Angka 13,3 persen mungkin terdengar kecil. Tapi bagi pasien yang baru saja menjalani operasi fiksasi fraktur tulang wajah, angka itu berarti satu dari tujuh orang berpotensi mengalami infeksi pada implan logam kecil yang ditanamkan di dalam mulut mereka — sebuah miniplate titanium yang seharusnya menjadi jangkar penyembuhan.
Itulah salah satu temuan penting dari systematic review yang diterbitkan di jurnal F1000Research pada Maret 2025, hasil kerja tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Dipimpin oleh drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, penelitian ini merangkum satu dekade bukti ilmiah — dari September 2014 hingga September 2024 — tentang komplikasi yang muncul setelah pemasangan miniplate pada fraktur maksilofasial.
Tulang yang Retak, Logam yang Dipasang
Fraktur maksilofasial bukan cedera yang asing. Kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau kekerasan fisik bisa memecah tulang rahang, pipi, hingga orbit mata dalam hitungan detik. Di banyak negara, termasuk India dan Yordania, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama. Penderitanya paling banyak laki-laki berusia 21-30 tahun.
Untuk menyatukan kembali fragmen tulang yang pecah, ahli bedah mulut dan maksilofasial menggunakan miniplate — lempeng logam tipis berukuran kecil yang disekrup ke tulang. Prosedur pemasangannya membutuhkan waktu 25 hingga 30 menit, dan secara keseluruhan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun “berhasil dipasang” tidak selalu berarti “bebas masalah.”
Tim peneliti menyaring 2.289 artikel dari tiga basis data besar: PubMed, Scopus, dan Cochrane Library. Setelah proses seleksi ketat mengikuti panduan PRISMA, 56 studi akhirnya memenuhi kriteria inklusi — 28 di antaranya berdesain interventional termasuk uji klinis acak, dan 28 lainnya berupa studi observasional.
Delapan Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Dari 56 studi tersebut, komplikasi yang paling sering dilaporkan mencakup delapan kategori: infeksi, wound dehiscence (terbukanya luka operasi), maloklusi, parestesia (gangguan rasa pada kulit atau mukosa), malunion atau non-union (penyambungan tulang yang tidak sempurna), pergerakan segmen tulang, kegagalan hardware, serta miniplate yang teraba dari luar.
Infeksi menempati posisi teratas. Tingkat infeksi keseluruhan sekitar 13,3 persen, dan menjadi alasan utama pencabutan miniplate — sekitar 2,9 persen kasus dalam satu meta-analisis yang dikutip dalam paper ini. Satu studi bahkan menemukan bahwa 17,3 persen miniplate yang dipasang sebagai jangkar ortodontik mengalami infeksi, dipengaruhi oleh kedekatan implan dengan mucogingival junction dan frekuensi kebersihan gigi pasien.
Yang lebih mengkhawatirkan, identifikasi mikrobiologis menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus adalah patogen dominan pada lokasi infeksi. Temuan ini menegaskan perlunya evaluasi mikroba secara rutin, bukan sekadar pemberian antibiotik standar.
“Temuan ini menggarisbawahi perlunya pemantauan dan mitigasi risiko infeksi yang terkait dengan penggunaan miniplate.”
— drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM dkk., F1000Research, 2025
Teknologi Baru, Komplikasi Lebih Sedikit?
Di sinilah kabar yang lebih menjanjikan datang. Studi-studi yang dianalisis menunjukkan bahwa miniplate sistem 3D dan mekanisme locking dikaitkan dengan angka komplikasi yang lebih rendah dibandingkan miniplate konvensional.
Miniplate 3D meningkatkan stabilitas dan mempersingkat durasi operasi. Sebuah studi retrospektif terhadap 336 pasien menunjukkan hanya 8,03 persen mengalami komplikasi ringan, sementara komplikasi berat terjadi pada 1,49 persen kasus. Studi lain tentang miniplate cetak 3D yang dipersonalisasi untuk pasien bahkan menunjukkan presisi fiksasi yang tinggi dengan penyembuhan tulang yang efektif, tanpa fraktur material maupun eksposur plate.
Namun para peneliti mengingatkan: keunggulan teknologi baru ini belum bisa disimpulkan secara statistik. Heterogenitas antar-studi terlalu besar untuk memungkinkan meta-analisis. Demografis pasien, durasi perawatan, dan desain penelitian yang berbeda-beda membuat perbandingan langsung menjadi tantangan tersendiri.
Satu Dekade Data, Satu Langkah ke Depan
Penelitian ini merupakan bagian dari program doktoral drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM di FKG UGM, dengan dukungan pendanaan dari BPI, LPDP, dan Pusat Pelayanan Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Tim peneliti lintas departemen melibatkan Prof. Ahmad Kusumaatmaja dari Departemen Fisika UGM, drg. Maria Goreti Widiastuti dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, serta drg. Tetiana Haniastuti, Ph.D. dari Departemen Biologi Oral FKG UGM sebagai corresponding author.
Paper ini telah melalui peer review terbuka oleh tiga reviewer dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Ajman University, Uni Emirat Arab — semuanya menyetujui versi final yang terbit Maret 2025.
Bagi para klinisi, temuan ini bukan sekadar daftar risiko. Ini adalah peta navigasi: teknologi miniplate mana yang memberikan hasil lebih baik, komplikasi apa yang harus dipantau paling ketat, dan mengapa standarisasi protokol pasca-operasi masih mendesak dirumuskan. Bagi pasien yang akan menjalani operasi fraktur wajah, pemahaman bahwa pilihan jenis plate bisa memengaruhi peluang komplikasi adalah informasi yang layak mereka ketahui sebelum masuk ke ruang operasi.
Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.159017.1
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto :