makanan manis, serta kunjungan rutin ke dokter gigi, tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat karies gigi (DMF-T). Begitu pula dukungan keluarga, yang diukur dari sejauh mana orang tua mendorong anak memiliki sikat gigi sendiri, menyikat gigi secara teratur, dan membatasi konsumsi makanan manis.
Keduanya memang berkaitan dengan kebersihan gigi dan mulut yang diukur melalui indeks OHIS (Oral Hygiene Index Simplified), tetapi tidak berpengaruh langsung pada ada atau tidaknya gigi berlubang. Artinya, anak yang dinyatakan memiliki kebersihan mulut lebih baik belum tentu terbebas dari karies.
Ini bukan berarti menyikat gigi tidak penting. Namun ada faktor lain yang lebih besar pengaruhnya, dan faktor itu tersembunyi di balik sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan: sekolah mana anak itu bersekolah.
Sekolah Sebagai Penentu Tersembunyi
Temuan paling mencolok dari penelitian ini adalah peran sekolah sebagai prediktor konsisten untuk kedua indikator kesehatan gigi dan mulut, baik OHIS maupun DMF-T. Setelah faktor sekolah dimasukkan ke dalam model analisis, pengaruh perilaku kesehatan dan dukungan keluarga terhadap OHIS menjadi tidak signifikan. Sekolah “mengambil alih” peran variabel-variabel lain itu.
Rata-rata skor DMF-T antarsekolah bervariasi cukup jauh: dari 0,609 di SD Semarangan hingga 3,1 di SD Banyurejo. Selisih yang tidak kecil untuk siswa yang seharusnya berada dalam sistem pendidikan yang sama, di bawah naungan pemerintah yang sama.
Mengapa bisa berbeda jauh? Peneliti menduga perbedaan ini berkaitan dengan kondisi sosial-ekonomi lingkungan sekitar sekolah, termasuk keterjangkauan akses layanan kesehatan gigi, pola makan komunitas, hingga efektivitas program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang dijalankan masing-masing puskesmas mitra. Meskipun semua sekolah dalam penelitian ini berstatus negeri, kenyataannya tidak semua sekolah berada dalam lingkungan dengan kondisi sosial yang setara.
Perempuan dan Usia: Faktor Biologis yang Tak Bisa Diabaikan
Selain sekolah, jenis kelamin dan usia terbukti menjadi penentu signifikan tingkat karies. Semakin tua usia anak, semakin tinggi DMF-T-nya. Siswa perempuan secara konsisten menunjukkan pengalaman karies yang lebih tinggi dibanding siswa laki-laki.
Penjelasan ilmiahnya: gigi permanen pada perempuan umumnya erupsi lebih awal dibanding laki-laki, sehingga gigi tersebut terpapar risiko karies dalam waktu lebih lama. Selain itu, kebiasaan lebih sering mengonsumsi camilan, termasuk saat membantu menyiapkan makanan di rumah, juga disebut sebagai faktor yang berkontribusi.
Secara keseluruhan, proporsi anak bebas karies dalam penelitian ini hanya 34,8 persen. Rata-rata DMF-T seluruh peserta (1,74) bahkan lebih tinggi dari angka nasional berdasarkan Riskesdas 2013. Angka yang cukup memprihatinkan, mengingat penelitian ini dilakukan di Sleman, salah satu kabupaten dengan akses layanan kesehatan yang relatif baik di Indonesia.
Program Gigi Sekolah Perlu Lebih Tepat Sasaran
Penelitian ini tidak bermaksud menggugurkan pentingnya edukasi kesehatan gigi di sekolah. Justru sebaliknya: penelitian ini menunjukkan bahwa program berbasis sekolah perlu dirancang lebih cermat dan ditargetkan secara spesifik ke sekolah-sekolah dengan kondisi kesehatan gigi yang lebih buruk.
Pendekatan seragam untuk semua sekolah tidak akan efektif jika kondisi sosial, akses layanan, dan lingkungan sekitar sekolah berbeda-beda secara signifikan. Program seperti pemasangan sealant gigi (penutup alur gigi untuk mencegah karies) yang dilakukan secara terstruktur dan terkontrol, misalnya, terbukti lebih efektif dibanding sekadar kampanye sikat gigi massal.
Penelitian Dr. drg. Sri Widiati, MPH dan tim mengingatkan bahwa kesehatan gigi anak bukan semata soal kebiasaan individu. Ada konteks sosial yang lebih besar, dan sekolah adalah salah satu jendela paling jelas untuk melihatnya. Jika ingin menurunkan angka karies pada anak usia sekolah di Indonesia, memetakan sekolah mana yang paling membutuhkan intervensi mungkin adalah langkah pertama yang paling masuk akal.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.20473/j.djmkg.v49.i3.p163-167