Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Jejak Radiasi di Sel Gingiva: Apa yang Terjadi Setelah Foto Panoramik?

Setiap kali dokter gigi meminta pasien berdiri di depan mesin panoramik dan berkata “jangan bergerak”, berlangsung proses yang jauh lebih kompleks dari sekadar mengambil gambar. Dalam hitungan detik, sinar-X menembus jaringan lunak mulut, dan di sana, di sel-sel tipis mukosa gingiva, sesuatu mulai berubah pada tingkat molekuler.

Pertanyaan itulah yang mendorong Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, bersama tim peneliti Universitas Gadjah Mada untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi pada DNA sel gingiva setelah paparan radiografi panoramik. Hasilnya, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi September 2013, mengungkap korelasi yang bermakna antara dua penanda kerusakan genetik: mikronukleus dan ekspresi 8-oxo-dG.

Dua Penanda, Satu Cerita Kerusakan

Untuk memahami temuan ini, perlu dikenali dua aktor utamanya.

Pertama, mikronukleus. Ini adalah fragmen kecil materi genetik yang terpisah dari inti sel utama akibat kerusakan kromosom. Keberadaannya bukan sekadar anomali struktural. Para ilmuwan menggunakannya sebagai biomarker tahap dini karsinogenesis, sinyal bahwa kromosom dalam sel telah mengalami kerusakan yang cukup serius.

Kedua, 8-hydroxy-2-deoxyguanosine, atau disingkat 8-oxo-dG. Senyawa ini terbentuk ketika radikal bebas hasil ionisasi sinar-X menyerang basa guanin pada rantai DNA, membentuk apa yang disebut DNA adduct. Secara sederhana, ini adalah “sidik jari kimia” dari kerusakan oksidatif pada DNA.

Yang menarik, kedua penanda ini belum pernah dikaji secara bersamaan dalam konteks paparan radiografi panoramik sebelum penelitian ini dilakukan.

Kelinci, Sinar-X, dan Sembilan Hari Pengamatan

Tim peneliti menggunakan 12 ekor kelinci New Zealand jantan berusia enam bulan sebagai subjek. Hewan-hewan ini dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan waktu pengamatan: hari ke-0 (segera setelah paparan), hari ke-3, hari ke-6, dan hari ke-9.

Setiap kelinci dipapar radiografi panoramik menggunakan mesin Yoshida Panoura dengan dosis 80 kVp, 8 mA, selama 12 detik, menghasilkan laju dosis 47 μSv. Angka ini setara dengan dosis yang lazim digunakan pada manusia dalam praktik klinis sehari-hari.

Usapan mukosa gingiva anterior rahang bawah diambil sebelum dan sesudah paparan untuk menghitung jumlah mikronukleus menggunakan pewarnaan modifikasi Feulgen-Rossenbeck. Sementara itu, potongan jaringan gingiva dianalisis dengan imunohistokimia untuk mendeteksi ekspresi 8-oxo-dG.

Hasilnya cukup mengejutkan. Jumlah mikronukleus terus meningkat dari hari ke hari, dan mencapai puncaknya pada hari ke-9. Ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa periode turnover sel epitel gingiva berlangsung antara hari ke-7 hingga ke-16, sehingga hari ke-9 dan ke-10 adalah waktu paling tepat untuk mendeteksi mikronukleus.

Di sisi lain, ekspresi 8-oxo-dG justru menunjukkan pola sebaliknya. Sesaat setelah paparan, ekspresi 8-oxo-dG tampak paling kuat dan meluas. Namun seiring berjalannya hari, intensitas warnanya memudar dan area yang terdeteksi positif semakin menyempit. Pada hari ke-9, hanya sekitar 10% area yang masih menunjukkan ekspresi.

Korelasi Negatif yang Justru Bermakna Positif

Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan yang signifikan antara peningkatan jumlah mikronukleus dan penurunan skor ekspresi 8-oxo-dG, dengan nilai r = -0,658 dan p = 0,020. Korelasi negatif ini, alih-alih membingungkan, justru masuk akal secara biologis.

“Munculnya mikronukleus pada epitel gingiva dapat terdeteksi setelah sel mengalami pengelupasan pada beberapa hari setelah paparan, sementara ekspresi DNA adduct yang diwakili oleh ekspresi 8-oxo-dG akan mengalami penurunan karena adanya kemampuan fisiologis tubuh dalam mengeliminasi kerusakan yang terjadi jika paparan mutagen dihentikan.”

Tubuh, ternyata, tidak diam saja. Mekanisme base excision repair (BER) bekerja secara aktif untuk memperbaiki lesi tunggal pada basa DNA, termasuk 8-oxo-dG. Sementara BER membersihkan jejak kerusakan oksidatif, mikronukleus yang sudah terbentuk tetap bertahan selama satu hingga dua siklus pembelahan sel. Inilah yang menjelaskan mengapa kedua penanda bergerak ke arah berlawanan dalam rentang waktu yang sama.

Proteksi Radiasi Bukan Sekadar Formalitas

Temuan ini membawa implikasi klinis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Meski paparan tunggal radiografi panoramik menggunakan dosis klinis standar, efek genotoksik tetap terdeteksi pada sel-sel gingiva. Kerusakan DNA yang terjadi, meskipun sebagian dapat diperbaiki oleh mekanisme tubuh, membuka potensi mutasi genetik yang memicu proses karsinogenesis jika paparan berlangsung berulang tanpa indikasi yang jelas.

Penelitian ini juga membuka jalan untuk eksplorasi lebih lanjut: penggunaan antioksidan sebagai agen radioprotektor untuk meredam peningkatan reactive oxygen species (ROS) akibat radiasi pengion. Sebuah strategi yang, jika terbukti efektif, bisa mengubah cara kita berpikir tentang persiapan dan tindak lanjut pasien yang menjalani pemeriksaan radiografis berulang.

Foto panoramik memang alat diagnostik yang andal dan tak tergantikan dalam kedokteran gigi. Namun di balik gambar tulang rahang yang jernih itu, ada percakapan senyap yang berlangsung di dalam sel, antara radiasi, DNA, dan mekanisme pertahanan tubuh yang bekerja tanpa kita sadari.

Sumber DOI : https://doi.org/10.20473/j.djmkg.v46.i3.p119-123

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Juli 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 Juli 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 Juli 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

id_ID