Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Pemanfaatan Cangkang Udang untuk Tingkatkan Keberhasilan Perawatan Saluran Akar

Tim peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) yang dipimpin drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG, berhasil menemukan formula baru untuk meningkatkan keberhasilan perawatan saraf gigi (saluran akar) secara signifikan dengan memanfaatkan nanopartikel kitosan dari limbah cangkang udang. Penemuan penting yang dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Indonesia edisi Agustus 2019 ini dilakukan melalui uji laboratorium terhadap 30 gigi premolar sejak sebelum tahun 2019 untuk mengatasi masalah kebocoran bakteri yang kerap memicu kegagalan perawatan. Formulasi ini bekerja dengan memanfaatkan ukuran nano dan sifat kimia kitosan yang mampu masuk dan menutup celah-celah mikroskopis di dalam pori-pori gigi yang tidak bisa dijangkau oleh bahan perekat konvensional.

Inovasi ini menjadi kabar baik bagi jutaan pasien yang menjalani perawatan saluran akar, prosedur yang kerap dianggap menakutkan, namun sesungguhnya menjadi penyelamat utama gigi agar tidak perlu dicabut.

Perawatan saluran akar bertujuan membersihkan jaringan terinfeksi di dalam saluran akar lalu menutupnya rapat-rapat agar bakteri tidak bisa masuk kembali. Proses penutupan ini disebut sebagai obturasi, dan kualitas kerapatan tambalan inilah yang sangat menentukan keberhasilan jangka panjang perawatan gigi pasien.

Namun, menutup saluran akar hingga ke ujung secara sempurna bukan perkara mudah. Bahan penutup yang paling umum digunakan saat ini, yakni gutta-percha (karet penutup khusus) yang dikombinasikan dengan bahan semen perekat (sealer) berbasis resin epoksi, terkadang masih menyisakan celah mikroskopis. Celah kecil antara bahan tambalan dan dinding gigi inilah yang sering menjadi jalur masuk bakteri, memicu kegagalan perawatan, hingga akhirnya membuat pasien harus kembali merasakan sakit dan berulang kali ke dokter gigi.

Kelemahan ini terjadi karena ukuran partikel bahan perekat standar terlalu besar, sehingga tidak bisa masuk ke dalam pori-pori kecil gigi (tubulus dentin). Selain itu, saluran akar gigi manusia adalah lingkungan yang lembab, sementara bahan semen resin yang selama ini digunakan justru bersifat hidrofobik alias menolak air. Dari sinilah ide penggunaan teknologi nano dari bahan cangkang udang muncul sebagai solusi.

Kitosan sendiri merupakan biopolimer alami yang diekstrak melalui pengolahan kitin dari cangkang hewan krustasea seperti udang dan kepiting. Dalam skala nano (ukuran yang sangat kecil), material ini memiliki sifat unik yang luar biasa untuk dunia kedokteran gigi: mudah menyatu dengan lingkungan lembab (hidrofilik), mampu membasmi kuman (antimikrobial), dan sangat aman bagi tubuh manusia (biokompatibel).

Melalui modifikasi teknologi nano, kitosan mampu mengisi celah-celah basah yang selama ini menjadi kelemahan utama bahan perekat konvensional. Hasilnya pun diukur secara objektif melalui pengujian laboratorium dan pengamatan mikroskopis yang canggih.

“Penambahan nanopartikel kitosan pada sealer resin epoksi meningkatkan kemampuan penutupan apikal bahan obturasi saluran akar,” ungkap tim peneliti dalam simpulan yang mereka tegaskan dalam publikasi ilmiahnya.

Bukan sekadar klaim, hasil uji laboratorium menunjukkan perbedaan tingkat kebocoran yang sangat mencolok. Gigi yang ditambal tanpa bahan perekat mengalami kebocoran parah hingga 14 mm. Sementara itu, kelompok gigi yang menggunakan perekat resin standar menunjukkan angka kebocoran rata-rata 2,99 mm. Hasil terbaik ditunjukkan oleh kelompok yang menggunakan tambahan nanopartikel kitosan, di mana tingkat kebocoran berhasil ditekan hingga hanya 2,01 mm saja.

Secara kimia, ukuran nanopartikel kitosan yang sangat kecil membuatnya mampu menembus jauh lebih dalam ke pori-pori gigi untuk menutup celah tersembunyi yang tidak bisa dijangkau partikel biasa. Sifat kitosan yang menyukai kelembaban justru menjadi perekat yang kuat pada dinding dalam gigi.

Meski saat ini penelitian masih bersifat in vitro (dilakukan di laboratorium menggunakan objek gigi yang sudah dicabut), inovasi dari kampus UGM ini membuka jalan yang sangat menjanjikan bagi dunia medis. Kondisi di dalam mulut pasien asli memang jauh lebih kompleks karena adanya tekanan saat mengunyah makanan dan perubahan suhu, sehingga tim peneliti masih mengagendakan riset lanjutan sebelum formulasi ini di aplikasikan secara massal di klinik.

Keunggulan utama dari riset berbasis cangkang udang ini adalah ketersediaan bahannya yang melimpah, bersifat terbarukan, ramah lingkungan, dan ekonomis. Jika produk ini nantinya siap digunakan secara luas oleh dokter gigi, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat luas. Angka kegagalan perawatan saraf gigi dapat diturunkan drastis, sehingga pasien tidak perlu melakukan tindakan bedah ulang atau pencabutan gigi yang memerlukan biaya jauh lebih mahal dan invasif.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : http://doi.org/ 10.22146/majkedgiind.40995

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

16 Juli 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

16 Juli 2026

Stent Jantung di Bawah Tuduhan: Apa yang Terjadi Saat Logam Larut dalam Darah?

id_ID