Setiap kali pasien berdiri di depan mesin panoramik dan menekan dagu ke tumpuan besi itu, sinar X memutar mengelilingi kepala mereka selama sekitar 12 detik. Dosis yang diterima sangat kecil, hanya 47 mikrosievert sekali paparan. Tapi kecil bukan berarti nol. Di laboratorium Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM, para peneliti menemukan bahwa bahkan paparan sekecil itu sudah cukup memicu munculnya mikronukleus pada sel epitel gingiva pasien.
Mikronukleus adalah penanda. Ia muncul ketika kromosom di dalam sel rusak atau gagal bermigrasi dengan benar saat pembelahan. Semakin banyak mikronukleus, semakin besar tanda bahwa ada tekanan genotoksik yang sedang terjadi. Dan pertanyaan yang kemudian muncul adalah: bisakah kerusakan itu dicegah sebelum paparan dimulai?
Dari Kandang Kelinci ke Kursi Gigi
Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, dari Bagian Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM, sudah lama memikirkan jawaban itu. Penelitian disertasinya menggunakan kelinci New Zealand sebagai model awal, dan hasilnya menjanjikan: patch gingiva mukoadesif yang mengandung β-carotene terbukti mampu menekan peningkatan jumlah mikronukleus akibat paparan radiografi panoramik. Bahkan, paparan dari teknik ini tidak memicu reaksi inflamasi yang bermakna pada mukosa hewan coba.
β-carotene bukan zat asing. Ia adalah pigmen karotenoid yang ditemukan melimpah pada wortel dan sayuran berwarna oranye. Sebagai antioksidan, ia bekerja dengan cara mengikat radikal bebas melalui ikatan rangkap dalam strukturnya, sekaligus memfasilitasi komunikasi antar sel melalui mekanisme gap junction. Komunikasi itu penting: pada banyak jenis sel kanker, jalur gap junction justru melemah atau terputus.
Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah yang terbukti pada kelinci juga berlaku pada manusia?
Dua Puluh Subjek, Satu Patch, Sepuluh Hari
Penelitian klinis yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia tahun 2015 ini melibatkan 20 subjek berusia 20-25 tahun yang memang membutuhkan foto panoramik untuk keperluan diagnosis. Mereka dibagi secara acak menjadi dua kelompok: satu kelompok tidak mendapatkan apa-apa sebelum paparan, kelompok lain ditempelkan patch gingiva mukoadesif β-carotene di mukosa gingiva anterior rahang atas mereka.
Patch itu dibuat dari campuran HPMC, CMC-Na, propilen glikol, dan larutan β-carotene. Bentuknya seperti cakram kecil berdiameter 35 mm, dirancang untuk menempel dan bertahan di permukaan mukosa tanpa mudah terlepas oleh air liur.
Sepuluh hari setelah paparan, setiap subjek diambil apusan dari mukosa gingivanya menggunakan cervical brush. Sel yang terkumpul kemudian diwarnai dengan metode modifikasi Feulgen-Rossenbeck, lalu dihitung di bawah mikroskop: berapa banyak mikronukleus yang muncul?
Hasilnya menunjukkan arah yang benar. Kelompok yang memakai patch memiliki rerata peningkatan mikronukleus yang lebih rendah. Namun secara statistik, perbedaan itu belum cukup kuat untuk disebut signifikan (p>0,05).
“Aplikasi patch gingiva mukoadesif β-carotene pada mukosa gingiva manusia sudah memberikan peranan sebagai proteksi terhadap efek paparan radiografi panoramik, meskipun belum optimal karena hasil analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.”
Bertahan Lebih dari Sepuluh Jam, Tapi Ada Rasa Mengganjal
Di luar soal mikronukleus, ada dua hal lain yang diamati dalam penelitian ini: seberapa lama patch bisa bertahan di dalam mulut, dan apakah keberadaannya mengganggu kualitas gambar radiograf.
Soal daya tahan, hasilnya cukup memuaskan. Sebanyak 40% subjek melaporkan patch masih menempel lebih dari 10 jam, sementara 70% subjek mempertahankannya setidaknya lebih dari 5 jam. Desain backing layer pada patch memang dirancang untuk mencegah air masuk dari satu sisi, sehingga proses swelling yang biasanya mempercepat pelepasan bahan bisa diperlambat.
Efek samping yang dilaporkan hanya satu: rasa mengganjal di awal pemakaian. Sembilan puluh persen subjek merasakannya, tapi hampir semuanya melaporkan sensasi itu menghilang seiring waktu, setelah mulut beradaptasi dengan benda asing di gingivanya. Tidak ada keluhan panas, gatal, atau nyeri.
Yang tidak kalah penting: ketika hasil radiograf dari kedua kelompok dianalisis menggunakan software ImageJ untuk membandingkan nilai gray scale di area yang sama, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna. Patch tidak menciptakan artefak, tidak mengaburkan detail anatomi, dan tidak mengganggu interpretasi klinis. Gambaran tulang alveolar, gigi, dan jaringan sekitarnya tetap terbaca dengan jelas.
Potensi yang Menunggu Penyempurnaan
Para peneliti menduga ada dua alasan mengapa efek proteksi patch belum mencapai hasil yang signifikan secara statistik. Pertama, kadar β-carotene dalam formula sangat kecil, hanya sekitar 2,290 hingga 2,775 mikrogram per 50 mm², karena kelarutan β-carotene dalam alkohol memang sangat rendah. Kedua, aplikasi hanya dilakukan sekali, tepat sebelum paparan, sehingga mekanisme kimiawi antioksidan belum sempat bekerja secara penuh di dalam jaringan mukosa.
Solusi yang diusulkan mengarah ke dua jalur: meningkatkan frekuensi aplikasi selama 10 hari berturut-turut sebelum paparan, dan mengembangkan formulasi nanoteknologi untuk memperbesar kelarutan β-carotene tanpa mengubah sifat mukoadesifnya. Ukuran partikel skala nanometer terbukti meningkatkan difusi bahan aktif ke dalam jaringan, seperti yang sudah didemonstrasikan pada penelitian pasta gigi.
Pada akhirnya, penelitian ini bukan tentang kegagalan. Arahnya sudah tepat, dan patternnya terlihat jelas: ada penurunan mikronukleus, ada daya tahan patch yang memadai, ada kompatibilitas dengan kualitas radiograf. Yang dibutuhkan sekarang hanyalah dosis yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Untuk pasien yang harus menjalani foto panoramik berulang kali, terobosan kecil seperti ini bisa berarti lebih dari sekadar angka statistik.
Sumber DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.9121
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels